UNAIR NEWS – Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih peringkat 28 dalam Sustainable Development Goals atau SDGs point 14. Seluruh civitas akademika FKP UNAIR, mulai dari dosen, mahasiswa hingga tenaga kependidikan ikut terlibat dalam tercapainya SDGs 14. Melalui berbagai program unggulan yang berbasis riset, inovasi, serta pengabdian masyarakat, FPK UNAIR berkomitmen menjaga ekosistem laut yang berkelanjutan.
Dosen FPK UNAIR, Ayu Lana Nafisyah SPi MSc PhD turut membuka perbincangan dalam proses pencapaian SDGs 14. “Beberapa diantaranya berbentuk kegiatan pendampingan dan pengabdian kepada masyarakat, umumnya pembudidaya lokal. Untuk dapat meningkatkan produksi komoditas yang dibudidayakan sehingga kesejahteraan pembudidaya lokal meningkat dan ketersediaan pangan dari ikan juga meningkat,” jelasnya.
Riset dan Pengabdian
Ayu Lana juga menjelaskan bahwa upaya untuk mencapai peringkat tersebut, civitas FPK UNAIR fokus terhadap penelitian yang dari dari hulu ke hilir. Dalam hal ini penelitian terbagi menjadi dua fokus, antara lain dosen serta mahasiswa berfokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas komoditas sedangkan program studi Teknologi Hasil Perikanan berfokus pada penanganan pasca panen.
FPK UNAIR melakukan kegiatan kolaborasi penelitian bersama PT ANTINA dan peneliti dari Boston, USA. Kolaborasi ini berupaya untuk meningkatkan produksi budidaya udang windu tambak tradisional dengan pengelolaan secara alami. “Tambak tradisional bergantung penuh pada pakan alami dalam hal ini plankton, sehingga konsep ini lebih lestari bagi lingkungan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, FPK UNAIR juga menggelar program rutin seperti SALMON (Social and Learning Activity with Morality for Nation) yang menyasar masyarakat pesisir. Salah satu kegiatan utamanya yaitu penanaman mangrove yang berfungsi sebagai pelindung alami daei abrasi dan bencana pesisir.
“Banyak pula mahasiswa kami yang mengikuti dan memenangkan sejumlah lomba dan penghargaan di bidang perikanan dan kelautan. Salah satunya pengembangan aplikasi deteksi kesegaran produk perikanan yang ramah lingkungan di ajang Indonesia Inventors Day 2024 lalu,” ujarnya.
Strategi keberlanjutan
Menurut Ayu Lana, tantangan dalam pencapaian program SDGs adalah ketika berhadapan dengan pembudidaya atau pengusaha kecil yang perlu pemantauan agar tetap terlaksana dengan sesuai target. Ia juga mengungkap bahwa perlunya menyebarluaskan untuk menjaga kelestarian dan kesehatan biota akuatik utamanya yang bersinggungan langsung dengan lingkungan perairan.
“Penanaman kesadaran ini dapat dimulai dari lingkup terkecil sehingga menjadi habit/kebiasaan yang dapat menginspirasi lebih banyak orang. Edukasi kepada masyarakat juga harus terus-menerus berjalan, tidak bisa berhenti misalnya hanya satu kali penanaman mangrove saja selesai,” terangnya.
Rencana strategis ke depan juga berfokus pada penguatan UMKM, pelatihan variasi produk olahan perikanan, serta perluasan wilayah pengabdian, seperti melalui program W-POP (Workshop Produk Olahan Perikanan) yang telah berjalan di beberapa desa pesisir Jawa Timur.
Penulis : Adinda Octavia Setiowati
Editor : Ragil Kukuh Imanto





