Universitas Airlangga Official Website

Strategic Partner

Bagi saya yang bukan “medical doctor by training – mengelola sebuah Rumah Sakit itu seperti pengerahan ribuan pasukan dalam sebuah pertempuran yang menyangkut tata kelola logistik, time delivery pasokan, tata kelola komunikasi, komitmen para stakeholder dsb. Karena itu tidak heran kalau Peter Ferdinand Drucker seorang penulis, konsultan manajemen, dan “ekolog sosial.” Amerika Serikat terkemuka dan sering disebut sebagai bapak “manajamen modern.” Pernah mengatakan bahwa “hospitals are the most complex form of organization that humans have ever attempted to manage”. Atau bahwa rumah sakit itu adalah bentuk organisasi paling kompleks yang pernah coba dikelola manusia.

Sementara itu Díaz Carlos Alberto, seorang Professor. Director of specialization in economics and health management. ISALUD University juga membagi pendapatnya tentang kompleksitas pengelolaan Rumah Sakit: “Hospitals are complex companies of services, because they are governed by paradigms of complexity and nonlinear behaviors of their members, of the patients and also of their illnesses, and they are also four companies in one: the clinic, the industrial, the hotel and the teaching”. Ya Rumah Sakit itu komplek karena variabel “klinik, industri, hotel dan pengajaran” menjadi satu kesatuan.

Dalam entitas yang kompleks itulah para mahasiswa Fakultas Kedokteran yang ingin menjadi dokter dan dokter spesialis dididik dan khusus untuk mereka dari FK UNAIR maka secara historis -sejak lama mereka dididik di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya sebuah RS yang didirikan pada 29 Oktober 1938 dan awalnya bernama Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ). Oleh pemerintah Hindia Belanda Rumah Sakit ini berfungsi sebagai RS pendidikan untuk mahasiswa kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Para mahasiswa FK UNAIR itu mendapatkan ilmu yang komprehensif di RS. Dr. Sutomo ini mengingat beragamnya jenis penyakit yang ada di RS dan jumlah pasien yang datang.

Lalu Universitas Airlangga (seperti PT lainnya UI, UGM, UNHAS) memiliki Rumah Sakit sendiri yang pembangunan fisiknya dimulai akhir tahun 2007, dengan izin mendirikan dan operasional sementara terbit pada 9 Maret 2011. RSUA ini kemudian secara resmi beroperasi pada 14 Juni 2011. Rumah Sakit UNAIR atau RSUA itu dengan usia yang relative muda memang RSUA seperti “New Kid on The Block” – namun memiliki tugas yang besar yaitu mendidik para mahasiswa FK UNAIR untuk menjadi dokter dan dokter spesialis yang berkarakter Indonesia.

Perlu diperhatikan bahwa munculnya RSUA itu seyogyanya tidak boleh dipandang sebagai “the comptetitor” atau pesaingnya RS Dr. Sutomo, karena dalam era Artificial Intelligence ini banyak ahli berpendapat bahwa “The Future is Collaboration, Not Competition” atau di era kedepannya ini kerja sama lebih penting dari persaingan.  Ya RS Dr. Sutomo yang memiliki hubungan historis lama dengan FK UNAIR dan RSUA yang mudia usianya ini perlu menjalin kolaborasi atau kerjasama bukan saling menafikan atau meniadakan satu sama lain sebab keduanya mengemban amanah bangsa yang sama yaitu mendidik makasiswa fakultas kedokteran menjadi para dokter dan dokter spesialis yang profesional yang berlandaskan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang luhur. Intinya bagi RSUA – RS. Dr. Sutomo itu adalah “Mitra Strategis” atau “Strategic Partner” – dan begitu sebaliknya.

Dulu ada pengamat yang mengkritik hubungan pemerintah Australia dan Indonesia dengan mengatakan bahwa Australia itu “Close Neighbor, But Far Away” – tetangga dekat tapi rasanya jauh. Hal ini terjadi karena meskipun Australia itu secara geografi tetangga dekat Indonesia namun seperti wilayah dinegara barat/Eropa, semua saluran TV nya menyiarkan berita-berita barat bukan berita negara-negara di kawasan Asia. Jadinya Australia bak tetangga yang asing bagi Indonesia.

Semoga Fakultas Kedokteran UNAIR dan RS. Dr. Sutomo tidak seperti karakter hubungan antara Australia dan Indonesia yaitu “Tetangga Dekat. Tapi Terasa Jauh”.