“Tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan kecuali kemalasan. Tak ada obat yang berguna selain kurangnya pengetahuan,” Ibnu SinaÂ
UNAIR NEWS – Momentum wisuda Universitas Airlangga (UNAIR) Periode 242 menjadi momen tak terlupakan bagi Zakiyyan Ibadirrahman Ayyuba. Di akhir masa sarjananya ia menyandang gelar wisudawan terbaik Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR dengan perolehan indeks prestasi mahasiswa (IPK) nyaris sempurna yakni 3,83. Â
Tak hanya pandai dalam akademis, namun juga pandai dalam bersosialisasi. Terbukti, selama studi S1 ia aktif dalam organisasi internal fakultas yakni Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FKH UNAIR sebagai komisi pengawasan dan menjadi asisten dosen.
TantanganÂ
Menjadi sosok dokter pertama di keluarga bukan perihal yang mudah bagi Ian. Menurutnya, kesulitan demi kesulitan ia hadapi selama studi. Bertambahnya semester juga menambah materi yang dipelajari dan sulit.
“Mungkin hal ini terdengar basic, namun kerap kali luput dari rekan sesama mahasiswa yakni tekun belajar. Selama studi, saya berusaha untuk konsisten dalam tekun belajar. Ditambah, saya menyempatkan waktu untuk review dan berdiskusi dengan rekan-rekan sebaya saya,” imbuhnya.
Menurutnya, tantangan sebagai mahasiswa terletak pada konsisten dan tanggungjawab atas studinya. Pada masa awal, mahasiswa kerap kali memilih mengikuti kegiatan atau pekerjaan lain dan menyampingkan hal akademik selama perkuliahan. Hal itu merupakan hal yang salah kaprah dan menyebabkan lalai atas tanggung jawabnya.
Rasa rindu dengan keluarga pun tak dapat ia hindari selama di perantauan. Untuk mengobati hal itu, Ian menyempatkan melakukan video call dan chatting hanya untuk bertukar cerita selama sepekan. Ia tak menyangkal bahwa jauh dari orang tua merupakan tantangan terbesarnya selama studi.
Wisudawan asal Tangerang itu mengatakan, selepas studi S1-nya ia akan fokus untuk menyelesaikan co-ass dengan baik. Ia akan memanfaatkan masa co-ass untuk memperdalam dan memperkaya ilmu kedokteran hewan sebelum melanjutkan studi magisternya nanti.
Penulis: Satrio Dwi Naryo
Editor: Khefti Al Mawalia





