Assalamu’alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatuh.
Alhamdulillah, wa syukurillah, wa laa haula walaa quwwata illa billahi. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihiajma’ien.
Yang terhormat,
Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Airlangga,
Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik Universitas Airlangga,
Para Wakil Rektor Universitas Airlangga,
Sekretaris Universitas Airlangga,
Para Guru Besar Universitas Airlangga dan Guru Besar Tamu,
Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Airlangga,
Para Direktur, Ketua Pusat, Lembaga, dan Badan di Lingkungan Universitas Airlangga,
Saudara Prof. Dr. Endang Suprihati, dokter hewan., Magister Science., Prof. Dr. Jola Rahmahani, dokter hewan, Magister Kesehatan., Prof. Dr. Alfinda Novi Kristanti, D.E.A., Prof. Dr. Noorma Rosita, Magister Science., Apoteker., Prof. Dr. Poedji Hastutiek, dokter hewan, Magister Science. dan Para undangan serta hadirin yang berbahagia
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan inayah-Nya, sehingga hari ini kita bisa hadir di acara istimewa ini. Yaitu, Sidang Terbuka Universitas Airlangga dalam Pengukuhan Jabatan Guru Besar kepada Prof. Dr. Endang Suprihati, dokter hewan., Magister Science., dalam bidang Ilmu Penyakit Protozoa pada Ternak. Prof. Dr. Jola Rahmahani, dokter hewan, Magister Kesehatan., dalam bidang Ilmu Mikrobiologi Veteriner. Prof. Dr. Alfinda Novi Kristanti, D.E.A, dalam bidang Ilmu Fitokimia Senyawa Fenolik. Prof. Dr. Noorma Rosita, Magister Science., Apoteker., dalam bidang Ilmu Teknologi dan Formulasi Sediaan Likuida Semisolisida. Prof. Dr. Poedji Hastutiek, dokter hewan, Magister Science., dalam bidang Ilmu Parasit Ternak, Lingkungan dan Pemukiman
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Dengan pengukuhan ini, Prof. Dr. Endang Suprihati, dokter hewan., Magister Science., menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan aktif ke-38, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-565, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-273, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 20 serta H- index: 4. Prof. Dr. Jola Rahmahani, dokter hewan, Magister Kesehatan., menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan aktif ke-39, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-566, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-274, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 23 serta H-index: 5. Prof. Dr. Alfinda Novi Kristanti, D.E.A., menjadi Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi aktif ke-21, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-567, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-275, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 73 serta H- index: 8. Prof. Dr. Noorma Rosita, Magister Science., apoteker., menjadi Guru Besar Fakultas Farmasi aktif ke-34, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-568, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-276, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 32 serta H- index: 4. Prof. Dr. Poedji Hastutiek, dokter hewan, Magister Science., menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan ke-40, Guru Besar yang dimiliki UNAIR sejak berdiri ke-569, Guru Besar UNAIR PTN Berbadan Hukum ke-277, dan memiliki Jumlah Dokumen Publikasi terindeks Scopus: 21 serta H- index: 6.
Semoga pengukuhan guru besar hari ini juga menginspirasi para akademisi yang lain untuk segera menjadi guru besar. Dengan banyaknya Lektor Kepala yang kita miliki, artinya kita punya potensi untuk menambah guru besar dalam jumlah yang cukup besar. Tentu, dengan kemauan yang keras, mereka pasti juga mampu mencapai jabatan guru besar ini. Tolong disadari, bahwa pencapaian guru besar ini bukan saja merupakan capaian pribadi sebagai seorang dosen, namun juga menjadi capaian universitas yang sangat penting. Dengan dikukuhkannya lima guru besar baru pada hari ini, berarti UNAIR memiliki tambahan SDM yang secara kapasitas sudah sangat teruji keilmuannya. Hal ini, tentunya akan membuat keberadaan UNAIR semakin diakui oleh masyarakat dan dunia. Sebab, jabatan guru besar menunjukkan pengakuan akan kompetensi di bidang akademik. Dengan demikian, semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan bahwa semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak pada penilaian terhadap UNAIR yang semakin baik, dan ini akan semakin meningkatkan kualitas kita semua sebagai salah satu dari jajaran kampus terbaik di dunia yang kini telah raih di posisi 369.
Untuk Prof. Dr. Endang Suprihati, dokter hewan., Magister Science., Prof. Dr. Jola Rahmahani, dokter hewan, Magister Kesehatan., Prof. Dr. Alfinda Novi Kristanti, D.E.A., Prof. Dr. Noorma Rosita, Magister Science., apoteker., Prof. Dr. Poedji Hastutiek, dokter hewan, Magister Science., UNAIR berharap, setelah pengukuhan guru besar ini, kontribusi Saudara kepada Universitas Airlangga akan semakin besar. Setelah memperoleh jabatan tertinggi di bidang akademik ini, semangat menulis, mengajar, mengabdi, dan meneliti bukan kendur, tapi justru harus ditingkatkan untuk memberi kemaslahatan yang lebih besar.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Orasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Endang Suprihati, dokter hewan., Magister Science., dengan judul Pengendalian Leucocytozoonosis (Malaria like Disease) Pada Ayam Ras Melalui Eksplorasi Riset dan Pendekatan Diaknosa Molekuler. Dalam orasi pembuka dijelaskan Leucocytozoon adalah parasit protozoa darah termasuk famili Plasmodiidae yang menyerang unggas. Pada ayam ras, L. caulleryi adalah protozoa yang sangat pathogen, ditularkan oleh gigitan Culicoides spp., sering terjadi di beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Seringkali deteksi parasit Leucocytozoon pada ayam hanya terbatas pada analisis morfologi parasit menggunakan mikroskop dengan metode ulas darah, yang terkadang gagal menemukan parasit pada kasus parasitemia yang rendah, apalagi stadium gamet dari parasit ini hanya berada di sirkulasi darah dalam interval waktu satu minggu. Identifikasi Leucocytozoon spp., berdasarkan morfologi seringkali tidak bisa menentukan sampai pada level spesies karena ada variasi morfologi yang sangat banyak, sehingga kesulitan dalam mengkarakterisasi morfologi parasit jika hanya menggunakan pemeriksaan mikroskop. Oleh karena itu, pendekatan dan pengembangan metode diagnosis secara molekuler dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) sangat perlu untuk diterapkan, mengingat metode ini belum banyak dikembangkan di Indonesia untuk deteksi Leucocytozoonosis.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa L. caulleryi merupakan spesies yang paling mendominasi pada berbagai wilayah endemis dan sangat berpotensi menimbul kan kerugian pada industri peternakan ayam ras apabila tidak dilakukan pengendalian yang tepat.. Namun demikian, penelitian lebih lanjut dalam pemetaan penyakit secara molekuler di wilayah lain yang belum pernah ada data sangat diperlukan. Untuk keberlanjutan tersebut, diperlukan kolaborasi berbagai pihak, agar diperoleh hasil penelitian yang komprehensif. Diharapkan hasil deteksi spesies penyebab Leucocytozoonosis dapat dijadikan sebagai basis data ilmiah dalam mewujudkan formulasi yang mendukung pengendalian penyakit dalam bentuk rapid test diagnostic dan vaksin, yang tentunya memberikan manfaat untuk peningkatan kualitas kesehatan ayam ras dan meminimalisir kerugian ekonomi para pelaku usaha peternakan ayam ras terutama yang berada di wilayah endemis Leucocytozoonosis.
Orasi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Jola Rahmahani, dokter hewan, Magister Kesehatan., dengan judul PERJALANAN VIRUS RABIES DAN PERKEMBANGAN RISET VAKSIN MENUJU INDONESIA BEBAS RABIES 2030. Dalam paparan pembuka dijelaskan bahwa Penyakit rabies merupakan penyakit viral yang menyerang sistem syaraf pada mamalia dan merupakan penyakit zoonosis. Penyakit rabies berakibat fatal karena mampu menyebabkan kematian serta merupakan salah satu penyakit yang mendapat perhatian dari Badan Organisasi Kesehatah Dunia (WHO) dan Badan Kesehatan Hewan Dunia (WAHO) karena menjadi permasalahan di beberapa negara dengan berbagai level resiko. Diseluruh dunia, diperkirakan terjadi 40.000-70.000 kasus kematian akibat rabies yang ditularkan ke manusia setiap tahunnya, oleh karena itu dalam rangka pemberantasan rabies pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai Indonesia bebas rabies tahun 2030, salah satunya melalui program vaksinasi.
Pemberatasan rabies melalui program vaksinasi di Indonesia masih mengalami berbagai hambatan yang dapat ditinjau dari aspek budaya, sosial dan ekonomi seperti keragaman budaya memberikan perbedaan cara pandang masing-masing suku bangsa terhadap anjing sebagai hewan penular utama rabies yang mana meningkatkan kerentanan terinfeksi dan sebagai bahan konsumsi. Penelitian surveilans virus rabies di Indonesia merupakan faktor penting dalam menentukan galur virus rabies untuk vaksinasi kedepannya karena Indonesia terdiri dari berbagai pulau yang berpotensi adanya perbedaan jenis virus rabies yang bersirkulasi di setiap pulau, seiring dengan hal tersebut pengembangan vaksin yang tepat diharapkan mampu berperan aktif dalam menurunkan kasus rabies di Indonesia. Kerjasama antar sektoral, penelitian, pendanaan yang memadai serta surveilans dan pendaataan yang lengkap menjadi langkah awal dalam pemberantasan rabies di Indonesia diikuti dengan pengembangan vaksin sangatlah diperlukan untuk menghentikan penyebaran rabies pada hewan dan menyelamatkan jiwa manusia dari kematian akibat gigitan hewan penular rabies.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Orasi ketiga disampaikan oleh Prof. Dr. Alfinda Novi Kristanti, D.E.A., dengan judul “Kajian Fitokimia Senyawa Fenolik Tanaman Asli Indonesia sebagai Sumber Bahan Baku Obat Potensial”. Pada orasi pembuka dijelaskan bahwa Tanaman mampu melakukan komunikasi, baik dengan sesamanya maupun dengan makhluk hidup lain, dan dengan lingkungan tumbuhnya. Sebagi respon dari komunikasi tersebut, tanaman antara lain menghasilkan senyawa beracun bagi pemangsanya, memproduksi warna dan bau yang menarik serangga untuk membantunya berkembang biak, dan memproduksi senyawa kimia yang membantunya bertahan terhadap lingkungan yang mencekamnya. Dari proses tersebut, kemudian dikenal beribu-ribu senyawa metabolit sekunder dengan struktur yang bervarisasi, dengan berbagai bioaktivitas yang telah banyak dimanfaatkan manusia. Sintesis dengan beberapa variasi struktur benzaldehid, menghasilkan 9 senyawa golongan 2-styrylchromone. Selanjutnya dilakukan studi in silico dengan docking experiment menggunakan protein yang sering digunakan sebagai target obat potensial untuk pengembangan kemoterapi kanker. Senyawa dengan tiga gugus metoksi pada cincin benzena adalah senyawa yang paling aktif di antara senyawa hasil sintesis. Hal ini sejalan dengan pendapat seorang peneliti yang menyatakan bahwa senyawa tersebut menunjukkan aktivitas sitotoksik yang tinggi terhadap beberapa human cell lines. Selanjutnya disintesis lagi 3 senyawa turunan 2-strylchromones yang berbeda tipe. Hasil analisis in silico dengan Simulasi Dinamika Molekuler menunjukkan bahwa senyawa hasil sintesis memiliki potensi yang menjanjikan sebagai inhibitor.
Rangkaian penelitian ini adalah suatu contoh bagaimana alam telah memberikan ide struktur senyawa untuk dilakukan sintesis senyawa dengan potensi aktivitas yang lebih baik dan kemungkinan untuk menyediakannya dalam jumlah besar. Penelitian dalam Riset Grup berfokus pada peningkatan biomasa dan kandungan metabolit sekunder menggunakan kultur akar adventif tanaman. Tujuan utama dari riset yang berkesinambungan ini adalah tersedianya bahan baku obat dari akar tanaman secara konsisten dan seragam. Upaya pengembangan potensi tanaman ini juga dilakukan dengan memanfaatkan tekonologi nano. Dari penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa bentuk nanokapsul ekstrak tanaman dapat meningkatkan aktivitas anti-dengue, sekaligus menurunkan toksisitas ekstrak.
Orasi keempat disampaikan oleh Prof. Dr. Noorma Rosita, Magister Science., apoteker., dengan judul Potensi Dampak Perkembangan Teknologi Formulasi terhadap Keamanan Kosmetik. Pada orasi pembuka dijelaskan bahwa Perkembangan kebutuhan Kosmetika skin care akhir-akhir ini melonjak cukup tajam. Kosmetika skin care ditinjau dari tujuan penggunaannya, termasuk kosmetik deep effect. Selain deep effect dikenal ada kosmetik surface effect, seperti halnya kosmetik dekoratif dan tabir surya anorganik. Dengan maraknya kosmetik skin care jenis antiaging dan pencerah, agar kosmetik tersebut memberi manfaat sesuai klaim yang tertulis pada kemasannyaa, maka aspek manfaat juga menjadi sangat diperhitungkan. Untuk dapat memberi manfaat, mula-mula yang mutlak diperlukan adalah kemampuan bahan aktif dapat lepas (release) dari basisnya. Selanjutnya khusus untuk kosmetika deep effect, bahan aktif harus dapat berpenetrasi menembus lapisan kulit. Permasalahnya adalah tidak semua bahan aktif dapat menembus sawar kulit, yaitu stratum korneum.
Berdasar keamanannya, secara regulasi, bahan aktif kosmetik dikelompokkan menjadi 3: dilarang digunakan, diperbolehkan dengan batasan kadar, dan yang bebas digunakan. Dampak keamanan akibat perkembangan desain formula kosmetik terutama pada bahan aktif yang ada pembatasan kadar. Apakah batasan itu sudah memperhitungkan penggunaan sistem penghantar inovatif tersebut? Tentunya perlu kajian mendalam terkait itu dan pihak industri seyogyanya menginformasikan pada yang berwenang mengeluarkan notifikasi (semacam ijin edar untuk kosmetik), dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai teknologi yang diterapkan pada pembuatan sediaannya.
Selanjutnya, orasi terakhir disampaikan oleh Prof. Dr. Poedji Hastutiek, dokter hewan, Magister Science., dengan judul Scabies Penyakit Zoonosis yang Terabaikan dan Pengembangan Pengendaliannya dengan Tanaman Permot sebagai Bioacarisida. Pada orasi pembuka dijelaskan bahwa Scabies sebagai Masalah Kesehatan Global. Scabies atau kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Tungau Sarcoptes telah dilaporkan menginfestasi lebih dari 100 spesies mamalia termasuk manusia dan hewan. S. scabiei var. hominis, penyebab scabies pada manusia telah menginfestasi lebih dari 300 juta orang penduduk setiap tahun. Scabies termasuk dalam emerging/re-emerging parasitic disease yang dapat mengancam kesehatan hewan dan manusia di dunia, penularan dapat terjadi dari hewan ke manusia hingga termasuk ke dalam daftar penyakit zoonosis. Scabies tertinggi ada di negara-negara beriklim tropis dan padat penduduk yakni Indonesia, Cina, Timor Leste, Vanuatu dan Fiji.
Kandungan senyawa aktif flavonoid (golongan senyawa polifenol) yang masuk melalui kutikula dapat merusak membran sel tungau. Flavonoid juga sebagai antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas sehingga mencegah kerusakan sel dan imunomodulator yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu, menghambat pertumbuhan bakteri (pada infeksi sekunder). Sedangkan senyawa isophytol dan phytol, keduanya merupakan bagian dari terpenoid yang bersifat sebagai acarisida dan antibakteri. Senyawa aktif alkaloid, flavonoid dan terpenoid mempengaruhi proses kesembuhan kulit yang bekerja dengan cara merangsang pembentukan sel-sel baru dan mempercepat kesembuhan. Daun Permot berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioacarisida untuk scabies yang ramah lingkungan, dapat memberikan manfaat untuk kesehatan ternak dan memaksimalkan pendapatan peternak.
Ketua, Anggota Senat, dan hadirin yang berbahagia
Akhirnya, mari kita berdoa, semoga ilmu Prof. Dr. Endang Suprihati, dokter hewan., Magister Science., Prof. Dr. Jola Rahmahani, dokter hewan, Magister Kesehatan., Prof. Dr. Alfinda Novi Kristanti, D.E.A., Prof. Dr. Noorma Rosita, Magister Science., apoteker., Prof. Dr. Poedji Hastutiek, dokter hewan, Magister Science., bisa memberikanmanfaat bagi diri beliau, Universitas Airlangga, dan bangsa ini. Juga, semoga kita tidak lupa, bahwa apapun capaian atau prestasi yang kita peroleh, di hadapan Allah yang utama adalah ketaqwaan kita.
Demikian, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga Allah meridhai upaya kita semua.
Billahitaufiqwalhhidayah
Wassalaamu’alaikum wa-rahmatullahi wa-barakatuh
Rektor,
Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak.