Universitas Airlangga Official Website

Siap Mengabdi Siap Beraksi, Mahasiswa UNAIR Dibekali Ilmu Lapangan Jelang BBK 6

Ketua LLPM Unair, Prof Dr Gadis Meinar Sari dr M Kes sedang mmneri sambutan pada via daring pembekalan BBK 6, Sabtu (21/52025). (dok: penulis)
Ketua LLPM Unair, Prof Dr Gadis Meinar Sari dr M Kes sedang mmneri sambutan pada via daring pembekalan BBK 6, Sabtu (21/52025). (dok: penulis)

UNAIR NEWS – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga (UNAIR) resmi menggelar kegiatan Pembekalan Belajar Bersama Komunitas (BBK) 6 pada Sabtu, 21 Juni 2025 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi titik awal bagi ratusan mahasiswa UNAIR yang akan menjalani pengabdian masyarakat secara langsung pada 7 Juli hingga 4 Agustus 2025 mendatang.

Dalam sambutannya, Prof Dr Gadis Meinar Sari dr M Kes, menyatakan bahwa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 6 bukan sekadar program akademik, namun juga sarana aktualisasi diri mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. “Mahasiswa diharapkan bisa menerapkan ilmu yang diperoleh di kampus untuk menjawab persoalan nyata masyarakat, sekaligus menjaga nama baik UNAIR dengan mengedepankan etika, adat istiadat, dan sopan santun di lokasi pengabdian,” pesannya.

Membawa Ilmu, Menyusun Strategi, dan Berinovasi

Pembekalan menghadirkan sejumlah pemateri lintas fakultas yang membekali mahasiswa dengan pengetahuan tematik dan teknis. Dr Pratiwi Soesilowati drg M Kes, menjelaskan prinsip dasar BBK yang meliputi fleksibilitas, kesinambungan, lokalitas, dan pemberdayaan. “BBK bukan program tempelan. Ia harus berbasis kebutuhan riil masyarakat dan dirancang agar berkelanjutan,” tegasnya.

Dr Pratiwi Soesilowati drg M Kes sedang memberikan penjelasan status dasar penyelenggaraan BBK Universitas Airlangga, Sabtu (21/6/2025). (dok: penulis)

Dr Nurina Fitriani ST dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) membawakan materi Materi pengolahan air. Ia menekankan pentingnya pemenuhan air bersih dan higienis di wilayah yang terbatas infrastruktur. “Gunakan teknologi sederhana seperti saringan pasir, kerikil, genteng, dan ijuk yang bisa menjadi murah dan mudah dalam perawatannya,” jelasnya.

Sementara itu, Anisa Lailatul Fitria S Gz M Sc dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) menjelaskan strategi pencegahan stunting. Menurutnya, intervensi gizi berbasis pangan lokal bisa lebih efektif jika hadie beserta edukasi. “Masih banyak anggapan bahwa makanan bergizi itu harus daging dan susu mahal. Padahal pangan lokal kita sangat kaya, tinggal bagaimana cara mengolah dan mengedukasikan,” tuturnya.

Dokumentasi Kreatif dan Pengembangan Produk Unggulan Daerah

Materi creative writing dan video oleh Bayu Mahardika dari FISIP yang menekankan pentingnya creative writing dan video dokumenter dalam setiap proyek. Ia menyarankan mahasiswa menyusun narasi program dengan pendekatan storytelling berbasis data dan fakta lapangan.

Prof Wiwied Ekasari Dra Apt M Si dari Fakultas Farmasi mengisi sesi terkahir yang membahas potensi tanaman khas daerah. “Tanaman seperti kelor bisa menjadi produk herbal unggulan. Mahasiswa bisa membantu edukasi, menghitung harga jual, dan merancang kemasan yang menarik,” ujarnya.

Dengan pembekalan ini, output-nya adalah mahasiswa UNAIR mampu hadir sebagai penggerak solusi, membawa perubahan nyata, dan membangun sinergi bersama masyarakat demi kemajuan lokal yang berkelanjutan.

Penulis : Panca Ezza Aisal Saputra

Editor  : Ragil Kukuh Imanto