UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Rapat Konsolidasi Pimpinan setelah merampungkan proses pemilihan pimpinan di seluruh fakultas, sekolah dan unit kerja. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (15/9/2025) itu berlangsung di Aula THE IX, Kampus MERR-C UNAIR. Rapat tersebut melibatkan pimpinan universitas, dekan dan wakil dekan fakultas, direktur dan wakil direktur sekolah, direktur dan sekretaris direktorat, ketua dan sekretaris badan, lembaga dan pusat, direktur dan wakil direktur rumah sakit, kepala perpustakaan dan ketua pusat unggulan iptek perguruan tinggi di lingkungan UNAIR.
Rapat konsolidasi tersebut dibuka langsung oleh Rektor UNAIR, Prof Dr Muhammad Madyan, SE MSi MFin. Ia menyampaikan bahwa rapat ini merupakan rapat pertama kepemimpinan yang baru. Rapat ini diharapkan dapat segera bekerja dan bersinergi nyata dalam melanjutkan estafet kepemimpinan sebelumnya.
“Ini adalah suatu awal bagi kita (kepemimpinan baru, red) untuk memperkenalkan program-program kita ke depannya agar regenerasi kepemimpinan tidak putus. Kemarin kita sudah melantik dekan, wadek dan juga pimpinan lembaga dan sebagainya agar kita bisa langsung tancap gas. Jangan sampai kita pergantian pimpinan, memulai dari awal lagi,” ucap Prof Madyan.
UNAIR telah berkembang pesat melampaui ekspektasi. Hal ini tercermin dari peningkatan capaian UNAIR di dalam pemeringkatan QS World University Ranking dan THE Impact Rankings yang luar biasa dalam rentang waktu 10 tahun.
“Kami waktu itu hanya berpikir bagaimana UNAIR bisa mencapai 400 besar dunia. Ternyata untuk QS WUR periode saat ini, UNAIR sudah mencapai 287. Kita juga tidak menduga, saat Times Higher Education mengumumkan THE Impact Rankings, UNAIR bisa menduduki peringkat 9 Dunia, nomor 2 se-Asia dan nomor 1 se-Indonesia,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu.
Tantangan World-Class Entrepreneurial University
UNAIR harapannya menjadi perguruan tinggi yang mengintegrasikan semangat dan pola pikir kewirausahaan dalam aktivitas Tri Dharma yang dilakukan dengan berfokus pada inovasi, penciptaan nilai, serta memberikan dampak positif yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Agar arah kebijakan menjadi world-class entrepreneurial university tersebut tercapai, Rektor UNAIR memberikan penekanan di beberapa hal utama. Salah satunya tentang kebutuhan keuangan secara mandiri.
Prof Madyan menyampaikan bahwa world-class entrepreneurial university tidak terbatas pada peran universitas yang menghasilkan lulusan-lulusan yang menjadi wirausahawan. “Universitas Airlangga juga berfungsi sebagai entrepreneur. Ini yang penting dan ini sangat relevan dengan kondisi saat ini,” ungkapnya. Prof Madyan menginginkan unit-unit usaha bisnis yang dimiliki universitas dapat lebih optimal dan menghasilkan keuntungan yang bisa digunakan untuk mendukung anggaran UNAIR.
Lulusan UNAIR Jadi Sorotan
Dalam sambutannya, Prof Madyan juga memberikan sorotan pada fenomena pengangguran terdidik di Indonesia dan lamanya masa tunggu lulusan untuk bekerja. Ia mengharapkan solusi dari UNAIR. Salah satu yang diharapkan adalah Fakultas Keperawatan (FKp) sebagai pilot project UNAIR agar lulusannya bisa terserap oleh pasar dengan cepat.
“Fakultas Keperawatan memiliki peminat lulusan yang cukup besar. Di antaranya adalah Jepang, Arab Saudi, Timur Tengah, Swiss dan lain-lainnya. Fakultas lain juga harapannya bisa mencari solusi agar lulusannya bisa terserap oleh pasar dengan jangka waktu yang relatif cepat. Indikatornya itu bukan hanya berapa banyak kita bisa meluluskan di fakultas masing-masing tetapi seberapa besar lulusan yang terserap pasar. Hal ini berkaitan dengan relevansi lulusan,” papar Prof Madyan.
Terkait lulusan, lebih jauh Prof Madyan memaparkan bahwa mahasiswa UNAIR yang berwirausaha saat ini hanya sebagian kecil. Dalam kurikulum baru harapannya ada mata kuliah kewirausahaan sekaligus praktek kewirausahaan di seluruh program studi. “Dengan adanya bekal ilmu tersebut, yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, maka dapat menggunakan ilmu kewirausahaannya sebagai bekal survive di luar sana,” tambahnya.
Tantangan terakhir yang Prof Madyan soroti adalah hilirisasi hasil riset yang masih kecil. Selama sepuluh tahun, UNAIR fokus mengembangkan budaya dalam meningkatkan kuantitas riset dan publikasi, tetapi hanya kecil sekali yang berlanjut ke proses hilirisasi.
Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP), Dian Ekowati SE MSi MAppCom(OrgCh) PhD di sesi berikutnya memaparkan capaian kinerja di pilar SMART serta penyesuaian target di triwulan 4 2025 dan rancangan target tahun 2026. Kemudian, dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin langsung oleh Ketua BPP.
Penulis: Andi Pramono
Editor: Oemar Moechtar, Yulia Rohmawati





