UNAIR NEWS – Terhitung 32 tahun lamanya sejak menjadi mahasiswa program sarjana di Universitas Airlangga, Prof Moh Nasih nyaris selalu melaksanakan salat Idulfitri di masjid UNAIR. Kini, setelah dua tahun menjabat sebagai rektor, kebiasaan itu tak pernah berubah.
Kepada UNAIR NEWS Nasih bercerita perihal kebiasaan dirinya dan keluarga dalam menyambut hari kemenangan. Tahun ini seperti juga tahun sebelumnya, usai salat Ied di Masjud Ulul Azmi Kampus C UNAIR, Nasih bersilaturahmi kepada rekan-rekan maupun senior yang juga menjalankan salat di masjid UNAIR.
Seperti biasa, setelah itu ia beserta keluarga bersilaturahmi ke kediaman orangtua di Gresik dan dilanjutkan rumah mertua di Sragen.
Ada warung makan langganan yang selalu menjadi jujugan ia dan keluarga saat perjalanan menuju Sragen. Warung Pojok, Jombang, adalah warung yang tak pernah absen ia kunjungi setiap kali mudik.
“Kalau lagi jalan ke arah barat, biasanmya mampir di Warung Pojok, Jombang. Itu tempat favorit sejak dulu kala,” ungkap Nasih.
Dalam suasana Idulfitri, jalanan macet nampaknya adalah hal yang tak terelakkan lagi. Namun hal ini tidak menjadikan Nasih banyak mengeluh.
“Kita pernah perjalanan Surabaya – Sragen nyetir 12 jam macet, padahal normalnya enam jam. Kita nikmati saja. Ya senang-senang saja,” ungkapnya.
Hikmah puasa
“Tentu, Allah SWT tidak memerintahkan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada maksud. Begitu pula dengan ramadan. Ada tujuan dan makna yang dirasakan, baik bersifat individu maupun kolektif,” ujar Nasih memberi makna hikmah dari puasa ramadan selama sebulan penuh.
Bagi Nasih, secara individu puasa memberi pengajaran kepada manusia untuk bisa menahan hawa nafsu. Sedangkan secara klektif, ramadan memberi pelajaran untuk membangun masyarakat yang madani, muttaqin, adil, dan beradab. Dalam lingkungan kampus, paling tidak, tercipta masyarakat UNAIR yang berkeadilan.
Bagi Nasih, Idulfitri bukan sekadar dirayakan, namun juga direnungkan. Kewajiban membayar zakat fitrah setelah ramadan berakhir juga merupakan bagian dari hikmah puasa. Artinya, manusia harus benar-benar merasakan dan menikmati kehidupan secara bersama-sama.
“Merasa punya kecukupan untuk makan lebih dari satu hari di bulan syawal, kita wajib untuk membayar zakat. Artinya kita harus banyak melakukan retriubusi terkait dengan kekayaan yang kita miliki pada sesama umat manusia. Sehingga semua kalangan masy bisa menikmati hidup ini dengan damai dan layak,” ungkap Nasih. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh





