UNAIR NEWS – UKM Airlangga Debate Society (ADS) berhasil meraih juara 2 dalam kompetisi British Parliamentary English Debate Competition (BAWOR). Tak hanya itu, gelar Best Varsity Speaker juga diperoleh dalam event nasional yang berlangsung 11-14 Mei di Universitas Surabaya (UBAYA).
Kompetisi nasional kategori novice yang terbuka untuk SMA dan universitas ini diikui oleh Devi Salsabila (Ilmu Hukum) dan Olivia Firsta Flora Cantika (Hubungan Internasional) sebagai debaters, dan Gadis Alif Widyaningrum (Manajemen) sebagai N1 adjudicator atu perwakilan yang disertakan untuk melakukan akreditasi menjadi juri.
“Posisi adjudicator ini sangat penting karena tanpanya tidak bisa lolos babak eliminasi,” jelas Devi.
Devi menambahkan, kompetisi debat ini sebagai batu loncatan untuk kompetisi berikutnya di bulan Agustus mendatang, yaitu NUDC (National University Debating Championship) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti).
Devi mengaku, awalnya, ia dan tim sempat ragu untuk mengikuti lomba debat ini. “Kami sudah 2 minggu berturut-turut mengikuti kompetisi. Sebenarnya ingin istirahat sebentar. Tetapi dorongan pelatih membuat kami mengikuti BAWOR ini,” tuturnya.
Sebelum kompetisi, lanjut Devi, tidak ada persiapan khusus. Persiapan telah dilakukan secara intensif sejak bulan Maret 2018 untuk persiapan serentetan lomba lainnya.
Latihan intensif sejak Maret itu dilakukan dengan praktik debat langsung. Dimana, lawannya bisa senior di UKM, mahasiswa universitas lain, serta memanggil coach debaters yang berpengalaman. Dalam kompetisi ini, coach yang membantu mereka adalah Rizqi, alumni Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada.
“Latihan kami termasuk update berita rutin di beberapa website. Mengingat, topik lomba debat yang luas. Kesulitan yang kami alami saat persiapan adalah penyesuaian jadwal bertemu, serta beban mental dalam perlombaan,” terangnya.
Meski begitu, 4 babak preliminary dari sekitar 30 tim jadi 8 tim, hingga final, kompetisi berjalan cukup kondusif. Menurut Devi, tidak ada keadaan signifikan yang mempengaruhi performa saat itu.
Di awal, ekspektasi tidak terlalu tinggi. Tapi faktanya, mereka berhasil sampai pada babak final hingga akhirnya mendapatkan juara 2. Hal tersebut sangat berkesan dan menyenangkan bagi mereka.
Rencana selanjutnya yaitu melakukan serangkaian pelatihan dan lomba lainnya untuk event Agustus mendatang. UNAIR sebagai perwakilan dari kopertis 7 sudah masuk seleksi pada awal Mei lalu.
“Tentu kami tidak cepat puas, terus berlatih, dan belajar dari kesalahan. Serta, evaluasi pasca kompetisi sehingga kekurangan bisa diatasi,” terang Devi. (*)
Penulis : Hilmi Putra Pradana
Editor : Binti Q. Masruroh





