Universitas Airlangga Official Website

Ritz Chandra, Alumnus UNAIR yang Bangun Perusahaan Berbasis Artificial Intelligence

Ritz Chandra alumnus program studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM sebagai direktur utama PT Sekreativ Inspirasi Indonesia. (Foto: Istimewa).
Ritz Chandra alumnus program studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM sebagai direktur utama PT Sekreativ Inspirasi Indonesia. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Isu labour cost yang rendah dan murahnya nilai jasa pekerja di Indonesia menjadi perhatian utama Ritz Chandra, seorang alumnus Program Studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2020. Ia sukses mendirikan PT Sekreativ Inspirasi Indonesia, sebuah media and agency company yang berfokus pada Artificial Intelligence (AI) dan kini menjabat sebagai Direktur Utamanya. 

Ritz Chandra bercerita, tercetusnya PT Sekreativ Inspirasi Indonesia terbilang unik karena ia merintis perusahaan tersebut sejak tahun 2021, saat ia masih menempuh studi di UNAIR. Inspirasi awal bisnis digital ini dimulai saat pandemi COVID-19 yang membatasi gerak dan mobilitas sehingga mendorong segala aktivitas harus serba online. Enggan berdiam diri, ia melihat peluang besar di sektor daring, dan dari situlah PT Sekreativ Inspirasi lahir dan terus berjalan hingga kini.

Kini, dengan menjabat sebagai Direktur Utama, Ritz Chandra memimpin perusahaannya untuk menjadi penggerak revolusi di dunia kreatif. Visi utamanya adalah mengubah stigma ketakutan masyarakat terhadap AI menjadi alat yang bisa memberdayakan. 

Awalnya, perusahaan ini berfokus pada ranah kreatif, namun seiring berjalannya waktu dan pesatnya perubahan teknologi, PT Sekreativ bertransformasi penuh menjadi AI Creative Media sebagai respons atas kebutuhan pasar yang dinamis dan global. Transformasi ini membawanya pada pandangan kritis terhadap kondisi industri di dalam negeri.

Ritz Chandra juga menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar bagi PT Sekreativ adalah mengatasi kekhawatiran pekerja kreatif di tengah maraknya AI generatif yang cenderung mendevaluasi nilai jasa kreatif. “Maraknya AI membuat jasa kreatif semakin tidak dihargai karena banyak yang sudah bergantung ke AI. Kami hadir untuk memastikan agar orang-orang di industri kreatif tidak takut, justru menjadikan AI sebagai kawan,” jelasnya.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi pasar kerja di Indonesia. Ia menyoroti bahwa meskipun Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam penggunaan AI (user). 

“Banyak orang yang masih menganggap remeh potensi AI. Apalagi labour cost di Indonesia itu sangat rendah atau dihargai murah. Inilah yang menyebabkan banyak talenta kita yang sudah paham peluang AI memilih berkarir di luar negeri,” tegas alumnus FTMM UNAIR tersebut.

Ia menekankan pentingnya kualitas dasar diri bagi mahasiswa UNAIR, terutama yang ingin berkarir di bidang AI. “Paling penting adalah tingkatkan critical thinking terlebih dahulu, dengan banyak membaca literatur,” pungkasnya. Ia juga menyarankan jalur belajar otodidak untuk karir di bidang AI, mengingat pertumbuhan teknologi yang jauh lebih cepat daripada kurikulum formal.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia