Assalamu’alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatuh.
Alhamdulillah, wa syukurillah, wa laa haula walaa quwwata illa billahi. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihiajma’ien.
Yang terhormat,
Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga,
Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik Universitas Airlangga,
Para Wakil Rektor Universitas Airlangga,
Sekretaris Universitas Airlangga,
Para Guru Besar Universitas Airlangga dan Guru Besar Tamu,
Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Airlangga,
Para Direktur, Ketua Pusat, Lembaga, dan Badan di Lingkungan Universitas Airlangga,
Saudara Prof. Trias Mahmudiono, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health (Nutrionis.), Doctor of Philosophy, GCAS,
Prof. Dr. Santi Martini, dokter., Magister Kesehatan
Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Magister Kesehatan
Prof. Ira Nurmala, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health, Doctor of Philosophy
Prof. Dr. Erma Safitri, Dokter Hewan., Magister Sains.
Prof. Dr. Epy Muhammad Luqman, Dokter Hewan., Magister Sains.
Prof. I Gede Wahyu Wicaksana, Sarjana Ilmu Politik, Magister Sains, Doctor of Philosophy dan Para undangan serta hadirin yang berbahagia.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat, taufik, dan inayah-Nya, sehingga hari ini kita bisa hadir di acara istimewa ini. Yaitu, Sidang Terbuka Universitas Airlangga dalam Pengukuhan Jabatan Guru Besar dengan keadaan sehat wal’afiat.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Dengan pengukuhan ini, Prof. Trias Mahmudiono, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health (Nutrionis.), Doctor of Philosophy, GCAS, menjadi Guru Besar Dalam Bidang Ilmu: Gizi, Pengampuh Mata Kuliah Utama: Pendidikan Gizi, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 129 serta H- index: 11. Prof. Dr. Santi Martini, dokter., Magister Kesehatan., menjadi Guru Besar Dalam Bidang Ilmu: Epidemiologi Penyakit, Pengampu Mata Kuliah Utama: Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 68 serta H- index: 21. Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Magister Kesehatan., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Pengampu Mata Kuliah Utama: Manajemen Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Bidang Kesehatan, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 82 serta H- index: 12. Prof. Ira Nurmala, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health, Doctor of Philosophy., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Pendidikan Kesehatan Masyarakat , Pengampu Mata Kuliah Utama: Promosi Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 37 serta H- index: 6. Prof. Dr. Erma Safitri, Dokter Hewan., Magister Sains., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Bioteknologi Fisiologi Reproduksi Veteriner, Pengampu Mata Kuliah Utama: Fisiologi & Teknologi Reproduksi Veteriner, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 45 serta H- index: 9. Prof. Dr. Epy Muhammad Luqman, Dokter Hewan., Magister Sains., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Toksikologi Perkembangan Veterinar, Pengampu Mata Kuliah Utama: Embriologi Veteriner, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 35 serta H- index: 4. Prof. I Gede Wahyu Wicaksana, Sarjana Ilmu Politik, Magister Sains, Doctor of Philosophy., menjadi Guru Besar Dalam bidang Ilmu: Politik dan Keamanan Internasional, Pengampu Mata Kuliah Utama: Analisis Kebijakan Luar Negeri, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 19 serta H- index: 6.
Semoga pengukuhan guru besar hari ini juga menginspirasi para akademisi yang lain untuk segera menjadi guru besar. Dengan banyaknya Lektor Kepala yang kita miliki, artinya kita punya potensi untuk menambah guru besar dalam jumlah yang cukup besar. Tentu, dengan kemauan yang keras, mereka pasti juga mampu mencapai jabatan guru besar ini. Tolong disadari, bahwa pencapaian guru besar ini bukan saja merupakan capaian pribadi sebagai seorang dosen, namun juga menjadi capaian universitas yang sangat penting. Dengan dikukuhkannya tujuh guru besar baru pada hari ini, berarti UNAIR memiliki tambahan SDM yang secara kapasitas sudah sangat teruji keilmuannya. Hal ini, tentunya akan membuat keberadaan UNAIR semakin diakui oleh masyarakat dan dunia. Sebab, jabatan guru besar menunjukkan pengakuan akan kompetensi di bidang akademik. Dengan demikian, semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan bahwa semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak pada penilaian terhadap UNAIR yang semakin baik, dan ini akan semakin meningkatkan kualitas kita semua sebagai salah satu dari jajaran kampus terbaik di dunia yang kini telah raih di posisi 345 terbaik dunia.
Untuk Prof. Trias Mahmudiono, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health (Nutrionis.), Doctor of Philosophy, GCAS. Prof. Dr. Santi Martini, dokter., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Magister Kesehatan. Prof. Ira Nurmala, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health, Doctor of Philosophy. Prof. Dr. Erma Safitri, Dokter Hewan., Magister Sains. Prof. Dr. Epy Muhammad Luqman, Dokter Hewan., Magister Sains. Prof. I Gede Wahyu Wicaksana, Sarjana Ilmu Politik, Magister Sains, Doctor of Philosophy., UNAIR berharap, setelah pengukuhan guru besar ini, kontribusi Saudara kepada Universitas Airlangga akan semakin besar. Setelah memperoleh jabatan tertinggi di bidang akademik ini, semangat menulis, mengajar, mengabdi, dan meneliti bukan kendur, tapi justru harus ditingkatkan untuk memberi kemaslahatan yang lebih besar.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Orasi pertama disampaikan oleh Prof. Trias Mahmudiono, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health (Nutrionis.), Doctor of Philosophy, GCAS. Dalam sambutannya diulas permasalahan triple burden of malnutrition disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor diantaranya meliputi Asupan gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan, Disrupsi Tahapan Transisi Gizi, Ketidakseimbangan sosioekonomi, dan Perubahan Iklim. Triple burden of malnutrition jika tidak ditangani dengan serius akan mengancam kualitas kualitas sumber daya manusia Indonesia yang sedang ingin berakselerasi menjadi negara maju.
Beban penyakit degeneratif saat dewasa dari janin yang mengalami diadaptasi saat 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) akan membawa dampak ekonomi yang besar, belum lagi penurunan kemampuan kognitif anak karena stunting sehingga prestasi belajar dan daya saingnya menurun. Hal ini dapat berdampak negatif pada pendidikan, produktivitas, dan kemampuan suatu negara untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Asupan gizi yang memadai sesuai dengan kebutuhan kelompok umur dan aktivitas fisik seseorang perlu dipromosikan secara berkelanjutan dengan menggunakan berbagai platform baik melalui kebijakan, gerakan masyarakat, hingga pemanfaatan media social. Program intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang telah dikembangkan harus dibarengi dengan penguatan perubahan perilaku melalui intervensi atau program pendidikan gizi yang berkesinambungan seperti Nutrition Education 4.0. Nutrition Education 4.0 adalah: “suatu rangkaian pengalaman pembelajaran yang didesain untuk memfasilitasi adopsi sukarela pola makan dan perilaku terkait gizi lainnya untuk mendukung kesehatan melalui interaksi media sosial berbasis internet dan aplikasi seluler”.
Orasi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Santi Martini, dokter., Magister Kesehatan. Dalam orasinya dijelaskan tentang pencegahan penyakit tentunya tidak lepas dari kesehatan masyarakat. Menurut definisi kesehatan masyarakat yang telah dibuat oleh C.E.A Winslow pada tahun 1920 yang masih valid definisi tersebut sampai saat ini sebagai berikut. Substansi kesehatan masyarakat adalah “upaya masyarakat yang terorganisir dan ditujukan untuk pencegahan penyakit dan promosi kesehatan.” Fokus kesehatan masyarakat pada pencegahan membuatnya lebih abstrak daripada pengobatan, dan oleh karena itu, prestasi lebih sulit dikenali.
Analisis terhadap berbagai kebijakan pengendalian tembakau yang diterapkan di Indonesia telah dilakukan oleh Matheos, dkk. pada tahun 2022 bahwa upaya pencegahan melalui larangan merokok di tempat umum, tambahan pajak tembakau sebesar 10%, dan pengobatan varenicline bersubsidi – obat non nikotin pertama yang diciptakan untuk berhenti merokok – merupakan tiga strategi yang kemungkinan besar akan efektif dari segi biaya dan bahkan menghemat biaya dari sudut pandang sistem layanan kesehatan di Indonesia. Total biaya penerapan larangan merokok adalah US$ 3,7 miliar, namun penghematan biaya kesehatan terkait rokok berjumlah US$ 97,5 miliar. Oleh karena itu, secara seimbang, larangan merokok di tempat umum diperkirakan menghemat total biaya perawatan kesehatan sebesar US$ 93,8 miliar, menjadikannya strategi yang dominan dibandingkan strategi lainnya. Penambahan pajak tembakau sebesar 10% diperkirakan menghemat biaya perawatan kesehatan terkait rokok berjumlah US$106 miliar, dan proyeksi pendapatan dari tambahan pajak sebesar 10% adalah US$ 41,8 miliar. Kebijakan di berbagai negara terkait pengendalian tembakau menunjukkan adanya cost effectiveness.
Orasi ketiga disampaikan oleh Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Magister Kesehatan. Dalam orasinya dijelaskan Implementasi integrasi pelayanan kesehatan primer sebagai “program baru” memerlukan pendekatan dan strategi operasional yang tepat agar setiap masalah dapat ditemukan dan diintervensi dengan tuntas. Kemampuan SDM kesehatan, utamanya di Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menemukan masalah sedini mungkin, merencanakan upaya pemecahan masalah, dan merancang program intervensi untuk mencegah munculnya masalah kesehatan menjadi hal yang sangat esensial.
Service blueprint disusun dengan menguraikan 4 tingkatan kegiatan, yaitu 1) kegiatan yang dilakukan klien, 2) kegiatan penyedia layanan kesehatan yang terlihat oleh klien, 3) kegiatan penyedia layanan kesehatan yang tidak terlihat oleh klien, 4) Kgiatan pendukung. Service blueprint yang disusun berbasis client lifetime journey akan menghasilkan rancangan upaya kesehatan yang lebih komprehensif, paripurna, berkesinambungan, efisien, dan efektif.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Orasi selanjutnya, disampaikan oleh Prof. Ira Nurmala, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health, Doctor of Philosophy. Dalam orasinya dijelaskan bahwa Pendidikan kesehatan berkelanjutan merupakan salah satu bentuk pendidikan non formal. Pendidikan kesehatan berkelanjutan juga diperlukan untuk membantu para profesional kesehatan masyarakat mengikuti perkembangan terkini di bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dibahas secara mendalam dalam buku yang kami tulis bersama kolega dari Amerika Serikat (Prof Yashwant Pathak) dan telah diterbitkan oleh CRC Press oleh Taylor and Francis di tahun 2020 dengan judul Advancing Professional Development through CPE in Public Health.
Remaja menjadi salah satu sasaran potensial dalam upaya peningkatan kualitas Pendidikan secara komprehensif sesuai SDGs nomor 4. Namun ada banyak tantangan yang dihadapi remaja di era digitalisasi melalui paparan sosial media sehingga memiliki toleransi yang rendah terhadap frustrasi, dan berisiko untuk menunjukkan agresi, ketakutan, atau perilaku yang tidak sehat lainnya.
Selanjutnya, orasi disampaikan oleh Prof. Dr. Erma Safitri, Dokter Hewan., Magister Sains. Dalam orasinya dijelaskan Madu adalah salah satu dari tujuh produk lebah. Ketujuh produk lebah : madu, propolis, royal jelly, pollen, bee wax, roti lebah dan racun lebah (apitoxin). Namun Madu tetap menjadi yang paling utama di antara produk lebah yang lain. Kandungan gula dari madu > 75% berupa monosakarida, yang aman dikonsumsi, termasuk penderita diabetes. leh karena itu maka diperlukan suatu inovasi dalam upaya AKTIVASI STEM CELL dari dalam tubuh sendiri (endogenous stem cells) yaitu bahan yang dapat mengaktivasi stem cell dari luar tubuh, salah satunya melalui pemberian bahan alam, seperti MADU.
Melalui pemanfaatan madu akan menyebabkan stem cell endogen teraktivasi, selanjutnya termobilisasi bergerak menuju tempat yang defect sehigga disebut juga homing yang berarti menuju rumahnya dimana stem cell tersebut dibutuhkan. Proses lebih lanjut stem cell tersebut akan mengelami diferensiasi menjadi sel target (sel yang mengalami kerusakkan). Proses berikutnya setelah mengalami diferensiasi sehingga terjadi auto-regenerasi pada sel-sel dari jaringan yang mengalami kerusakan (degeneratif). Pada akhirnya kerusakan yang bersifat irreversible tersebut akan tergantikan oleh sel-sel baru dari stem cell sehingga akan terjadilah perbaikan (regeneratif) pada jaringan yang mengalami kerusakan tersebut.
Orasi selanjutnya, Prof. Dr. Epy Muhammad Luqman, Dokter Hewan., Magister Sains. Dalam orasinya dijelaskan Paparan bahan beracun pada induk bunting dapat memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi perkembangan organ janin. Hal ini karena selama masa perkembangan prenatal (kebuntingan), organ-organ janin sedang aktif tumbuh dan berkembang. Selama tahap perkembangan otak embrional, sel-sel neuron berkembang lebih awal dan mencapai puncak perkembangan pada pertengahan kebuntingan. Sel glial berkembang pada pertengahan kebuntingan hingga beberapa hari sebelum janin lahir dan mencapai puncak perkembangan pada akhir kebuntingan. Perkembangan otak kecil dimulai pada masa akhir kebuntingan dan berkembang maksimal (puncak) pada awal kelahiran (awal laktasi).
Seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membantu teratologi menjadi disiplin ilmu yang lebih maju dalam memahami dan mencegah cacat bawaan. Kejadian-kejadian kecacatan ini telah memberikan pelajaran penting dalam teratologi tentang pentingnya mengidentifikasi dan menghindari paparan bahan-bahan toksik selama kebuntingan untuk mencegah cacat bawaan. Penelitian teratologi modern melibatkan berbagai bidang, seperti embriologi, genetika, epidemiologi, dan ilmu lingkungan, untuk mengidentifikasi penyebab cacat bawaan, mengembangkan metode pencegahan, dan memberikan perawatan yang lebih baik kepada individu yang terkena cacat bawaan. Penelitian teratologi khususnya toksikologi perkembangan membantu dalam pengembangan praktik klinis yang lebih aman dan pedoman yang dapat melindungi kesehatan janin selama periode penting perkembangan prenatal.
Terakhir, orasi disampaikan oleh Prof. I Gede Wahyu Wicaksana, Sarjana Ilmu Politik, Magister Sains, Doctor of Philosophy. Dalam orasinya dijelaskan Posisi nonblok tidak konsisten dengan nilai-nilai yang terkandung dalam politik luar negeri bebas aktif. Acapkali terjadi kekeliruan intelektual maupun praktis yang menyamakan nonblok sepenuhnya sebagai wujud dari bebas aktif. Pengertian bebas aktif sebagaimana dituliskan oleh pencetusnya yakni Wakil Presiden Mohammad Hatta (1953) adalah bebas berarti Indonesia tidak boleh didikte ataupun diintervensi oleh Negara atau kekuatan asing dalam membuat keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan nasional. Sedangkan aktif bermakna Indonesia harus mengambil peran signifikan dalam urusan-urusan internasional yang menyangkut kepentingan nasional. Jadi bebas aktif sebenarnya adalah sebuah prinsip yang mengedepankan independensi dan aktivisme. Substansi bebas aktif ialah secara internal membela kedaulatan politik bangsa dan secara eksternal berpartisipasi atau berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah krusial antarbangsa yang berdampak terhadap pencapaian tujuan nasional Indonesia.
Tiga poin rekomendasi yang sekiranya bisa dipertimbangkan dan dijalankan guna mewujudkan tujuan kebijakan luar negeri multiblok. Pertama, karena transformasi dari nonblok menuju multiblok bersifat radikal, maka dibutuhkan sebuah desain besar atau grand design kebijakan luar negeri yang dijiwai interpretasi sejati bebas aktif. Nonblok, aliansi, multiblok dan lain-lain diformulasi sebagai pilihan-pilihan strategis yang relevan. Kedua, pada level struktural, perlu dilakukan penataan kelembagaan birokrasi diplomasi dan pertahanan nasional. Hal ini krusial, sebab Indonesia masih ‘pemula’ di permaianan multiblok. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan harus bersinergi sebagai dua ujung tombak implementasi strategi multiblok.
Ketiga, di lingkungan regional dimana peran multilateral-plus ASEAN harus direalisasikan, maka dibutuhkan review terhadap perangkat organisasi. Struktur normatif ASEAN, seperti kaedah perilaku, lembaga extra-regional, dan subregionalisme yang tidak relevan seharusnya tidak lagi mendapatkan perhatian. Karena fokus kebijakan dan strategi multiblok pada penguatan kolaborasi politik dan militer, maka Indonesia harus mempelopori pendekatan baru, misalkan forum pertahanan ASEAN sebagai instrumen institusional perumus kebijakan dan strategi pertahanan kolektif bersama Negara-negara adidaya untuk menggantikan pertemuan menteri-menteri pertahanan se-ASEAN yang hanya bersifat diplomatis.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Akhirnya, mari kita berdoa, semoga ilmu Prof. Trias Mahmudiono, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health (Nutrionis.), Doctor of Philosophy, GCAS. Prof. Dr. Santi Martini, dokter., Magister Kesehatan. Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Magister Kesehatan. Prof. Ira Nurmala, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Master Of Public Health, Doctor of Philosophy. Prof. Dr. Erma Safitri, Dokter Hewan., Magister Sains. Prof. Dr. Epy Muhammad Luqman, Dokter Hewan., Magister Sains. Prof. I Gede Wahyu Wicaksana, Sarjana Ilmu Politik, Magister Sains, Doctor of Philosophy. Semoga bisa memberikan manfaat bagi diri beliau, Universitas Airlangga, dan bangsa ini. Juga, semoga kita tidak lupa, bahwa apapun capaian atau prestasi yang kita peroleh, di hadapan Allah yang utama adalah ketaqwaan kita.
Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga Allah meridhai upaya kita semua.
Billahitaufiqwalhhidayah
Wassalaamu’alaikumwr.wb.
Rektor,
Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak.