Universitas Airlangga Official Website

Tantangan Chat GPT dalam Disiplin Digital Humanities

Prof Dr Ir Riri Fitri Sari MM MSc (kiri), Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD (tengah) serta Layli Hamida SS MHum (kanan). (Foto: Lady Khairunnisa Adiyani)
Prof Dr Ir Riri Fitri Sari MM MSc (kiri), Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD (tengah) serta Layli Hamida SS MHum (kanan). (Foto: Lady Khairunnisa Adiyani)

UNAIR NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Airlangga kembali menggelar seminar nasional pada Selasa (03/10/2023) di Ruang Majapahit, ASEEC Tower lantai 5, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Seminar itu mengusung tema Disclosing The Chat GPT Challenges on The Education System: A Multidisciplinary Approach.

Seminar ini menghadirkan, beliau merupakan guru besar di Universitas Airlangga. Dalam kesempatan tersebut, Prof Diah 

Digital Humanities

Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD memaparkan tentang bagaimana tantangan dalam menghadapi Chat GPT dari disiplin digital humanities. Ia menjelaskan bahwa peran universitas sebagai pusat kritik semakin menurun akibat kemajuan internet dalam revolusi industri. 

“Saat ini dosen seperti menjadi manajer, dan mahasiswa justru hanya menjadi konsumen,” ujarnya. 

Mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya ini menjelaskan bahwa saat ini semua sektor sudah masuk dalam revolusi industri, dan termediasi dalam teknologi dan internet. Meskipun sudah ada teknologi, tapi humanities masih perlu dalam pendidikan.Sehingga, perlu adanya perubahan dari humanities menjadi digital humanities.

“Di dunia yang berbasis teknologi, liberalisme dalam humaniora menjadi lebih penting dari sebelumnya,” ungkap lulusan University of New South Wales ini.

Saat ini digital humanities masih diperlukan, karena pada dasarnya sistem digital sangat menghargai kolaborasi, pluralitas, dan disrupsi. “Kita harus bisa mengikuti digital humanities, karena kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya digital,” pungkasnya. 

Ia menyebutkan bahwa salah satu bentuk kemajuan digital adalah adanya Chat GPT dalam dunia pendidikan. Namun sebagai akademisi, ia menyebutkan bahwa dalam penggunaan Chat GPT ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Tantangan Penggunaan Chat GPT 

Teknologi yang semakin maju menyebabkan adanya aspek plagiarisme. Oleh karena itu, perlu adanya batasan yang jelas dalam menggunakan Chat GPT.

“Chat GPT saat ini lebih pintar karena teknologi akan semakin maju, jadi kita harus adaptif,” ungkapnya. 

Hanya saja, beliau mengatakan bahwa meski tulisan dalam Chat GPT itu lebih cerdas, namun gaya bahasanya masih terlalu general sehingga tidak bisa menyentuh pada sisi humanitas.  

Diketahui bahwa Chat GPT sebagai sebuah bentuk digitalisasi yang memiliki tantangan. Salah satunya adalah Chat GPT tidak bisa memastikan kualitas dan akurasi sehingga seringkali menghasilkan teks yang tidak akurat, tidak relevan, atau tidak pantas. 

“Chat GPT kurang memiliki pengetahuan pada subjek atau topik tertentu, beda dengan manusia,” ujarnya.

Oleh karena itu, penggunaannya tetap perlu diawasi dan dievaluasi oleh manusia untuk memastikan kualitas dan keakuratannya. Chat GPT juga tidak bisa menjaga etika dan keamanan, karena seringkali menghasilkan teks yang berbahaya, menyinggung, atau menyesatkan.  

“Chat GPT juga dapat melanggar privasi atau hak kekayaan intelektual dengan menggunakan informasi pribadi atau hak cipta,” imbuhnya.  

Oleh karena itu, penggunaan chat GPT harus tetap mengikuti aturan untuk melindungi pengguna dan pemangku kepentingan.

Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani

Editor: Khefti Al Mawalia