Universitas Airlangga Official Website

PUSPAS UNAIR Selenggarakan Webinar Kritisi Pengadaan Ibu Kota Baru Indonesia

UNAIR NEWS – Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) Universitas Airlangga menyelenggarakan Webinar Ibu Kota Baru dan Alternatif Investasi pada Jumat (17/02/2023) melalui Zoom meeting. Web seminar itu mengundang narasumber senior lecture Universitas Sultan Zainal Abidin Malayasia. Kegiatan bertajuk moving capital city and geopolitics of Indonesia itu disambut antusias oleh seluruh peserta.

“Ada beberapa alasan pemindahan ibu kota Indonesia, di antaranya mengatasi ketimpangan dan meringankan sebagian beban di Jakarta dan Pulau Jawa, mengurangi kepadatan Pulau Jawa yang merupakan tempat tinggal dari 60 persen populasi negara, dan mendayagunakan lokasi Kalimantan yang memiliki luas empat kali lipat lebih besar dari lokasi Jakarta,” ujar narasumber tersebut di awal pemaparan.

Kepada UNAIR NEWS narasumber menyampaikan bahwa pemindahan ibu kota ini merupakan hal yang sangat normal dari kehidupan politik sejalan dengan pernyataan Vadim Rossman pada tahun 2017. Berdasarkan perkembangan dunia saat ini, telah ditemukan lebih dari 40 negara mempertimbangkan relokasi kursi pemerintahannya dan selama 100 tahun belakangan terdapat 30 negara yang melakukan pemindahan ibu kota negaranya masing-masing.

“Implementasi pemindahan ibu kota ini juga sejalan dengan tindakan Amerika Serikat yang sudah mengganti ibu kotanya sebanyak sembilan kali dalam perkembangannya. Adapun wilayah yang pernah menjadi ibu kota Amerika Serikat tersebut diantaranya Philadelphia, Baltimore, Lancaster, York Pennsylvania, Princeton, Annapolis, Trenton, New York, dan Washington D.C,” imbuh dosen Malaysia tersebut.

“Geopolitik Indonesia merupakan interaksi antara geografi, kekuasaan, politik, dan hubungan internasinal dalam mengedepankan pertimbangan lokasi, konteks lingkungan, perspektif territorial, dan asumsi spasial. Tentunya Indonesia yang berani mengambil tindakan pemindahan ibu kota ini akan menyaingi Putrajaya Malaysia yang sudah melakukan relokasi ibu kota negara terlebih dahulu,” tambah narasumber ini.

“Tujuan pemindahan ibukota ini lebih luas dari pada sekedar memuaskan keinginan pribadi oleh oknum tertentu. Pemindahan ini dimaksudan untuk menyusun kembali hubungan berbagai daerah dan kelompok etnis serta agama, meningkatkan konetivitas geopolitik dengan mega-region global yang penting, menciptakan saluran pengaruh ke negara tetangga, dan memberikan stimulus ke negara terbelakang,” ujar senior lecture di akhir penyampaiannya. (*)

Penulis: Afan Alfayad

Editor: Binti Q. Masruroh