Universitas Airlangga Official Website

Tantangan dan Pentingnya Pengawasan Berkelanjutan Resistensi Obat pada ODHIV

Tantangan dan Pentingnya Pengawasan Berkelanjutan Resistensi Obat pada ODHIV
Photo by Liputan6

Meskipun berbagai obat antiretroviral (ARV) yang efektif telah tersedia, infeksi virus human immunodeficiency (HIV) masih menjadi tantangan besar akibat munculnya resistensi obat HIV (HIVDR). HIVDR mengurangi efektivitas pengobatan dalam menurunkan angka morbiditas, mortalitas, dan penularan terkait HIV. Di Indonesia, baik resistensi HIV yang ditularkan (TDR) maupun yang didapat (ADR) telah dilaporkan di beberapa daerah, termasuk Surabaya yang memiliki prevalensi HIV tertinggi di Jawa Timur. Oleh karena itu, perlu pengawasan HIVDR yang berkelanjutan, khususnya di Surabaya.

Di Indonesia, beberapa wilayah telah melaporkan kasus resistensi HIV baik yang ditularkan (TDR) maupun yang didapat (ADR). Surabaya, kota terbesar di Jawa Timur, mencatatkan prevalensi infeksi HIV tertinggi di wilayah tersebut. Hal ini menandakan pentingnya pengawasan yang konsisten untuk memahami dinamika HIVDR di daerah ini.

Hasil penelitian menunjukkan keberagaman subtipe HIV-1, dengan CRF01_AE sebagai subtipe dominan. Selain itu, menemukan mutasi resistensi obat yang tidak umum, termasuk dua insersi asam amino pada posisi 69 dari gen RT yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. TDR untuk inhibitor PR tidak terdeteksi, namun TDR dan ADR untuk inhibitor RT cukup signifikan.

TDR dan ADR telah muncul di antara ODHIV yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Menemuikan mutasi resistensi obat dan subtipe yang tidak umum dalam penelitian ini. Situasi ini dapat menghambat efektivitas ART dan keberhasilan pengobatan. Oleh karena itu, perlu pengawasan berkelanjutan terhadap HIVDR sangat untuk memantau baik TDR maupun ADR di Indonesia.

Mengapa Penting?

Pengawasan yang terus menerus terhadap resistensi obat HIV sangat penting untuk memastikan bahwa terapi ARV tetap efektif. Dengan mengidentifikasi mutasi resistensi sejak dini, melakukan penyesuaian terhadap regimen pengobatan untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan dan mengurangi risiko penularan HIV yang resistan terhadap obat.

Kejadian resistensi obat dapat menurunkan efektivitas terapi ARV, yang berpotensi meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas terkait HIV. Dengan pengawasan berkelanjutan, mutasi yang mengarah pada resistensi dapat terdeteksi lebih awal, memungkinkan penyesuaian pengobatan yang lebih efektif dan strategis.

Harapan Masa Depan

Perlu upaya kolaboratif antara pemerintah, peneliti, dan tenaga medis untuk memperkuat pengawasan dan penelitian mengenai HIVDR. Dengan pendekatan yang holistik dan terintegrasi, harapan yang ada dapat tercapai dengan kontrol yang lebih baik terhadap penyebaran HIV dan resistensinya, serta meningkatkan kualitas hidup ODHIV di Indonesia.

Upaya kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sangat penting untuk memerangi HIVDR. Pendekatan yang terintegrasi, melibatkan pengawasan, penelitian, dan penyesuaian kebijakan kesehatan, diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup penderita HIV di Indonesia. Dengan demikian, kontrol terhadap penyebaran HIV dan resistensi obat dapat lebih efektif.

Penulis: Brian Eka Rachman, dr., Sp.P.D.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/genotypic-analysis-of-transmitted-and-acquired-hiv-drug-resistanc/fingerprints/

Baca juga: Menjelajahi Interaksi Antara Efikasi Diri dalam Penelitian dan Dukungan Pengawasan