UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga menggelar (UNAIR) rangkaian acara Semarak Ramadan pada Kamis (13/4/2023). Acara itu berlangsung secara terbuka bersamaan dengan bazar Ramadan, penampilan band vokasi, pembacaan ayat suci al Quran, dan kajian.
Ustaz Dr Kholili Hasib MUd, pembicara dalam kajian tersebut berfokus pada Lailatul Qadar. Menurutnya, terdapat tiga makna penting mengenai Lailatul Qadar. Makna pertama adalah malam yang agung.
“Penyebutan sebagai sesuatu yang agung karena memang malam hari ini memang malam yang agung dari sekian banyak malam yang Allah ciptakan,” jelasnya pada gelaran Semarak Ramadan BEM FV UNAIR.
Makna kedua dari malam Lailatul Qadar adalah ketetapan. Malam itu, jelasnya, memiliki kesinambungan dengan malam Nisfu Syakban. Ketetapan dalam makna kedua adalah mengenai catatan amal dan takdir seseorang ke depannya.
“Malam hari itu Allah menyerahkan catatan yang telah Allah tetapkan pada malam Nisfu Syakban di Lailatul Qadar. Malam saat Allah menetapkan amal kebaikan, menetapkan takdir kehendak Allah SWT, bagaimana nasib kita satu tahun ke depan,” sambungnya.
Ketiga, lanjutnya, pemaknaan Lailatul Qadar sebagai malam kesempitan. Artinya, pada malam itu malaikat berbondong-bondong turun dan memenuhi bumi.
“Pada malam hari itu, malaikat-malaikat yang ada di langit turun berdesakan memenuhi bumi sehingga pada Lailatul Qadar tidaklah sejengkal tanah di muka bumi kecuali penuh sesak dengan kehadiran malaikat-malaikat Allah SWT,” lanjutnya.
Raih Kemuliaan
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sepuluh hari terakhir merupakan intisari dari bulan Ramadan. Rasulullah juga menyatakan bahwa malam Lailatul Qadar terdapat di sepuluh malam tersebut. “Kata Rasulullah SAW, carilah malam Lailatul Qadar di malam-malam ganjil sepuluh malam terakhir bulan Ramadan,” ujarnya.
Ada beberapa amalan yang sebaiknya dimaksimalkan saat berusaha meraih Lailatul Qadar. Selain perbanyak membaca Al-Qur’an, Ustaz Kholili merincinya dalam empat amalan yang harus istiqomah (konsisten, -red).
“Pertama, jangan lepas salat isya berjamaah. Yang kedua, jangan tinggalkan ba’diyah isya, Lalu melaksanakan qobliyah subuh dan juga salat subuh berjamaah,” rincinya.
Amalan-amalan tersebut merupakan amalan yang berada pada batas minimal. Karena telah diberi kesempatan untuk meraih Lailatul Qadar, sudah sepantasnya umat Islam untuk berlomba-lomba melaksanakan dan memaksimalkan amalan baik.
“Allah telah sampaikan kita pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, maka kalau kita sia-siakan kesempatan ini, betapa sayangnya kita ini meninggalkan sesuatu yang Allah telah anugerahkan kepada kita,” tutupnya.
Penulis: Muhammad Badrul Anwar
Editor: Nuri Hermawan





