UNAIR NEWS – Pemanfaatan potensi lokal sebagai solusi kesehatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Daun Kelor sebagai ASI Booster yang digelar pada 10 Januari 2026 di Balai Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang. Kegiatan ini menjadi langkah awal rangkaian penelitian “Aksi Ottawa Charter dalam Promosi Kesehatan sebagai Upaya Akselerasi ASI Eksklusif di Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang”.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan setempat, mulai dari Camat dan Sekretaris Camat, Lurah dan Sekretaris Lurah Kelurahan Dalpenang, hingga perwakilan Puskesmas Banyuanyar. Kehadiran lintas sektor menguatkan dukungan dalam mendorong pemanfaatan pangan lokal untuk kesehatan ibu dan anak.
Ketua peneliti, Dr Dra Shrimarti Rukmini Devy MKes menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar sosialisasi, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat sejak awal pelaksanaan penelitian. Model promosi kesehatan yang dikembangkan mengacu pada Ottawa Charter, khususnya dengan penekanan pada penguatan kebijakan lokal, menciptakan lingkungan pendukung, dan penguatan aksi masyarakat.
“Penelitian ini kami rancang agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami ingin membangun kolaborasi dan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia,” ujar Devy.
Kandungan Gizi
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan pada daun kelor sebagai ASI booster alami. Materi sosialisasi mencakup kandungan gizi daun kelor yang kaya protein, vitamin, dan mineral, serta perannya dalam mendukung produksi ASI pada ibu menyusui. Edukasi ini sekaligus membuka ruang dialog dengan warga agar mereka terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan penelitian selanjutnya.

Pemilihan daun kelor sebagai fokus intervensi didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kelor memiliki kandungan galaktagog alami yang dapat membantu meningkatkan produksi ASI, terutama bila dikonsumsi secara teratur. Potensi ini dinilai relevan dengan kondisi masyarakat Madura, mengingat kelor merupakan tanaman yang mudah ditemukan dan telah lama dikenal secara tradisional.
Dalam kesempatan tersebut, Devy juga menggandeng Dr Rian Diana SSi MSi yang turut menyampaikan bahwa kelor tidak hanya bermanfaat bagi ibu menyusui, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan asupan gizi balita. Menurutnya, pengembangan olahan kelor skala rumah tangga memiliki peluang besar untuk diterapkan secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan ke depan tidak berhenti pada tahap sosialisasi. Masyarakat akan dilibatkan dalam pelatihan pemanfaatan daun kelor, serta menerima 100 bibit kelor yang akan dibagikan kepada kelompok sasaran, seperti ibu hamil, kader kesehatan, PKK, dan Karang Taruna. Langkah ini diharapkan dapat mendorong kemandirian pangan sekaligus mendukung keberhasilan ASI eksklusif.
Sebagai simbol dimulainya kolaborasi, kegiatan ditutup dengan penyerahan bibit kelor kepada Camat, Lurah, dan pihak Puskesmas, serta penanaman bibit kelor secara simbolis. Momentum ini menegaskan komitmen bersama antara akademisi, pemerintah, layanan kesehatan, dan masyarakat dalam memanfaatkan pangan lokal sebagai bagian dari upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Dalpenang.
Penulis: Galuh Mega Kurnia





