Universitas Airlangga Official Website

Suramadu: Jembatan Terpanjang Indonesia yang Belum Optimal Memberikan Dampak Ekonomi

Jembatan Suramadu, yang menghubungkan Pulau Madura dengan Surabaya, diresmikan pada tahun 2009 sebagai jembatan terpanjang di Indonesia dengan panjang 5,4 km. Proyek ini diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah, dan meningkatkan konektivitas. Namun, setelah 13 tahun, hasilnya belum sesuai harapan.
Stagnasi Ekonomi di Madura
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak pembangunan Jembatan Suramadu terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bangkalan, yang paling dekat dengan jembatan, cenderung negatif. Berdasarkan data dari tahun 2010 hingga 2017, pertumbuhan ekonomi Bangkalan lebih rendah dibandingkan daerah pembanding yang tidak terkena intervensi infrastruktur. Fakta ini bertentangan dengan harapan awal bahwa jembatan ini akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di Pulau Madura.
Penelitian menggunakan metode kontrol sintetis untuk membandingkan lintasan pertumbuhan ekonomi Bangkalan dengan unit kontrol sintetis yang menggambarkan kondisi Bangkalan jika jembatan tidak dibangun. Hasilnya menunjukkan bahwa keberadaan jembatan justru memperburuk disparitas regional dengan mengalihkan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal ke daerah yang lebih maju, seperti Surabaya.
Mengapa Dampaknya Tidak Sesuai Harapan?
Studi ini menemukan bahwa meskipun Jembatan Suramadu memenuhi kebutuhan infrastruktur fisik, faktor pendukung lainnya seperti kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pemerintahan yang baik masih kurang. Bangkalan memiliki rata-rata lama sekolah yang rendah, hanya 5,97 tahun pada 2022, dibandingkan rata-rata provinsi Jawa Timur. Selain itu, indeks pembangunan manusia (IPM) Bangkalan adalah salah satu yang terendah di Jawa Timur.
Kendala lain adalah lemahnya tata kelola pemerintahan. Kasus korupsi yang melibatkan pejabat lokal, minimnya perlindungan hak milik, serta isu sosial seperti tingginya kekerasan, membuat Bangkalan kurang menarik bagi investor. Hal ini menciptakan lingkungan bisnis yang “tidak ramah” dan menurunkan daya tarik wilayah untuk pengembangan ekonomi.
Pelajaran untuk Proyek Infrastruktur Masa Depan
Hasil penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi pemerintah. Infrastruktur fisik seperti jembatan harus didukung oleh investasi dalam infrastruktur lunak, seperti pendidikan dan kesehatan, untuk menciptakan tenaga kerja yang terampil dan menarik investasi. Selain itu, perencanaan pembangunan yang terintegrasi antara daerah pedesaan dan perkotaan sangat diperlukan untuk mencegah migrasi besar-besaran dari daerah tertinggal ke daerah maju.
Misalnya, peningkatan pendidikan dan pelatihan kerja di Bangkalan dapat membantu masyarakat setempat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh Jembatan Suramadu. Selain itu, kebijakan yang mendorong pemerataan investasi antar wilayah perlu diterapkan untuk memastikan bahwa manfaat infrastruktur tidak hanya terkonsentrasi di daerah tertentu.
Kesimpulan
Jembatan Suramadu, meskipun memiliki potensi besar, belum sepenuhnya memenuhi tujuannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pembangunan infrastruktur, yang tidak hanya mengandalkan aspek fisik tetapi juga aspek manusia dan tata kelola. Ke depan, pemerintah harus lebih berhati-hati dalam merencanakan proyek infrastruktur agar dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi seluruh masyarakat.