Universitas Airlangga Official Website

Soroti Krisis Global di Forum Internasional, Prof Adib Tawarkan Solusi Berbasis Antropologi Ekologi

Prof. Dr. H. Mohammad Adib, bersama sebagian peserta “The Global Symposium on Earth-Environment-Energy-Food Sciences” seusai presentasii
Prof. Dr. H. Mohammad Adib, bersama sebagian peserta “The Global Symposium on Earth-Environment-Energy-Food Sciences” seusai presentasi (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr H Muhammad Adib Drs MA menjadi keynote speaker pada konferensi internasional. Konferensi bertajuk The Global Symposium on Earth–Environment–Energy–Food Sciences (MindSpace Conference) tersebut terselenggara pada Senin-Rabu (17-19/11/2025).

The Global Symposium yang berlangsung di Roma Italia ini melibatkan para pakar dari lima benua. Yaitu Benua Asia (Indonesia, Saudi Arabia, India, Iran, Malaysia), Benua Eropa (Italia, United Kingdom, Georgia, Jerman, Normandia, Spanyol, Bulgaria), Benua Australia (Australia), Benua Afrika (Afrika Selatan, Mesir), dan Benua Amerika (Amerika Serikat, Meksiko).

Prof Adib menjadi pembicara pada dua sesi utama. Yaitu pidato pembuka yang menyoroti tema konferensi dan presentasi keynote yang menawarkan solusi transformatif untuk masalah perhutanan sosial di Indonesia.

Dalam pidato pembuka tentang Empat Pilar Tantangan Abad ke-21, Prof Adib menggarisbawahi tema utama konferensi sebagai empat pilar yang saling terkait dan mendefinisikan tantangan terbesar kemanusiaan di abad ke-21. Earth, environment, energy, dan food science, menurutnya, bukanlah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sistem terintegrasi.

Prof. Dr. H. Mohammad Adib, saat menyampaikan
Pidato Pembuka tentang Empat Pilar Tantangan Abad ke-21 (Foto: Istimewa)
Prof. Dr. H. Mohammad Adib, saat menyampaikan Pidato Pembuka tentang Empat Pilar Tantangan Abad ke-21 (Foto: Istimewa)

“Tema ini bukanlah sekadar empat disiplin ilmu yang terpisah. Ini adalah 4 pilar yang saling terkait erat, yang secara kolektif mendefinisikan tantangan dan peluang terbesar kemanusiaan di abad ke-21,” katanya.

Lebih lanjut, Prof Adib menerangkan bahwa inti dari konferensi tersebut adalah tentang pemahaman bahwa manusia tidak dapat menyelesaikan suatu masalah tanpa mempertimbangkan dampak terhadap yang lain. “Menerapkan praktik Ilmu Pangan berkelanjutan akan mengurangi tekanan pada sumber daya lingkungan seperti air dan tanah,” lanjutnya.

Dari Konflik Menuju Kolaborasi

Untuk bertransformasi dari konflik menuju kolaborasi, Prof Adib mengajukan tiga pilar utama. (i) Komunikasi dan Transparansi yang Ditingkatkan: Menghilangkan disharmoni melalui proses pengambilan keputusan yang transparan; (ii) Program Berbasis Kesejahteraan Masyarakat: Mengembangkan program inklusif yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis bagi semua komunitas; (iii) Penerapan Lensa Antropologi Ekologi: Mengintegrasikan pengetahuan lokal dan nilai-nilai budaya sebagai kunci penting untuk keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.

Konflik adalah sinyal, bukan kegagalan. Ia adalah peluang untuk melakukan reformasi. Integrasi pengetahuan lokal dan nilai-nilai budaya adalah kunci penting menuju keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Mari kita jadikan KHDPK sebagai titik balik untuk merangkul Antropologi Ekologi dalam menuntut Keadilan Lingkungan dan Keberlanjutan Hutan Tropis, sebuah langkah mendesak untuk masa depan,” pungkas Prof Adib.

Kehadiran Prof Adib di panggung internasional ini menegaskan peran strategis UNAIR dan Indonesia sebagai agen perubahan global. Yang tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi berbasis riset yang humanis dan berkelanjutan.

Penulis: Nadia Tsaurah

Editor: Yulia Rohmawati