UNAIR NEWS – “Sumber daya manusia (SDM) menjadi ujung tombak pertama dalam mendorong langkah Universitas Airlangga menjadi kampus kelas dunia”. Begitulah pernyataan yang dilontarkan Direktur SDM UNAIR Dr. Purnawan Basundoro, M.Hum., kepada UNAIR News pada Rabu (8/11).
SDM dalam hal ini, menurut dia, meliputi dosen dan tenaga kependidikan (tendik). Keduanya merupakan pilar yang terus didorong untuk bergerak ke arah internasional. Berbagai kebijakan pun dikeluarkan. Pada pihak dosen, Purnawan menyatakan bahwa pihaknya berupaya mendorong dosen agar melakukan tiga pokok pengamalan tri dharma perguruan tinggi yang mendunia.
Selain itu, pakar sejarah perkotaan itu juga menambahkan, perihal riset, pihaknya mendorong para dosen melakukan kolaborasi riset dengan kampus luar negeri. Tujuannya, luaran hasil riset bisa dimuat di jurnal internasional.
”Proses pengajaran, riset, dan pengabdian masyarakat harus mendunia. Bagi dosen yang sudah mempunyai pengalaman internasional, kita tinggal memoles sedikit. Bagi dosen yang belum, kami dorong untuk ke sana melalui kursus dan sekolah ke jenjang selanjutnya di luar negeri,” paparnya.
Untuk tendik, Purnawan mengimbau mereka bisa mengimbangi kebijakan universitas. Sebab, lanjut dia, peran tendik dalam mendukung langkah UNAIR menuju 500 Dunia setara dengan dosen. Karena itu, berbagai kebijakan untuk mengantarkan tendik ke pentas dunia telah diterapkan. Misalnya, kursus bahasa asing dan pertukaran staf ke luar negeri.
”Kami mengeluarkan kebijakan untuk mendorong tendik kursus bahasa asing dan pergi ke luar negeri. Karena apa? Tendik itu harus mengenal dunia luar. Tendik harus punya pengalaman dan mengenal perguruan tinggi serta budaya kerja kampus yang maju seperti apa,” tuturnya.
Pada akhir, Purnawan menegaskan bahwa langkah tersebut diambil guna mengubah kultur kerja yang selama ini dinilai belum maksimal. Sebab, dengan memberikan bekal belajar di kampus lain, dia berharap kultur kerja yang baik dari luar negeri bisa diterapkan di lingkungan UNAIR.
”Jika selama ini sulit berkembang, ini mungkin karena tidak ada referensi. Jadi, kami kirim ke luar negeri agar tahu budaya kerja yang baik di sana seperti apa. Serta, belajar sistem yang ada di sana agar kita bisa setara,” pungkasnya. (*)
Penulis: Nuri Hermawan
Editor: Feri Fenoria





