UNAIR NEWS – Rasa cinta terhadap tim sepak bola kesayangan tak jarang melampaui batas kewajaran. Di Indonesia, sepak bola dijuluki sebagai second religion. Semangat mendukung tim seringkali berubah menjadi bentuk hyper nationalism yang berujung pada perilaku negatif, termasuk cyberbullying dan aksi anarkisme.
Rizky Sugianto Putri SAnt MSi Dosen Antropologi FISIP UNAIR mengungkapkan bahwa riset terbarunya yang berfokus pada bagaimana nasionalisme yang berlebihan mempengaruhi perilaku suporter. Baik di dunia nyata maupun digital.
“Indonesia termasuk dalam 20 besar negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, bahkan nomor dua di Asia. Tapi semangat yang besar ini, kalau tidak dikelola dengan baik, bisa berubah menjadi sesuatu yang destruktif,” ujarnya.
Manifestasi Hyper Nationalism
Dosen yang akrab disapa Kiki menyebut salah satu manifestasi nyata dari hyper nationalism ini adalah cyberbullying. Terutama ketika tim nasional atau klub kesayangan kalah. Para suporter kerap meluapkan kekecewaannya di media sosial dengan serangan verbal kepada pemain, wasit, bahkan suporter lawan.
Fenomena ini tidak hanya mencoreng semangat sportivitas, tetapi juga menimbulkan trauma psikologis bagi pihak yang menjadi sasaran. Tak berhenti di ranah digital, dampak hyper nationalism juga terasa di ruang fisik. Euforia kemenangan yang seharusnya dirayakan secara damai kerap berubah menjadi aksi konvoi yang mengganggu ketertiban umum. Bahkan dalam kasus ekstrem, seperti tragedi Kanjuruhan di Malang yang menewaskan lebih dari 130 orang, hyper nationalism telah memakan korban jiwa.
“Tragedi itu tak hanya menyisakan luka bagi suporter, tapi juga warga sekitar stadion, pedagang, dan keluarga korban. Ini bentuk nyata ketika nasionalisme dalam olahraga tidak disalurkan dengan benar,” ujarnya.
Inklusivitas Suporter
Riset ini merupakan riset multidisiplin, melibatkan tiga program studi di FISIP, yakni Antropologi, Ilmu Hubungan Internasional, dan Ilmu Komunikasi. Anggota riset pun adalah akademisi yang memiliki kepakaran di bidang masing-masing, seperti Citra Hennida SIP MA di bidang global governance, dan Irfan Wahyudi PhD di bidang komunikasi digital. Selain itu, riset ini juga melibatkan tenaga kependidikan dan mahasiswa FISIP UNAIR, yakni Rachmad Kuncoro, Salma, Putra, dan juga Dani.
Riset yang berfokus pada kelompok suporter bola ini sangat relevan dengan poin SDGs poin 10, yakni Mengurangi Kesenjangan dan poin 11, yakni Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terkait inklusivitas dan komunitas. “Bagaimana kita melihat bahwa suporter dari berbagai tim merupakan komunitas raksasa di Indonesia, yang mampu menggerakkan banyak hal, termasuk mobilitas politik,” ungkap Kiki.
Riset ini juga menyoroti pentingnya inklusivitas dalam komunitas suporter. Selama ini, banyak stadion di Indonesia belum menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk semua kalangan. “Banyak perempuan, anak-anak, bahkan orang tua merasa takut datang ke stadion karena suasana yang tidak ramah. Sepak bola kita masih terasa eksklusif untuk kelompok tertentu saja,” tambahnya.
Dari hasil penelitian ini, diharapkan muncul rekomendasi yang dapat digunakan oleh pihak-pihak terkait, seperti PSSI dan Kemenpora, untuk menyusun manajemen suporter yang lebih terstruktur. Tujuannya jelas: menciptakan ruang sepak bola yang lebih sehat, aman, dan inklusif.
“Ketika kita tahu karakter dan pola perilaku suporter, kita bisa menyusun pendekatan yang tepat agar mereka tetap bisa mengekspresikan dukungan tanpa merugikan orang lain. Sepak bola harus menjadi ruang persatuan, bukan perpecahan,” tutupnya.
Penulis: Humas FISIP
Editor: Yulia Rohmawati





