UNAIR NEWS – Warisan kejayaan Mataram Islam masih terasa hingga kini, melalui dua pusat kebudayaan yang lahir dari perpecahan dinasti tersebut, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kedua kerajaan ini menjadi saksi sejarah panjang perjalanan politik dan budaya Jawa, yang hingga kini tetap berdiri di tengah arus modernisasi.
Terbentuk akibat Perjanjian Giyanti tahun 1755, keduanya menapaki jalur perkembangan yang berbeda namun tetap mempertahankan identitas sebagai penjaga warisan leluhur. Berada di kawasan Vorstenlanden yang memiliki status istimewa pada masa kolonial, wilayah ini terkenal unik. Pasalnya, kawasan ini nyaris luput dari tekanan penjajahan dan kebijakan tanam paksa. Hal tersebut menjadikannya sebagai simbol kekuatan budaya dan ketahanan sejarah di tanah Jawa.
Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Moordiati SS M Hum menyoroti adanya disparitas dalam perkembangan kedua pusat kebudayaan tersebut. Menurutnya, perkembangan kontemporer lebih banyak terlihat di Yogyakarta. Sebaliknya, di Surakarta, nuansa tradisional masih sangat kental di mana keraton masih terkesan terlalu mendewakan penguasa atau raja sebagai pemegang otoritas tertinggi.
Perbedaan Arsitektur dan Nuansa Historis
Perbedaan mendasar antara Keraton Surakarta dan Yogyakarta terlihat jelas pada aspek arsitektur dan nuansa historis yang menyelimutinya. Dari sisi arsitektur, Kasunanan Surakarta memiliki elemen khas berupa Songgobuwono yang tidak dimiliki Kasultanan Yogyakarta. “Songgo itu menyangga, buwono itu bumi,” jelas Moordiati.

Bangunan tersebut melambangkan tempat spiritual di mana seluruh raja-raja Jawa bertemu dan menghadap Laut Selatan dengan harapan mendapatkan wangsit atau wahyu kepemimpinan. Meskipun demikian, kedua keraton masih memiliki kesamaan struktural tata ruang kota tradisional Jawa.
“Secara historis, Yogyakarta lebih dekat dengan pemerintahan Indonesia dan rakyatnya. Kedekatan ini terbangun karena hubungan yang erat dengan era Revolusi Indonesia. Di mana saat itu Yogyakarta memainkan peran penting dan pernah menjadi ibu kota negara,” jelasnya. Aspek kesejarahan inilah yang membuat nilai historis Yogyakarta menjadi jauh lebih melekat dan mendapatkan pengakuan daripada Surakarta.
Posisi Kedua Keraton dalam Pandangan Sejarawan
Secara keseluruhan, Moordiati mengungkapkan bahwa sejarawan cenderung bersikap netral dan tidak memposisikan kedua keraton ini pada posisi yang terlalu sakral dalam narasi sejarah modern. Namun, Keraton Yogyakarta dianggap memiliki posisi yang sedikit berbeda. Hal ini tak lain karena keraton tersebut pernah secara langsung mengalami masa revolusi dan berada dalam garis depan perjuangan kemerdekaan. Keterkaitan historis Yogyakarta dengan kelahiran dan konsolidasi Republik Indonesia inilah yang memberikan bobot narasi sejarah yang lebih kuat dibandingkan Keraton Kasunanan Surakarta.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





