UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Budaya Universitas (FIB) Airlangga (UNAIR) gelar kuliah tamu dengan narasumber Prof. Itty Abraham dari Arizona State University. Bertajuk Reverse Energy Transmissions: Grassroots Innovation in Sri Lanka, kuliah tamu ini menyoroti tentang fenomena reverse energy transition dan inovasi masyarakat di tengah krisis ekonomi Sri Lanka. Kegiatan ini berlangsung pada Senin di(11/05/2026) di Ruang Chairil Anwar FIB UNAIR.
Dalam pemaparannya, Prof. Itty Abraham menjelaskan bahwa transisi energi umumnya dipahami sebagai peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. Berbagai macam energi terbarukan tersebut seperti tenaga surya, air, angin, dan hidrogen. Namun, ia menyoroti adanya fenomena reverse energy transition. Fenomena ketika masyarakat justru kembali menggunakan sumber energi lama akibat krisis ekonomi dan keterbatasan akses energi modern.
Kembalinya Penggunaan Energi Tradisional
Pada sesi awal, Itty menjelaskan bahwa Sri Lanka pernah memiliki Human Development Index (HDI) yang tinggi. Akan tetapi, kondisi tersebut memburuk akibat krisis ekonomi pasca perang sipil dan pandemi. Penurunan ekonomi yang signifikan menyebabkan harga gas LPG meningkat drastis hingga sulit dijangkau masyarakat.
Akibat kelangkaan gas memasak, banyak masyarakat beralih menggunakan arang sebagai bahan bakar alternatif. Situasi tersebut menunjukkan bagaimana krisis ekonomi dapat mendorong masyarakat kembali menggunakan sumber energi tradisional di tengah wacana global mengenai energi terbarukan.
Jay’s Innovative Charcoal Cooker
Dalam sesi berikutnya, Itty menjelaskan munculnya Jay’s Innovative Charcoal Cooker. Alat kompor arang modern tersebut dikembangkan sebagai respons terhadap krisis energi di Sri Lanka. Kompor tersebut menggunakan baterai, turbo fan, besi cor, dan sumber daya 12 VDC untuk meningkatkan efisiensi penggunaan arang.
Inovasi tersebut juga melibatkan pengrajin clay pot tradisional yang sebelumnya mengalami penurunan permintaan. Selain itu, pemasaran produk dilakukan secara door to door dengan mempekerjakan pemuda desa yang membutuhkan pekerjaan. Tidak hanya itu, kemunculan bengkel informal milik Ranil yang membuat versi lebih murah dari kompor tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat menciptakan solusi teknologi secara mandiri di tengah keterbatasan ekonomi.
“Innovation in the absence of the state,” ujar Itty saat menjelaskan bagaimana masyarakat Sri Lanka menciptakan solusi energi secara mandiri di tengah krisis. Melalui diskusi ini, mahasiswa diajak memahami bahwa krisis tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga memunculkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Penulis: Nikita Aulia
Editor: Ragil Kukuh Imanto
