Universitas Airlangga Official Website

Talkshow AMSA UNAIR Bahas Pentingnya Kesehatan Mental 

dr Damba Bestari SpKJ memaparkan materi di acara Talkshow CLARITY pada Sabtu (15/03/2025) (Foto : Screenshot Zoom Meeting)
dr Damba Bestari SpKJ memaparkan materi di acara Talkshow CLARITY pada Sabtu (15/03/2025) (Foto : Screenshot Zoom Meeting)

UNAIR NEWS — Asian Medical Student Association (AMSA) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar program kerja Cultivating Love and Inner Tranquility Through You (CLARITY). Pada puncak acara terdapat tiga kegiatan, yaitu Online Volunteer, Talkshow, dan FGD. AMSA UNAIR mengadakan online volunteer pada Rabu (12/03/2025) hingga Jum’at (14/03/2025). Online volunteer tersebut berlangsung secara daring melalui Instagram dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental. 

Selain online volunteer, AMSA UNAIR turut menggelar acara Talkshow secara daring yang membahas tentang pentingnya kesehatan mental dan gejala gangguan mental. Dalam talkshow tersebut, turut hadir sebagai pembicara dr Damba Bestari SpKJ, seorang dokter spesialis jiwa sekaligus peneliti kesehatan mental. 

Damba menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan pondasi penting pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Ia menambahkan bahwa ini juga tercantum di dalam lagu kebangsaan Indonesia, yaitu jiwa dan raga manusia harus terjaga sebaik mungkin. 

“Kesehatan mental itu lebih dari sekedar ketiadaan gangguan mental. Sedangkan Gangguan mental adalah sindrom yang ditandai dengan gangguan signifikan secara klinis dalam fungsi kognisi, regulasi emosi, atau perilaku seseorang yang mencerminkan suatu disfungsi,” ujar Damba.

Damba juga menekankan bahwa kesehatan mental sangat penting sepanjang kehidupan seseorang. Ia mengambil kata kunci from cradle to grave untuk menyoroti pentingnya kesehatan mental sejak masa kelahiran seseorang hingga meninggal dunia. Kesehatan mental ibu selama kehamilan berpengaruh pada perkembangan bayi, sementara pencegahan depresi akibat baby blues pasca melahirkan dan pola asuh yang tepat menjadi kunci dalam tahap awal kehidupan anak. 

Pemerintah juga harus berperan dalam menyediakan perawatan mental berkelanjutan dari bayi hingga lansia. Survei membuktikan bahwa ada sekitar 27,3 juta orang pengidap gangguan mental. Gangguan mental yang paling umum adalah depresi dan gangguan kecemasan (anxiety). Tingkat skizofrenia di Indonesia juga cukup tinggi. Indonesia bahkan memiliki angka disabilitas harian akibat skizofrenia tertinggi di dunia. 

Damba juga menekankan bahwa pengumpulan data mengenai masalah kesehatan mental di Indonesia masih sulit dan kemungkinan besar tidak akurat dan hanya menggambarkan ‘puncak gunung es’. Selain itu, jumlah tenaga profesional kesehatan mental sangat terbatas. Hanya ada sekitar seribu psikiater dan 3.000 psikolog klinis untuk melayani lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Damba juga menyayangkan BPJS tidak mencakup penangan pada kasus kesehatan mental ataupun bunuh diri.

Selain itu, Damba menambahkan bahwa stigma kesehatan mental di Indonesia seringkali mencakup pandangan bahwa gangguan mental merupakan tanda kelemahan atau kurangnya rasa syukur. “Mungkin karena adanya generation gap, ya. Millennial dan Gen Z lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, seperti boomer. Generasi tersebut biasanya memiliki kesadaran yang lebih rendah dan stigma yang lebih tinggi terhadap kesehatan mental.”

Penulis : Dalliyah Iftitah Arbi 

Editor : Edwin Fatahuddin