n

Universitas Airlangga Official Website

Teliti Sastra, Ghanesya Hari Murti Wisudawan Terbaik S-2 FIB UNAIR

GHANESYA Hari Murti, suatu kesempatan. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – “UNAIR seperti laboratorium eksperimen”. Itulah pendapat Ghanesya Hari Murti, S.S., M.Hum., menggambarkan kampus tercintanya. Ia berhasil menyelesaikan program Master tepat waktu dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S-2 FIB UNAIR dengan raihan IPK yang memuaskan, yaitu 3,92. Selain itu, selama studi di UNAIR Ghanesya juga pernah mendalami keilmuannya di Malaya University.

“Pada tahun 2015 saya mendapatkan kesempatan untuk bisa belajar lebih dalam lagi mengenai gender di negeri Jiran, Malaya University dengan mengambil mata kuliah gender dan politik. Pengalaman membawa saya bisa bertukar pikiran dengan mahasiswa di seluruh dunia seperti Jerman, Swiss, dan negara lainnya”, terang Ghanesya.

Perihal tesis, dengan semangatnya yang gigih, penggila gagasan Gilles Deleuze ini mampu merampungkan tesisnya dalam waktu yang tidak lama. Tesis yang ia tulis berjudul Nilai Tawar Sastra Dystopia: Deterritorialisasi pada Novel Hunger Games, Maze Runer, dan Divergent. Alasan kritis yang ia jabarkan tentang mengambilan judul tersebut adalah keinginannya untuk membongkar pemisahan adanya karya sastra kanon dan popular yang dipengaruhi dengan sistem legitimasi.

“Karya sastra itu bukan masalah what is means tapi yang penting what is does”, ujarnya

Selama mengerjakan tesis, Ghanesya mengatakan tidak ada kesulitan apapun yang ia temukan, hanya saja pria kelahiran Jember ini mengaku butuh waktu yang lebih lama untuk membaca ruh teks dari literature yang ia miliki.

“Satu satunya semesta paling bebas adalah ruang kelas karena hanya di dalam kelas segala kekuatan bertumpu pada kekuatan argument”, terangnya dengan meminjam kutipan dari Rocky Gerung. “Maka kampus dan kelas menghendaki gairah untuk terus muda dan bereksperimentasi tanpa batas”, begituah quote penutup dari wisudwan terbaik 2017 ini. (*)

Penulis: Ainul Fitriyah
Editor: Nuri Hermawan