Abstrak. Latar belakang dan tujuan: Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Clopidrel banyak digunakan untuk mencegah stroke berulang pada pasien stroke iskemik akut, tetapi resistensi clopidrel tetap menjadi perhatian yang signifikan karena berbagai faktor. Meskipun penelitian ekstensif telah dilakukan mengenai masalah ini, data dari Jawa Timur terbatas, dan banyak kasus yang terabaikan oleh dokter. Studi ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan ini.
Metode: Kami melakukan studi potong lintang yang melibatkan 108 pasien stroke berusia 30–80 tahun yang tidak menggunakan penghambat pompa proton (misalnya, omeprazole, esomeprazole) dan telah menjalani terapi clopidrel setidaknya selama tujuh hari. Resistensi clopidrel dievaluasi menggunakan uji VerifyNow. Hasil: Dari 108 pasien, 27 (25%) diklasifikasikan memiliki risiko perdarahan. Dalam hal sensitivitas clopidrel, 79 pasien (73%) sensitif, sedangkan 29 (27%) resisten. Di antara kasus resisten, 17 adalah laki-laki dan 12 adalah perempuan. Usia secara bermakna mempengaruhi risiko perdarahan (p = 0,006), tetapi tidak mempengaruhi sensitivitas clopidogrel (p = 0,135). Jenis kelamin memiliki dampak signifikan pada tingkat inhibisi (p = 0,009), serta pada skor dasar (p = 0,009) dan skor PRU (p = 0,035).
Kesimpulan: Sebagian besar pasien stroke di Jawa Timur menunjukkan resistensi clopidogrel, dengan laki-laki menunjukkan tingkat resistensi yang lebih tinggi. Usia merupakan faktor signifikan untuk risiko perdarahan, sedangkan jenis kelamin memengaruhi tingkat inhibisi dan skor PRU. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi alasan mendasar dari perbedaan jenis kelamin yang diamati dalam resistensi clopidogrel.
Penulis: Paulus Budiono Notopuro, dr.,Sp.PK
Dipublikasikan di Acta Biomedica 2025, Vol 9 No 6, 17337
DOI: 10.23750/abm.v96i6.17337





