UNAIR NEWS – Menanggapi masifnya pergeseran sastra di media cetak ke digital, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan seminar bertema Dari Buku ke Aliran Konten: Memahami Sastra dan Budaya di Era Digital. Kegiatan tersebut mengulas bagaimana sastra dan budaya bertransformasi dalam ekosistem digital serta tantangan dan peluang yang muncul. Seminar tersebut berlangsung pada Rabu (26/11/2025) di Ruang Majapahit, Lantai 5 Tower ASEEC, Kampus Dharmawangsa-B.
Paradoks Era Digital
Wakil Dekan II FIB UNAIR, Dr Listiyono Santoso SS MHum, menekankan bahwa perubahan lanskap digital turut memengaruhi pola konsumsi dan produksi sastra. Ia menyinggung rendahnya tingkat literasi nasional pada 2024. Di sisi lain, ia juga menggarisbawahi geliat baru kultur baca yang digerakkan Generasi Z melalui platform digital.
Menurutnya, perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan teks. Mulai dari buku fisik hingga konten digital menjadi alasan penting mengapa kajian sastra digital perlu dikembangkan secara lebih serius. “Semoga seminar ini dapat membuka perspektif baru mengenai transformasi sastra dan memperkuat kontribusi akademik dalam pengembangan literasi di ruang digital,” harapnya.
Sastra Bermatra Jamak
Dosen FIB, Bramantio MHum yang menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut menyinggung soal sastra bermatra jamak. Ia menekankan bahwa interaksi sastra digital rentan terhadap noise atau gangguan makna. “Contohnya, adanya kata ‘terserah’ dan ‘nggak apa-apa’ yang sering disalahpahami pembaca,” ujarnya. Menurutnya, kecepatan arus informasi digital tidak selalu memberi ruang bagi nuansa emosional, konteks, dan interpretasi mendalam, sehingga peluang kesalahpahaman menjadi tinggi.
Ia juga menyoroti kecenderungan karya digital masa kini yang minim mengaplikasikan defamiliarisasi, yakni teknik yang membuat hal-hal biasa terasa baru. Sebaliknya, banyak karya bertumpu pada visual dan elemen non verbal, seperti ilustrasi tambahan dan musik. Perubahan ini, menurutnya, berdampak langsung pada cara pembaca memaknai teks.
Ia menambahkan bahwa perubahan pola komunikasi ini juga terlihat dalam tren promosi literasi, seperti polling cover buku di media sosial hingga interaksi langsung pengarang dan pembaca melalui komentar. “Dinamika tersebut membuka potensi pengembangan wacana, namun sekaligus menuntut metode pembacaan baru yang lebih adaptif,” imbuhnya.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





