Universitas Airlangga Official Website

Studi Terbaru di Banyuwangi Ungkap Peran Tikus Liar dalam Penularan Bakteri Berbahaya

Ilustrasi tikus liar penyebab penyakit (Foto: Generated image)

Di balik hiruk pikuk kehidupan perkotaan di daerah pesisir, ada ancaman tak kasat mata yang sering kali luput dari perhatian yaitu keberadaan tikus liar. Hewan pengerat yang seringkali dianggap sebagai hama ini ternyata dapat menjadi pembawa bakteri berbahaya bagi manusia. Hal inilah yang berhasil dibuktikan dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Penelitian ini berfokus pada bakteri Escherichia coli (E. coli) penghasil Shiga toxin, yaitu racun berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, seperti diare berdarah, kerusakan ginjal, hingga komplikasi yang mengancam nyawa. Bakteri jenis ini dikenal sebagai Shiga toxin-producing E. coli atau STEC dan termasuk dalam kategori zoonosis, yaitu jenis agen penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Tikus liar, terutama yang hidup di lingkungan dengan sanitasi buruk, sangat berpotensi menjadi reservoir atau “pembawa” alami berbagai penyakit infeksius.

Oleh karena itu, para peneliti mengambil sampel dari 100 ekor tikus liar yang ditangkap di dua lokasi padat penduduk yaitu Kampung Mandar dan Lateng, selama periode Januari hingga Oktober 2024. Dari 100 ekor tikus yang diteliti, sebagian besar merupakan jenis Rattus tanezumi (68%), sedangkan sisanya adalah Rattus norvegicus (32%). Sampel diambil melalui rectal swab, kemudian dilakukan uji laboratorium dengan menggunakan berbagai metode, termasuk uji biokimia dan identifikasi molekuler menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction), untuk memastikan keberadaan bakteri E. coli dan gen penghasil Shiga toxin.

Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Sekitar 57% tikus yang diperiksa terbukti membawa bakteri E. coli. Dari jumlah tersebut, hampir setengahnya membawa gen stx1 yang berperan dalam menghasilkan Shiga toxin, sementara sebagian kecil membawa gen stx2 atau bahkan kedua gen tersebut secara bersamaan. Temuan ini menjadi bukti pertama secara molekuler bahwa tikus liar di Banyuwangi membawa bakteri E. coli yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Menariknya, meskipun bakteri E. coli lebih banyak ditemukan pada tikus jenis Rattus tanezumi dibandingkan Rattus norvegicus, penyebaran gen toksin tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, spesies tikus, maupun lokasi penangkapan. Artinya, risiko keberadaan bakteri berbahaya ini relatif merata di berbagai kelompok tikus liar di kawasan tersebut.

Temuan ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Keberadaan tikus liar bukan hanya soal gangguan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan potensi munculnya penyakit infeksius khususnya yang disebabkan oleh bakteri berbahaya. Oleh karena itu, para peneliti menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik, peningkatan sanitasi lingkungan, serta upaya pengendalian populasi tikus yang terpadu dan berkelanjutan. Lebih jauh lagi, penelitian ini mendorong penerapan pendekatan “One Health”, yaitu sebuah konsep yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling terkait. Dengan memahami hubungan ini, upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan secara lebih efektif, khususnya di kawasan padat penduduk yang rentan terhadap pencemaran lingkungan.

Penelitian ini tidak hanya memberikan data ilmiah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah salah satu kunci utama dalam melindungi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, surveilans untuk mendeteksi penyebaran penyakit bakterial zoonosis pada hewan liar juga sangat penting untuk dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.

Penulis: Ratih Novita Praja, drh., M.Si.

Detail penelitian bisa diakses di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/molecular-detection-of-shiga-toxin-producing-escherichia-coli-in-/