UNAIR NEWS – Departemen Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) gelar kuliah tamu dengan topik Respons Kebijakan BI di tengah Dinamika Perekonomian Global. Kuliah tamu ini digelar secara daring pada Sabtu (3/5/2025) dan menghadirkan Firman Hidayat, Ekonom Ahli Bank Indonesia Kalimantan Selatan.
Pada kuliah kebanksentralan ini, Firman Hidayat menyoroti dinamika perekonomian global. “Sejak terpilihnya Presiden Trump, beliau melakukan cukup banyak kebijakan mengejutkan, termasuk tarif impor yang tinggi terutama pada Cina,” ujarnya.
Firman juga menjelaskan terkait track record dari Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa kebijakan ini bukan pertama kalinya dilakukan Amerika Serikat. “Namun sejak adanya WTO tariff global itu semakin turun. Sekarang sejak terpilihnya trump, tarif tersebut semakin meningkat,” ucapnya.
Dampak Ekonomi
Kebijakan Trump akan berdampak pada perlambatan ekonomi negara di seluruh dunia. Ketidakpastian tersebut dapat terlihat dari beberapa indikator seperti harga komoditas emas yang meningkat cukup tajam terutama pada awal 2025. “Sejak kebijakan tarif Trump ketidakpastian global semakin meningkat,” tuturnya.
Selain dapat terlihat dari naiknya harga emas, ketidakpastian global dapat terlihat dari harga minyak yang semakin melambat. Hal ini berkaitan dengan atmosfer kondisi ekonomi dunia, yang menyebabkan permintaan melambat sehingga mempengaruhi harga minyak ke depan.
Indikator ketiga yang dapat memperlihatkan ketidakpastian global adalah aliran modal. Saat terjadi ketidakpastian global, aliran modal akan cenderung beralih dari yang awalnya ke negara berkembang akan beralih ke negara yang aman seperti Jepang dan Eropa. “Selain aliran modal ke negara berkembang menurun, aliran modal ke Amerika Serikat juga ikut menurun,” katanya.
Pengaruhi Kondisi Domestik
Firman menjelaskan bahwa dinamika global dapat memengaruhi kondisi domestik lewat tiga jalur. Jalur pertama adalah perdagangan, yang dapat menyebabkan dampak langsung dan tidak langsung. “Pada dampak langsung, tarif tersebut dapat menurunkan permintaan ekspor Indonesia ke Amerika terutama pada produk tekstil. Pada dampak tidak langsung akan mempengaruhi mitra dagang Indonesia,” jelasnya.
Jalur kedua adalah jalur keuangan lewat peralihan modal asing dan relokasi investasi. Jika produk Cina terkena tarif tinggi maka akan ada potensi investor pergi dari Cina dan beralih ke negara lain termasuk Indonesia. “Relokasi investasi sangat bisa terjadi jika barang tersebut mahal dapat digantikan dengan yang lebih murah,” imbuh Firman
Di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia di triwulan satu tetap terjaga. Indikasinya, konsumsi rumah tangga Indonesia positif karena belanja pemerintah pada insentif, kenaikan THR dan jalur lain. Investasi nonbangunan juga tetap meningkat, hal ini tercermin dari impor barang modal riil terutama pada alat berat. Kondisi tersebut, kata Firman, juga akibat kebijakan utama moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran.
Bank Indonesia juga menetapkan BI Rate tetap 5,75 persen, Suku Bunga Deposit Facility tetap 5,00 persen, dan Suku Bunga Lending Facility tetap 6,50 persen. “Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sesuai dengan fundamental,” ujarnya.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





