UNAIR NEWS – Menjadi keynote speaker dalam seminar dan konferensi internasional bertema Reaffirming Indonesia’s Foreign Affairs in Airlangga International pada Sabtu (4/11), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengingatkan sekaligus menekankan bahwa semua elemen bangsa Indonesia mempunyai kewajiban untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi.
Dia hadir dalam seminar dan konferensi yang digagas departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Airlangga. Bertempat di Ruang Kahuripan 300 Kampus C UNAIR, Retno memberikan paparan tentang politik luar negeri Indonesia di hadapan 200 peserta.
Sebelumnya, dia meminta tiga volunteer mahasiswa untuk menjawab tiga pertanyaan dari dirinya. Mereka adalah Tri, Yufrin, dan Dinda. Masing-masing mendapat pertanyaan yang berbeda.
”Apa yang dapat (Tri) baca dari perkembangan dunia saat ini? Apa yang ditangkap (Yufrin) dari pelaksanaan diplomasi di Indonesia hingga saat ini? Serta, (Dinda), apa yang kamu tahu mengenai ASEAN, baik kelebihan maupun kekurangannya?” tutur Retno.
Tiga pertanyaan tersebut berhasil dijawab dengan baik oleh para mahasiswa UNAIR itu. Misalnya, menurut Dinda, ASEAN adalah regional yang terbilang cukup aman dan netral hingga saat ini. Baik segi politik maupun militernya.
Selanjutnya, Retno menjelaskan tugas politik luar negeri. Di antaranya, pertama, memperjuangkan kepentingan nasional yang meliputi pemberian perlindungan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (melindungi rumah), warga negara Indonesia (isi rumah), dan diplomasi ekonomi. Kedua, memberikan kontribusi kepada dunia.
Mengenai prospek yang baik, lanjut dia, tentu tidak serta-merta berjalan tanpa adanya hambatan. Sebagaimana data yang dirilis World Bank, perekonomian Indonesia pada 2017 cukup baik dan semakin baik pada 2018.
Meski demikian, terang Retno, Indonesia memiliki tantangan yang bisa dibedakan menjadi dua garis besar. Yakni, tantangan dalam konteks ekonomi dan transnational organized crime. Misalnya, terorisme, radikalisme, perdagangan manusia, serta narkoba.
”Yang perlu kita antisipasi adalah setiap individu dapat memberikan kontribusi yang sangat banyak. Kita semua memiliki kewajiban untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi,” ujarnya. ”Ada bagian yang bisa dilakukan baik oleh negara maupun kita semua. Perbedaan bukan untuk dihancurkan. Bila toleransi itu dapat dikembangkan, perbedaan ini justru akan memperkokoh Indonesia,” imbuh Retno.
Sementara itu, Wakil Rektor III Prof. M. Amin turut hadir sekaligus membuka seminar dan konferensi tersebut. Selain dari UNAIR, pesertanya berasal dari universitas lain. Salah satunya, Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur (UPN Jatim). (*)
Penulis: Pradita Desyanti
Editor: Feri Fenoria





