UNAIR NEWS – Humanities Across Borders (yang selanjutnya akan disebut HAB) mengadakan rapat strategis membahas kolaborasi HAB dalam menjalankan programnya. Rapat itu terlaksana dalam gelaran The International Conference of Asia Scholars ke-13 hari keempat, pada Rabu (31/7/2024) di Ruang P1.04, Sekolah Pascasarjana, Kampus B Dharmawangsa, Universitas Airlangga (UNAIR).
“Kami berharap untuk rapat hari ini dapat menghasilkan kesepahaman bersama, mengetahui sejauh mana yang telah kita lakukan, dan mengetahui tantangan apa yang kita hadapi,” ucap Aarti Kawlra.
Rapat itu mendatangkan akademisi dari berbagai negara yang terlibat dalam HAB, seperti Belanda, Inggris, Ghana, Amerika, India, dan lainnya. Terdapat empat bahasan dalam acara itu, yakni bagaimana cara mentransformasi kolaborasi pendidikan tinggi di negara timur dan utara; laboratorium untuk belajar mengajar dalam konteks sosiokultural; penyebaran metodologi lintas-regional, antar-disiplin, dan melibatkan masyarakat; serta sustainability HAB dalam kelembagaan, pengembangan kapasitas, produksi dan penyebaran pengetahuan.
Temuan di Berbagai Negara
Tharapi Tan, Yi Li, dan Surajit Sarkar membahas permasalahan pendidikan di Myanmar. Menurut temuan mereka, 85% populasi di Myanmar tidak mendaftar SMA karena sekolah telah menjadi tempat yang kasar, banyak siswa kecanduan obat-obatan berbahaya dan terlibat tawuran, sehingga para orang tua merasa khawatir untuk mendaftarkan anak-anaknya.
Bahasan selanjutnya adalah terkait program HAB di Ghana. Program utama berupa sekolah praktek pembuatan dan pengolahan tanaman indigo. Sekolah itu berhasil menyatukan para siswa dan praktisi tanaman indigo.“Hal itu memperkaya wawasan peserta dalam memahami keterkaitan antara alam, budaya, dan produksi indigo,” tutur Eric Lawer.
Perkembangan di Afrika Barat
Harapannya program HAB selanjutnya tidak hanya berfokus di Ghana, namun juga di platform Afrika Barat lainnya, seperti Senegal, Mali, dan Burkina Faso. Karena pada dasarnya, konsep utama HAB adalah membawa mengajak berbagai region untuk bekerja bersama.
“Pada pertemuan HAB selanjutnya di Senegal, kami harap banyak orang datang ke Afrika Barat dan merasakan perbedaan antara yang terjadi di jalanan dan apa yang tertulis di akademis,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Naqsya Riwansia
Editor: Edwin Fatahuddin





