UNAIR NEWS – Mahasiswa UNAIR yang tergabung dalam program KKN BBK 6 (Belajar Bersama Komunitas) menghadirkan solusi kreatif dan ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan sampah di Desa Bandungan, Kecamatan Saradan. Bertajuk ‘Si Moggy-Ban’ (Sistem Maggot Bandungan), program ini merupakan buah kolaborasi antara mahasiswa UNAIR, perangkat desa, Komunitas Wanita Tani (KWT), dan pelaku pasar tradisional setempat.
Salah satu sorotan tim KKN BBK 6 UNAIR Desa Bandungan adalah permasalahan sampah di area pasar desa yang telah lama menjadi persoalan. Sampah organik yang berasal dari aktivitas pasar tradisional seringkali menumpuk tanpa penanganan yang memadai. Sampah tersebut menimbulkan bau, mengundang hama penyakit, hingga mencemari lingkungan.
Memanfaatkan Maggot
Berangkat dari keresahan tersebut, delapan mahasiswa UNAIR merancang program inovatif berbasis lingkungan bertajuk “Si Moggy-Ban” (Budidaya Maggot Bandungan). Program ini merupakan solusi ekologis melalui pemanfaatan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik pasar dan rumah tangga.
Sosialisasi perdana berlangsung pada Senin (14/7/2025) di Balai Desa Bandungan, hadir dalam kegiatan ini perangkat desa, Komunitas Wanita Tani (KWT), hingga perwakilan pedagang pasar. Abyan Rakan selaku tim KKN BBK 6 Bandungan menyampaikan, “Permasalahan sampah di Bandungan sangat cocok kita tangani dengan budidaya maggot. Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi juga gerakan berkelanjutan yang akan monitor mingguan.”
Ia menambahkan bahwa budidaya maggot ini mendukung beberapa poin dalam SDGs (Sustainable Development Goals) karena manfaatnya begitu luas di bidang ekonomi dan lingkungan. Budidaya maggot dapat membantu mengelola limbah organik dengan mengubahnya menjadi pakan bernutrisi tinggi, mengurangi pencemaran dan mempromosikan ekonomi sirkular berdasarkan SDGs ke-12. Pada SDGs ke-13 dengan fokus Climate Action melakukan pengolahan limbah organik secara efisien, mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembusukan limbah dan mengurangi ketergantungan pada pakan konvensional yang tidak ramah lingkungan.
Kolaborasi antara mahasiswa, warga, komunitas pasar, dan KWT menjadi modal sosial penting untuk mewujudkan Desa Bandungan yang bersih, sehat, dan berdaya secara berkelanjutan. “Diharapkan, gerakan “Si Moggy-Ban” tak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga menjadi budaya baru di tengah masyarakat.” tutup Abyan.
Penulis : Panca Ezza Aisal Saputra
Editor : Ragil Kukuh Imanto





