Obesitas merupakan pandemi yang mendunia, dan telah menjadi masalah kesehatan global, karena menyebabkan kematian muda akibat komplikasinya, yaitu penyakit kardiovaskuler. Sayangnya, dalam dekade terakhir, angka kejadian obesitas meningkat tajam secara global. Di Indonesia sendiri berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 prevalensi obesitas anak dan remaja usia 5-12, 13-15, 16-18 tahun berturut-turut 9,2%, 4,8%, dan 4% berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) lebih dari z-score 2 menggunakan baku antropometri anak 5-19 tahun WHO 2007.
Obesitas menyebabkan sindrom metabolik (MetS), yang juga dikenal sebagai “Insulin Resistance Syndrome” atau “Syndrome X”. Angka kenjadian MetS mengalami peningkatan prevalensi di populasi anak-anak dan remaja, yang memperbesar risiko penderitanya mengalami kematian dini akibat penyakit jantung, kanker dan diabetes mellitus tipe 2.
Karenanya, deteksi dini faktor risiko MetS sangatlah penting untuk melakukan langkah pencegahan. Salah satu komponen penting MetS, yang bahkan menjadi komponen utama pada kriteria penentuan yang didesain oleh International Diabetes Foundation atau IDF, adalah obesitas sentral atau lebih popular dengan istilah “abdominal obesity”, ditentukan menggunakan berbagai parameter anthropometri, seperti lingkar pinggang dan lingkar pinggul, dan and waist-hip ratio (WHR). Lebih jauh, pengukuran ketiga parameter tersebut sangat penting untuk identifikasi awal MetS. Namun demikian, nilai cut-off WHR cukup beragam di setiap negara. Karenanya, dilakukan penelitian di Indonesia untuk menentukan nilai cut-off pada remaja obesitas sebagai prediktor MetS. Penelitian yang dilakukan selama bulan Januari hingga Mei 2020 pada populasi remaja obesitas, baik dengan MetS maupun tanpa MetS dilakukan di SMP dan SMA di Surabaya dan Sidoarjo, menggunakan kriteria MetS yang ditentukan oleh IDF, yaitu obesitas sentral disertai dengan minimal 2 gejala lainnya yaitu hipertensi, hipertrigliseridemia, kadar HDL rendah, dan hiperglikemia, menemukan bahwa terdapat korelasi antara WHT dengan MetS, dan ditemukan bahwa WHR merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap kejadian MetS jika dibandingkan parameter obesitas sentral lainnya, yakni lingkar pinggang dan lingkar pinggul. Lingkar pinggang memiliki indeks korelasi sebesar 0.296, sementara lingkar pinggung 0.203, yang artinya korelasinya lemah.
Penelitian ini juga menemukan bahwa gender laki-laki merupakan subjek terbanyak yang mengalami MetS. Ternyata memang gender memegang peranan penting dalam menentukan risiko kejadian MetS. MetS memang banyak ditemukan pada anak laki-laki daripada perempuan. Sementara komponen MetS yang banyak ditemukan pada remaja obesitas adalah kadar HDL yang rendah, lebih dari 75% subjek mengalaminya, diikuti hipertensi (44.7%) dan hipertrigliseridemia (43.3%).
Kekuatan diagnostic penggunaan WHR dalam mendeteksi MetS dibuktikan menggunakan kurva ROC atau Receiver Operating Curve, dengan nilai AUC (area under curve) sebesar 0.724. Agar dapat menentukan nilai WHR yang dapat digunakan sebagai pembeda antara MetS dan tanpa MetS, maka ditentukan rasio sebesar >0.891, yang memiliki risiko mengalami MetS sebesar 2.033-kali. Nilai WHR yang lebih dari 0.891 berhubungan secara signifikan dengan peningkatan tekanan darah pada remaja obesitas. Hal ini karena obesitas sentral yang direpresentasikan oleh WHR memang memiliki hubungan dengan kejadian MetS, seperti halnya parameter lain, yakni lingkar pinggang dan lingkar pinggul pada anak. Hal yang sama ditemukan pada penelitian di Spanyol pada populasi obesitas (1.001 orang). Namun penelitian di Irak menemukan bahwa WHR merupakan alat yang lemah dalam medeteksi MetS daripada lingkar pinggang dan BMI.
Penulis: Nur Aisiyah Widjaja, Roedi Irawan





