Universitas Airlangga Official Website

Soft Diplomacy Indonesia: Makanan

Pada bulan Nopember 2022 lalu ada perhelatan dunia mengenai Iklim global yaitu Konferensi Tingkat Tinggi COP ke 27. Ada yang menarik di hari pertama penyelenggaraan COP-27 yang diselenggarakan di Tonino Lamborghini, Sharm El-Sheikh, Mesir itu. Paviliun Indonesia, yang merupakan etalase RI untuk melakukan soft diplomacy, dikerubuti para delegasi pada jam makan siang. Hari- hari dalam KTT itu, Paviliun Indonesia menjadi tempat yang paling ramai dikunjungi delegasi. Di depan Paviliun Indonesia, berjejer sejumlah menu makanan seperti bihun goreng, ayam goreng, tempe orek, perkedel, sayur urap, hingga kerupuk bawang. Para delegasi dari berbagai negara itu rela antri mengular untuk mendapatkan kuliner Indonesia yang unik dan lezat.


Ketua Paviliun Indonesia di COP-27 itu Pak Agus Justianto mengungkapkan sebagai salah satu cara untuk meramaikan Paviliun Indonesia, setiap pengunjung yang hadir di sesi TalkShow akan diberikan kupon yang bisa ditukar menjadi hidangan khas Indonesia yang tersedia. Ia menegaskan Paviliun Indonesia memang sengaja dihadirkan untuk melakukan soft diplomacy dengan berbagai cara yang unik.  Selain menghadirkan sejumlah sesi talkshow, Indonesia juga membawa keanekaragaman budaya untuk menarik minat dunia global mengetahui kekayaan yang dimiliki Indonesia.

“Salah satunya lewat kuliner. Kita ingin menunjukkan bahwa dengan ketahanan iklim Indonesia, kita bisa memiliki berbagai makanan khas yang nikmat,” ujar Agus. Selain kuliner, Indonesia juga menghadirkan sejumlah penampilan seperti Tari Piring dan juga musik-musik tradisional Indonesia yang diputar di dalam Paviliun.
Pada tahun 1990 saya berada di Singapura dan menginap di rumah foster parent (orang tua angkat) Program Pertukaran Pemuda ASEAN Jepang tahun 1982, dan saat weekend saya diajak menginap di rumah beliau di Johor Malaysia (dekat perbatasan kedua negara). Saya terharu hampir menangis karena bangga ketika menonton TV singapura dimana waktu itu presiden Singapura memberi award/Penghargaan kepada warganegaranya yang berhasil, saya terharu itu ketika ada seorang janda warganegara Singapura keturunan Jawa (dari Jawa Tengah) yang mendapatkan anugerah presiden karena upayanya mengembangkan bisnis kuliner makanan khas Jawa.

Ada orang Inggris yang pernah bekerja di Jakarta tahun 1995, namanya Willian Mitchel saking cintanya dengan tempe sampai belajar membuat tempe di berbagai kota di Jawa sampai ke kota Malang. Dan sekarang dia berhassil mendirikan Warung tempe di London Inggris sampai dia dipanggil “Bule Tempe”. “Nasionalisme” nya sangat tinggi dalam memperjuangkan agar makanan khas Indonesia ini terkenal; karena dia punya obsesi memperkenalkan tempe agar masuk ke “setiap dapur Inggris”. Upayanya berhasil, sekarang konsumennya tidak hanya orang Inggris tapi dari berbagai negara; maklum London adalah salah satu pusat dunia dimana orang-orang dari berbagai negara ada disitu.

Adalagi pria Jawa dari Purwodadi, Grobogan Jawa Tengah, namanya Rustono yang beristrian wanita Jepang sekarang menjadi pengusaha tempe di Jepang. Istrinya resign sebagai pegawai Jepang demi membantu Rustono untuk jualan tempe dan membuat orang Jepang suka makan tempe. Rustono pun memiliki nasionalisme tinggi dalam bidangnya ini, Karena berikhtiar “Menempekan Dunia”, dengan mengembangkan pasar tempenya ke Eropa dan Korea Selatan. Rustono itu juga berjuang seperti janda yang ada di Singapura diatas karena tempe nya Ristono awal-awalnya sering ditolak di resto dan hotel di Jepang. Rustono  mempunyai keprihatinan “Dulu waktu saya pertama ke Jepang sekitar tahun 1997, saya mudah sekali menemukan makanan dari berbagai negara di Jepang. Mulai dari Piza, Tacos, Burger. Tapi masakan dari Indonesia nggak ada. Saya cari apa, nggak ada,” kata Rustono. Kegigihannya jelas tak sia-sia. Saat ini ia telah berhasil menjual produk tempe yang diberinya nama Rusto’S Tempeh ke lebih dari 490 tempat di Jepang dari Hokkaido sampai ke Okinawa. “Bangga Rasanya saya bisa memperkenalkan Tempe di Jepang,” pungkas nya.

Saya ketika berada di Washington DC bulan November 2016 ketika mengamati pemilihan presiden di AS; setelah saya keluar dari gedung Voice of America (VOA) dimana saya dan dua peniliti politik dari Unair di wawancarai VOA; kami mau makan siang, mencari makan di berbagai pedagang kaki lima di sekitar gedung-gedung Museum di ibukota AS ini; kami bertemu dengan pria asal Malang yang jualan Sate Indonesia di food truck nya. Daganganya cepat habis karena diminati orang Amerika; sementara pedagang- pedagang makananan dari Mesir, Mexiko, Lebanon disebelahnya belum habis. Saya bangga setengah mati ketika melihat “Arema” (Arek Malang) ini berhasil “Men-Satekan Amerika”, karena dia punya food truck juga di berbagai kota di AS.

Kisah nyata diatas menunjukkan betapa kayanya budaya Indonesia itu dalam hal ini makanan atau kuliner, setiap suku dan daerah di nusantara ini memiliki kekhasan kulinernya. Semua itu adalah kekayaan atau asset bangsa dan karena itu layak menjadi alat diplomasi negara kita untuk mempekenalkan lebih jauh tentang Indonesia lewat makanan. Kekayaan bangsa itu harus tetap dilestarikan walaupun banyak gempuran berbagai jenis makanan dari luar negeri yang masuk ke negara kita.