UNAIR NEWS – Serangkaian agenda kegiatan Bradanaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga berfokus pada pencegahan paham-paham radikal. Salah satu upayanya berupa diskusi kritis soal ideologi Pancasila kepada mahasiswa baru 2018 FIB UNAIR. Khususnya ditujukan untuk penguatan ideologi Pancasila.
Bertempat di ruangan Prapanca FIB UNAIR Kamis (9/8), Balayudha, tim disiplin kepanitian Bradanaya FIB, memberikan tema ”Deradikalisasi Terorisme yang Berbentuk Kekerasan”. Balayudha selaku coordinator diskusi tersebut mengajak mahasiswa baru saling bersikap kritis soal tema besar dengan berbagai sudut pandang.
Dalam paparannya, Koordinator Balayudha Ridho Permana menjelaskan bahwa konsep radikal itu bisa ditangkal dengan pemahaman mengenai kebangsaan. Yakni, dengan menjelaskan sejarah dan makna Pancasila.
Menurut Ridho, cikal bakal Pancasila sudah ada pada masa kerajaan Majapahit. Bentuknya adalah Bhineka Tunggal Ika. Kata di Kitab Sutasoma tersebut menjadi simbol pemersatu keberagaman Nusantara pada masa lalu.
”Bhineka Tunggal Ika adalah tahap dasar yang paling utama. Ini adalah (semboyan, Red) awal pembentuk Pancasila, kemudian pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya 29 Mei sampai 1 Juni 1945, founding father (pendiri bangsa) membuat Pancasila,” ujarnya.
Memahami Pancasila
Menurut Ridho, dalam memahami Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia, pertama yang harus dipahami adalah agama, konsep Ketuhanan. Ketika beragama, akan muncul rasa toleransi antar-umat beragama. Karena itu, rasa toleransi tersebut yang bakal membentuk rasa kemanusiaan.
Kemudian, jika rasa kemanusiaan sudah terbentuk, akan muncul rasa persatuan. Bila sudah ada rasa tersebut, akan terbentuk kerakyatan. Sebuah bangsa yang dipimpin pemimpin yang bijaksana, terdapat kata mufakat dalam proses (pemilihan) musyawarahnya.
”Dan jika sudah tercapai nilai ketuhanan, kemanusiaa, persatuan, serta keterwakilan yang mufakat, akan terbentuk nilai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkap mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAIR tersebut.
Pemaparan tentang Pancasila seperti di atas adalah bentuk efektif untuk menangkal pemahaman radikalisme. Penanaman nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk diberikan kepada mahasiswa baru agar tidak terpengaruh paham yang salah.
Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta Reza memberikan pernyataan bahwa kesalahan pemahaman tentang cara beragama juga dapat menjadi imbas terbentuknya radikalisme. Menurut dia, ada dampak-dampak buruk dari radikalisme yang tampak menggejala di masyarakat akhir-akhir ini.
Sementara itu, ditemui setelah kegiatan di ruangannya, Kepala Bagian Kemahasiswaan FIB UNAIR Bayu menanggapi diskusi kritis itu sebagai cara untuk melihat dasar serta niat tumbuhnya radikalisme. Penting, lanjut dia, untuk mengetahui sebab-sebab sekaligus mativasi seseorang berlaku radikal.
”Bagi saya, kita perlu untuk melihat keluar bagaimana radikalisme itu terbentuk. Hal yang dilakukan mahasiswa (panitia, Red) sudah baik. khususnya mengenalkan kepada mereka (mahasiswa baru) terkait bahayanya radikalisme,” tuturnya. (*)
Penulis: Fariz Ilham Rosyidi
Editor: Feri Fenoria Rifa’i





