Universitas Airlangga Official Website

Refleksi Ramadan di Era Digital, UNAIR Soroti Iman vs Algoritma

Fadjar Mulya SSi MSc PhD, dosen Program Studi Rekayasa Nanoteknologi dalam Kajian Islam Ramadan bertajuk Iman vs Algoritma
Fadjar Mulya SSi MSc PhD, dosen Program Studi Rekayasa Nanoteknologi dalam Kajian Islam Ramadan bertajuk Iman vs Algoritma (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah, tetapi juga ruang refleksi atas cara manusia memaknai hidup di tengah derasnya arus digital. Isu tersebut menjadi fokus dalam Kajian Islam Ramadan bertajuk Iman vs Algoritma yang diselenggarakan oleh Advanced Technologist Moslems (ATOM) Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR). Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (24/2/2026) di Aula Utama Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C UNAIR.

Hadir sebagai narasumber, Fadjar Mulya SSi MSc PhD, dosen Program Studi Rekayasa Nanoteknologi. Dalam pemaparannya, Fadjar menekankan pentingnya kesungguhan dalam memanfaatkan Ramadan. Ia mengibaratkan bulan suci seperti kisah Raja Zulkarnain dan pasukannya yang memasuki gua gelap. Di dalam gua itu terdapat “kebaikan” yang hanya bisa diperoleh oleh mereka yang percaya dan bersedia mengambilnya sebanyak mungkin. 

Melalui analogi tersebut, ia menegaskan bahwa keberkahan Ramadan sangat bergantung pada keyakinan dan totalitas seseorang dalam beribadah. “Kita beriman penuh kepada Allah SWT dan kita meneladani Rasulullah bahwasanya Ramadan ini bulan penuh ampunan, bulan turunnya Al-Qur’an. Maka seharusnya kita memaksimalkannya, mengoptimalkan ibadah, dan meniatkan setiap aktivitas karena Allah agar terkonversi menjadi pahala,” jelasnya.

Integritas Ilmu di Era Digital

Lebih lanjut, Fadjar membahas tentang peran mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar proses akademik, melainkan bagian dari perjalanan spiritual. Ia menyinggung Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menjanjikan derajat lebih tinggi bagi orang-orang beriman dan berilmu. Namun, menurutnya, peningkatan derajat itu hanya bermakna apabila ilmu dibarengi integritas dan kedalaman berpikir.

Ia kemudian mencontohkan ketelitian Imam Bukhari dalam meriwayatkan hadis sebagai standar verifikasi data yang luar biasa ketat. Dalam konteks kekinian, prinsip tersebut relevan di tengah kemudahan akses informasi dan penggunaan kecerdasan buatan. Mahasiswa, sambungnya, tidak boleh hanya mengandalkan kecepatan memperoleh jawaban, tetapi harus memastikan kebenaran dan validitasnya.

“Maka sebagai seorang scholar kita harus bisa mempertanggungjawabkan data yang kita sampaikan. Proses belajar, riset, skripsi itu bukan formalitas. Itu diuji keabsahannya, diuji validitas datanya, diuji kebenarannya. Jangan sampai kita mengambil sumber yang tidak jelas lalu menelannya mentah-mentah,” tegasnya.

Niat sebagai Firewall Utama

Pada akhir, ia menjelaskan bahwa algoritma hanyalah rangkaian prosedur logis yang dirancang untuk mempermudah pekerjaan manusia. Namun, tanpa kendali iman, algoritma dapat membentuk kebiasaan bahkan orientasi hidup seseorang. Fenomena scrolling tanpa henti, dorongan mencari validasi, hingga kecenderungan memamerkan pencapaian menjadi contoh bagaimana sistem digital perlahan menggeser niat.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada teknologinya, melainkan pada kesadaran batin dalam menggunakannya. Tanpa pelurusan niat, aktivitas baik pun bisa berubah arah menjadi sekadar pencitraan di ruang digital.

“Niat adalah firewall utama. Jadi selalu diniatkan karena Allah. Kalau upload sesuatu, niatkan untuk syiar kebaikan, bukan mencari validasi atau popularitas. Setiap aktivitas, belajar, olahraga, bekerja, diniatkan karena Allah agar menjadi amal ibadah. Jangan sampai teknologi ini justru menjadi bentuk kekufuran karena kita gunakan untuk kemaksiatan. Ingat, setiap aktivitas kita akan dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati