n

Universitas Airlangga Official Website

Tiga Lulusan UNAIR Lestarikan Budaya Melalui Film Dokumenter

dari kanan M. Redo Nomadore, Yogi Ishabib, di Grand City Mall sesaat setelah pemutaran film dokumenter mereka dengan judul Robohnya Jati Kami. (Foto: UNAIR NEWS)

UNAIR NEWS – Film dokumenter berdurasi 23 menit ditayangkan di Grand City Mall, Surabaya, sebagai bagian dari rangkaian acara Dies Natalis Universitas Airlangga ke-62. Film tersebut merupakan hasil karya tiga alumnus. Mereka ialah M. Redo Nomadore (Hubungan Internasional, 2006), Yogi Ishabib (Sosiologi, 2006), dan Adrian Perkasa (Ilmu Sejarah, 2006). Robohnya Jati Kami dipilih sebagai judul film dokumenter itu.

Robohnya Jati Kami yang ditayangkan pada Minggu (6/11), bercerita tentang ritual ruwatan di Dusun Jati Sumber, Desa Wates Umpak, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Menyadari pentingnya dokumentasi sebuah tradisi budaya menjadi awal dari pembuatan film tersebut.

“Tradisi ruwat ini punya kisah yang unik, karena sempat vakum kemudian dihidupkan kembali oleh para pemuda melalui petunjuk-petunjuk metafisik. Yang ternyata, petunjuk itu cocok dengan manuskrip sejarah yang ditemukan oleh Adrian, yakni berupa buku catatan Belanda tahun 1901,” kata Redo.

Mengapa dokumentasi penting? Sebab sebuah dokumentasi kebudayaan memiliki tujuan untuk mempreservasi pengetahuan, menyebarluaskan pengetahuan, dan mengelola pengetahuan itu.

“Seandainya suatu saat ruwatan itu hilang, dan pemudanya ingin menghidupkam lagi, tidak usah mencari petunjuk metafisik tinggal mereview apa yang sudah dibuat,” tambah Redo.

Meski pada akhirnya dapat ditayangkan perdana pada festival budaya dalam rangka dies natalies UNAIR di Grand City, ada beberapa kendala dalam penyelesaian film dokumenter itu. Selain pendanaan, minimnya informasi mengenai jadwal upacara kebudayaan yang akan didokumentasikan menjadi kendala awal sebuah produksi film.

Dalam produksi film dokumenter ini, Redo dan tim memilih tradisi budaya yang masih tetap berjalan. Namun, tradisi yang dimaksud bukan terhitung event tahunan yang memang menjadi konsumsi publik atas kerjasama berbagai pihak.

Saat ini, selain beraktivitas rutin, Redo, Adrian, dan Yogi menyibukkan diri dengan membentuk komunitas yang mereka sebut dengan Komunitas Halaman Belakang. Saat ini sebagai aktivitas rutin, Redo menjadi art director, Adrian menjadi dosen di Departemen Ilmu Sejarah UNAIR, dan Yogi menjadi kurator kebudayaan dan sastra.

“Intinya, dokumentasi itu penting supaya produk kebudayaan itu tidak ‘tidak terlacak’. Harapanya semakin banyak orang-orang yang melakukan kerja-kerja pendataan terhadap produk kebudayaan,” kata Redo. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor: Rio F. Rachman