Universitas Airlangga Official Website

Sambutan Rektor pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar 26 Juli 2023

Assalamu’alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatuh.

Alhamdulillah, wa syukurillah, wa laa haula walaa quwwata illa billahi. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihiajma’ien.

Yang terhormat,

Ketua, Sekretaris,  dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga,

Ketua, Sekretaris,  dan Anggota Senat Akademik Universitas Airlangga,

Para Wakil Rektor Universitas Airlangga,

Sekretaris Universitas Airlangga,

Para Guru Besar Universitas Airlangga dan Guru Besar Tamu,

Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Airlangga,

Para Direktur, Ketua Pusat, Lembaga, dan Badan di Lingkungan Universitas Airlangga,

Saudara Prof. Dr. Taufan Bramantoro, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Muhammad Luthfi, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Tintin Sukartini, Sarjana Keperawatan., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Ir. Gunanti Mahasri, Magister Sains., dan Para undangan serta hadirin yang berbahagia.

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan inayah-Nya, sehingga hari ini kita bisa hadir di acara istimewa ini. Yaitu, Sidang Terbuka Universitas Airlangga dalam Pengukuhan Jabatan Guru Besar kepada Prof. Dr. Taufan Bramantoro, Dokter Gigi., Magister Kesehatan., dalam bidang ilmu Manajemen Kesehatan Gigi. Prof. Dr. Muhammad Luthfi, Dokter Gigi., Magister Kesehatan., dalam bidang ilmu Imunologi Molekuler Infeksi Rongga Mulut. Prof. Dr. Tintin Sukartini, Sarjana Keperawatan., Magister Kesehatan., dalam bidang ilmu Keperawatan Medikal Bedah. Prof. Dr. Ir. Gunanti Mahasri, Magister Sains., dalam bidang ilmu Kesehatan Ikan dan Lingkungan.

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Dengan pengukuhan ini, Prof. Dr. Taufan Bramantoro, Dokter Gigi., Magister Kesehatan., menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi aktif ke-40, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-580, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-288, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 75 serta H-index: 9. Prof. Dr. Muhammad Luthfi, Dokter Gigi., Magister Kesehatan., menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi aktif ke-41, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-581, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-289, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 27 serta H-index: 4. Prof. Dr. Tintin Sukartini, Sarjana Keperawatan., Magister Kesehatan., menjadi Guru Besar Fakultas Keperawatan aktif ke-4, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-582, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-290, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 64 serta H-index: 5. Prof. Dr. Ir. Gunanti Mahasri, Magister Sains., menjadi Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan aktif ke-4, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-583, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-291, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 56 serta H- index: 6.

Semoga  pengukuhan  guru besar hari ini juga menginspirasi para akademisi yang lain untuk segera menjadi guru besar. Dengan banyaknya Lektor Kepala yang kita miliki, artinya kita punya potensi untuk menambah guru besar dalam jumlah yang cukup besar. Tentu, dengan kemauan yang keras, mereka pasti juga mampu mencapai jabatan guru besar ini. Tolong disadari, bahwa pencapaian guru besar ini bukan saja merupakan capaian pribadi sebagai seorang dosen, namun juga menjadi capaian universitas yang sangat penting. Dengan dikukuhkannya empat guru besar baru pada hari ini, berarti UNAIR memiliki tambahan SDM yang secara kapasitas sudah sangat teruji keilmuannya. Hal ini, tentunya akan membuat keberadaan UNAIR semakin diakui oleh masyarakat dan dunia. Sebab, jabatan guru besar menunjukkan pengakuan akan kompetensi di bidang akademik. Dengan demikian, semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan bahwa semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak pada penilaian terhadap UNAIR yang semakin baik, dan ini akan semakin meningkatkan kualitas kita semua sebagai salah satu dari jajaran kampus terbaik di dunia yang kini telah raih di posisi 345 terbaik dunia. 

Untuk Prof. Dr. Taufan Bramantoro, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Muhammad Luthfi, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Tintin Sukartini, Sarjana Keperawatan., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Ir. Gunanti Mahasri, Magister Sains., UNAIR berharap, setelah pengukuhan guru besar ini, kontribusi Saudara kepada Universitas Airlangga akan semakin besar. Setelah memperoleh jabatan tertinggi di bidang akademik ini, semangat menulis, mengajar, mengabdi, dan meneliti bukan kendur, tapi justru harus ditingkatkan untuk memberi kemaslahatan yang lebih besar. 

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Orasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Taufan Bramantoro, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Dalam orasinya dijelaskan bahwa Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi pekerjaan rumah yang belum kunjung usai. Pernyataan tersebut terlihat dari hasil penelitian dalam skala nasional maupun internasional. Pada salah satu aspek kesehatan gigi dan mulut, yaitu gigi karies, angka kejadian gigi karies secara global masih dinilai tinggi. Sejalan dengan kondisi global, hasil Riskesdas 2018, masih didapatkan angka kejadian gigi karies yg juga dinilai tinggi. 

Solusi permasalahan kesehatan gigi dan mulut pada fase saat ini memiliki tantangan tersendiri. Pencapaian sasaran tersebut tidak cukup bila hanya dengan pengulangan demi pengulangan teknis yang sama terkait upaya promotif dan preventif kepada masyarakat. Dibutuhkan upaya inovatif yang mengakar dan bercabang rimbun sehingga dapat menjangkau berbagai komponen kehidupan secara individu dan sosial. Bila kampanye menyikat gigi 2 kali sehari ternyata masih belum optimal dalam menurunkan angka kejadian masalah kesehatan gigi dan mulut, maka bisa saja dibutuhkan membersihkan gigi hingga 7 kali sehari. Berkaca pada keberadaan siwak sebagai bahan alami murni dengan kandungan bahan aktif yang bersifat alami pula, maka siwak dapat digunakan dengan frekuensi sering bahkan hingga 7-9 kali sehari. Keunggulan siwak ini kemudian dapat berdampak pada pengendalian kondisi rongga mulut dapat lebih terjaga stabilitasnya. Menyikat gigi bahkan dapat dilakukan 7 kali sehari. Tentunya ini dapat menutup kesempatan bakteri di rongga mulut untuk aktif beroperasional, dikarenakan kondisi derajat keasaman rongga mulut yang lebih stabil dan tidak terlalu sering berada dalam zona derajat keasaman berisiko, khususnya ketika setelah makan atau mengemil.

Memasyarakatkan siwak memang masih memerlukan upaya lebih. Integrasi berbagai bidang akan dapat menjadi faktor akselerasi proses tersebut. Integrasi dari akademisi, kesehatan, industri, ekonomi dan juga bidang sosial humaniora. Memasyarakatkan siwak tidak hanya mengenai bagaimana penjelasan mengenai fitur dan fungsi, tetapi telah menyentuh ranah bagaimana membangun peradaban kesehatan. Perjalanan siwak memang masih panjang, tetapi semangat tidak boleh padam. Untuk mewujudkan tagline gigi sehat dan lingkungan pun ikut senang. Mari sempurnakan dengan siwak, karena gigi sehat adalah hak umat manusia.

Orasi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Luthfi, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Dalam orasinya dijelaskan bahwa Karies gigi pada anak usia dini  merupakan masalah kesehatan yang sangat serius karena merupakan penyakit infeksi kronis yang menular yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans ( S. mutans) karena kemampuannya yang kuat dalam memproduksi asam dan toleransi asam . Karies gigi pada anak usia dini dimulai setelah gigi sulung tumbuh dan berkembang pada permukaan gigi dengan sangat cepat dan progresif dengan manifestasi berupa nyeri, abses akut maupun kronis, demam, pembengkakan pada bibir sehingga nafsu makan menurun serta merupakan fokus infeksi dari berbagai penyakit sistemik.

Berdasarkan hal diatas maka perlu dilakukan identifikasi faktor risiko serta mengidentifikasi peran imunologi dari sel kekebalan tubuh bawaan yaitu sel netrofil oleh karena  sel ini berperan melindungi atau mencegah infeksi dan dalam beberapa tahun terakhir pandangan terhadap peran  netrofil telah berubah secara dramatis, dimana netrofil yang merupakan komponen kunci dari garis pertahanan  pertama terhadap mikroba, netrofil tidak hanya berperan membunuh mikroba dengan fagositosis, pelepasan reactive oxigen species (ROS) dan peptida antimikrobialnya tetapi netrofil berpartisipasi dalam mengatur aktifasi respon imun denganmeleppaskan berbagai sitokin, kemokin dan faktor pertumbuhan. Kualitas netrofil yang menurun menyebabkan menurunya fungsi fagositosis netrofil yang akan terdeteksi melalui ekspresi CD35 dan CD89 pada permukaan netrofil serta ekspresi CD63, CD 66b, hal ini yang menyebabkan peningkatan  S. mutans pada permukaan gigi yang pada akhirnya akan menyebabkan demineralisasi oleh karena banyaknya asam laktat yang diproduksi, dengan demikian  deteksi marker CD89 dan CD35 pada permukaan netrofil saliva dapat dipakai sebagai marker deteksi dini terjadinya karies gigi pada anak usia dini.

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Orasi ketiga disampaikan oleh Prof. Dr. Tintin Sukartini, Sarjana Keperawatan., Magister Kesehatan. Dalam orasinya dijelaskan Pemberdayaan ODHIV (Orang dengan HIV) khususnya perempuan merupakan sebuah upaya yang perlu dilakukan dalam menguatkan ODHIV perempuan untuk bertahan dalam memenuhi kebutuhan baik dari segi kesehatan, psikologis, sosial, spiritual, pekerjaan serta pemecahan permasalahan dalam kehidupan. Pemberdayaan kesehatan atau health empowerment merupakan upaya untuk mengoptimalkan kesehatan dari perspektif individu. Tujuan dari pemberdayaan kesehatan yaitu meningkatkan hubungan relasi dari proses mengenali sumber daya personal, sumber daya kontekstual sosial, tujuan kesehatan yang diinginkan dan aspek penunjang dalam mencapainya. Pemberdayaan kesehatan dilakukan dalam upaya mengoptimalkan kesehatan ODHIV perempuan dalam upaya mengoptimalkan kesehatan ODHIV dalam hal yang lebih baik. Pemberdayaan dilakukan pada aspek biologis, psikologis, aspek sosial dan aspek spiritual. 

Faktor yang mempengaruhi pemberdayaan adalah faktor ekonomi masyarakat khususnya ODHIV perempuan yang masih minim, banyaknya ODHIV perempuan yang kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan karena banyaknya stigma yang terjadi dimasyarakat. Dengan demikian upaya pemberdayaan dilakukan untuk mengembangkan potensi diri khususnya ekonomi (sandang pangan papan) untuk meningkatkan produktivitas ODHIV perempuan dalam mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Selain itu pemberdayaan juga dipengaruhi oleh hubungan sosial, stress, depresi, rasa takut dan cemas, serta faktor politik. Program pemberdayaan perempuan sudah terbukti dalam meningkatkan kepatuhan dan keberhasilan pengobatan yang nantinya berdampak terhadap peningkatan kualitas hidup.  .Pemberdayaan perempuan dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan peran baik secara individu ataupun melalui organisasi perempuan dalam bentuk kegiatan penyuluhan, motivasi dan bimbingan serta penyebarluasan komunikasi, informasi dan Edukasi. Pemberdayaan perempuan melalui bimbingan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pengasuh dapat memberi keluarga keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam merawat anggota ODHIV dan menyelesaikan masalah pada ODHIV. Melalui pendekatan pemberdayaan perempuan diharapkan mampu menurunkan self stigma, meningkatkan kepatuhan pengobatan, merubah status kesehatan dan ekonomi ODHIV yang berdampak terhadap peningkatan kualitas hidup perempuan ODHIV.

Orasi terakhir disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Gunanti Mahasri, Magister Sains. Dalam orasinya dijelaskan bahwa Produksi perikanan di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya permintaan pasar, baik skala nasional maupun internasional. Seiring dengan upaya pemerintah, khususnya yang terkait dengan pembangunan kampung-kampung budidaya perikanan, pasti diikuti  dengan munculnya berbagai teknologi dan sudah diterapkan serta dikembangkan di Indonesia teknologi budidaya dengan dasar tanah , digantikan dengan dasar beton atau plastik HDPE. Kemudian  untuk mempertahankan kualitas  air  medianya juga sudah dikembangkan berbagai teknologi, misalnya dengan probiotik, dengan sinar UV dan sebagainya.

Untuk mengenalkan adanya imunostimulan yang sudah berhasil diterapkan di beberapa lokasi di pertambakan di Jawa Timur antara lain adalah : 

1. Imunostimulan dari protein Zoothamnium penaei untuk udang vaname  (Litopenaeus vannamei) yang dipelihara di tambak.

2. Imunostimulan dari protein spora  Myxobolus koi untuk ikan mas yang dipelihara dalam kolam dengan dasar beton maupun di Karamba Jaring Apung (KJA)

3. Imunostimulan dari protein lintah laut Zeylanicobdella sp. untuk ikan kerapu yang dipelihara baik di kolam maupun di Karamba Jaring Apung (KJA).

Imunostimulan tersebut terutama yang untuk udang  sudah dilakukan  uji coba di lapang  (tambak maupun kolam) dan sudah diterapkan penggunaannyabeberapa kali di beberapa lokasi yang berbeda-beda  di Jawa Timur. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa ketiga imunostimulan dapat meningkatkan pertahan tubuh dan memberikan perlindungan terhadap ikan atau udang yang dipelihara dalam beberapa periode panen (selama 3 bulan), yaitu dapat menghasilkan hasil panen dengan kelulushidupan  (SR) rata-rata antara 70 – 89%. Teknik budidaya dan  kualitas hasil panen sudah memenuhi standar ekspor (SNI). Parameter atau indikator uji yang diperiksa juga sudah sesuai dengan standar pemeliharaan (budidaya perikanan). Imunostimulan yang masih dikembangkan saat ini adalah imunostimulan dari protein dari  Chlorella vulgaris dan Sargassun sp.

Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia

Akhirnya, mari kita berdoa, semoga ilmu Prof. Dr. Taufan Bramantoro, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Muhammad Luthfi, Dokter Gigi., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Tintin Sukartini, Sarjana Keperawatan., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Ir. Gunanti Mahasri, Magister Sains., bisa memberikan manfaat bagi diri beliau, Universitas Airlangga, dan bangsa ini. Juga, semoga kita tidak lupa, bahwa apapun capaian atau prestasi yang kita peroleh, di hadapan Allah yang utama adalah ketaqwaan kita. 

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga Allah meridhai upaya kita semua. 

Billahitaufiqwalhhidayah

Wassalaamu’alaikumwr.wb.

Rektor,

Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak.