Universitas Airlangga Official Website

Terlalu Kuno! Memahami Mindset Generasi Z terhadap Budaya Lokal

Ilustrasi salah satu kesenian lokal (Foto: Kumparan)
Ilustrasi salah satu kesenian lokal (Foto: Kumparan)

Dalam beberapa dekade, infiltrasi budaya menjadi isu kompleks yang tidak dapat terhindarkan di Indonesia. Pergeseran konsumsi budaya asing telah terjadi secara signifikan dan mendapatkan pengaruh dari berbagai faktor. Faktor tersebut mencakup tiga pilar utama seperti globalisasi, kemajuan teknologi dan informasi, serta perubahan nilai masyarakat utamanya generasi Z.

Fenomena masuknya kebudayaan asing ke dalam negeri yang tidak berjalan dengan pertimbangan jangka panjang dapat mengancam keberlangsungan identitas dan nilai budaya lokal. Hal ini merujuk pada ketidakseimbangan proses modernisasi serta perbedaan simbol dan norma budaya serta hilangnya tradisi atau kaburnya nilai budaya tradisional.

Adapun paparan budaya asing akan mempengaruhi psikologi dan sosiologi seseorang terhadap konsep gaya hidup generasi Z. Ini terlihat dari karakter unik yang menjadi pembeda karena mereka berperilaku secara konstruktif, dengan pengaruh integrasi berkelanjutan dari nilai-nilai diri. Generasi Z terkenal memiliki sikap progresif, berorientasi pada aksi sosial, tercermin dalam seni dan kebudayaan yang mereka konsumsi atau ciptakan. Hal ini tergambarkan seperti adanya kesetaraan, keberagaman dan keberlanjutan.

Perkembangan zaman di era society 5.0 ini sangat berpengaruh pada kebudayaan. Banyak dari generasi Z  mengetahui kebudayaan tetapi enggan untuk melestarikannya. Maka dari itu, adanya budaya asing yang masuk pada lingkungan generasi Z tentu membuat pergeseran konsumsi terhadap seni dan nilai budaya itu sendiri. Mereka cenderung tertarik dengan persebaran dan perpaduan budaya melalui perspektif baru yang berkaitan dengan perubahan nilai di masyarakat. Dengan begitu, nilai budaya ini dapat generasi Z terima sebagai penafsiran budaya lokal melalui perkembangan budaya tradisional di era digital.

Viralitas menjadi faktor penting untuk mengukur efektivitas konten yang mengandung nilai budaya. Sebab, viralitas dapat memudahkan konten tersebut agar mudah tersampaikan secara lebih luas ke masyarakat. Tren juga berfungsi sebagai jalan pintas untuk meningkatkan peluang penerimaan sosial. Preferensi terhadap pola dan gaya hidup kebarat-baratan yang kian marak menjadi pilihan generasi Z untuk beradaptasi dalam memvalidasi diri.

Generasi Z yang karakteristiknya sebagai digital savvy, selalu update dan paham terhadap kondisi yang baru terjadi saat ini. Akan tetapi, sebagian dari kelompok generasi ini cenderung lebih rentan dalam mengalami masalah kesehatan mental. Istilah ngetrennya, fear of missing out (FOMO), yaitu rasa kecemasan akibat tidak mengikuti tren.

Kurangnya bentuk kepedulian generasi Z terhadap budaya tradisional menjadi kekhawatiran bagi masyarakat terhadap pengaruh perkembangan tradisi lokal di tengah persaingan westernisasi. Dalam konteks warisan budaya, generasi Z memiliki perspektif berbeda dari generasi lain terkait dengan pemahaman budaya tradisional dan kontemporer.

Generasi Z cenderung ebih tertarik untuk mengeksplorasi pengalaman budaya baru melalui penggunaan teknologi secara otentik. Budaya tradisional merujuk pada nilai kepercayaan terhadap adat istiadat dan turunannya dari generasi satu ke generasi lain. Sedangkan, kontemporer mencerminkan budaya yang sesuai dengan nilai kepercayaan dan perkembangan teknologi saat ini.

Penafsiran kata kuno terhadap budaya tradisional dapat berarti sebagai sikap penolakan terhadap nilai kepercayaan yang menjadi panutan. Budaya tradisional lokal dinilai kuno akibat historis dan bentuk branding yang kebanyakan tidak sesuai dengan perkembangan tren dan teknologi saat ini. Penggunaan istilah kuno merupakan penilaian subjektif oleh masing-masing individu. Budaya tradisional memiliki potensi terkikis dan dapat tertinggalkan oleh generasi muda tidak selalu akibat superioritas budaya barat, tetapi tergantung dari cara menyikapinya.

Budaya kontemporer mampu melengkapi nilai budaya tradisional agar dapat mengikuti perkembangan zaman. Meski demikian, budaya lokal umumnya masih kurang berinovasi dan berkembang yang mengakibatkan budaya barat memiliki tuntutan tinggi terhadap perubahan perilaku konsumsi, sehingga hambatan pertumbuhan ekonomi nasional akibat permintaan layanan dan fasilitas pasar modern menjadi meningkat.

Pentingnya penerapan strategi marketing public relations dalam pembangunan infrastruktur dan promosi sangat penting untuk memperkenalkan seni dan budaya. Baik tradisional maupun kontemporer melalui fungsi dan peran dari marketing public relations. Ini akan memperkuat branding seni tersebut agar menghindari stigma kuno yang oleh generasi Z menjadi label digital savvy terhadap pemahaman dan kepedulian budaya tradisional.

Melihat budaya tradisional jarang publik ketahui karena jarang adanya promosi melalui media sosial,generasi Z pun tidak memahami dengan baik informasi terkait seni dan buday. Apalagi mereka terbiasa dengan kehidupan yang bergantung pada teknologi. Adanya teater dan auditorium sebagai sarana kesenian pun tidak terlalu menarik bagi generasi Z. Sebab, terkesan monoton dan kurang interaktif dalam mempromosikannya. Sehingga perlu terobosan sebagai bentuk inovasi pembangunan infrastruktur teater dan auditorium yang sesuai dengan kebutuhan dan minat generasi Z. Seperti halnya isu sosial dan mental health sebagai pengalaman baru terhadap penilaian seni pertunjukan. Oleh karena itu, digitalisasi memiliki peran penting bagi generasi Z untuk terlibat dengan seni pertunjukan sebagai sarana mengekspresikan ide mereka.

Implementasi marketing public relations merupakan kegiatan yang terencana dan usaha yang baik (good will) dalam membangun timbal balik (mutual understanding) antara seni sebagai budaya dengan nilai di masyarakat. Hal ini cukup efektif dalam membangun awareness dan knowledge terhadap pemahaman dari seni secara tradisional maupun kontemporer. Dengan begitu akan memperkuat branding terhadap “seni” yang jauh dari kata kuno.

Fungsi utama dari marketing public relations pada seni yaitu mengkomunikasikan informasi yang bersifat kredibel yang mendukung adanya keuntungan antara seni dan masyarakat. Terutama generasi Z sebagai generasi yang bertanggung jawab atas pelestarian budaya tersebut. Tentu hal ini dapat melalui aktivitas seperti (1) memberikan edukasi terhadap informasi seni dan budaya kepada generasi Z; (2) memperkenalkan seni melalui program kesenian atau informasi melalui media digital; dan (3) melakukan evaluasi terhadap proses terciptanya citra seni yang baik serta diterima oleh generasi Z.

Sementara itu, peran dari marketing public relations terhadap seni yaitu (1) interpreter atau in the middle; sebagai sumbu antara seni budaya, publik internal dan eksternal; (2) lubricant, harmonis dan efisien; (3) monitoring dan evaluasi; dan (4) komunikasi yang tepat dan benar melalui informasi seni dan budaya yang diberikan kepada generasi Z  dan masyarakat.

Berkaitan dengan Marketing public relations melalui fungsi dan perannya, dapat terimplementasi melalui P.E.S.O Media, sebagai bentuk branding seni dan kebudayaan di era digital, yaitu (1) paid media, aktivitas promosi iklan seni berbayar melalui social media; (2) earned media, melalui karya seni oleh influencer, kegiatan public relations tradisional dan hubungan dengan media; (2) shared media, informasi seni berupa foto dan video melalui platform social media; dan (4) owned media, media yang dikelola dan memiliki kendali penuh terkait seni dan budaya, melalui website, email, blog, social media dan aplikasi.

Penulis: Fahma Febriyanti, Adelia Dias Triyanti