UNAIR NEWS – Curhatorium sebagai komunitas yang berfokus pada kesehatan mental dan penyediaan ruang aman bagi generasi muda resmi meluncurkan versi kedua melalui kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada Sabtu (13/9/2025). Selain mahasiswa, hadir pula perwakilan SDGs Center Universitas Airlangga, Airlangga Health Promotion Center (AHPC), dan Help Center UNAIR. Turut hadir secara daring pula Bani Bacan Hacantya Yudanagara S Psi M Si selaku dosen pembimbing tim Curhatorium.
Ketua pelaksana, Ni Putu Adina Saridewi menjelaskan Curhatorium berkembang dari komunitas berbasis luring menjadi platform digital yang dapat diakses secara luas. Pengembangan transformasi tersebut pada awal tahun 2025. Saat itu, tim Curhatorium mengajukan gagasan ke Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan berhasil memperoleh pendanaan. Pernyataan ini selaras dengan penjelasan oleh Usamah sebagai salah satu pendiri Curhatorium.
“Awalnya Curhathorium hanya berupa kelompok diskusi kecil berisi sebelas orang. Namun, seiring waktu kami melihat kebutuhan lebih besar, sehingga kami mengembangkan Curhathorium menjadi platform digital agar bisa diakses lebih luas dan berkelanjutan,” ucap Usamah.

Demonstrasi Fitur Platform Curhatorium
Pada kegiatan ini, tim Curhatorium menampilkan versi kedua dari platform Curhatorium. Platform ini memiliki berbagai fitur utama, seperti Deep Cards sebagai media refleksi diri, Support Group Discussion (SGD). Fitur ini memungkinkan pengguna berbagi pengalaman melalui kelompok terjadwal. “Melalui fitur ini, kami ingin menghadirkan ruang aman digital yang interaktif, di mana setiap orang bisa merasa didengar tanpa takut dihakimi,” terang Jamal.
Curhatorim juga menyediakan layanan Share and Talk yang mempertemukan pengguna dengan rangers (peer support) seorang psikolog berpengalaman. Pada Curhatorium juga terdapat Artificial Intelligence (AI) bernama MENTAI yang tengah mendapat atensi pengembangan dengan pendekatan Psychological First Aid (PFA). Berbeda dari platform AI lainnya, umpan balik dari Curhatorium lebih terstruktur dengan gaya bahasa yang ramah bagi awam untuk mendorong pengguna melaksanakan refleksi secara mendalam.
Menjawab Tantangan Kesepian Melalui Sesi Talkshow
Selain penjelasan fitur, sesi talkshow juga berlangsung dengan mengangkat tema Terhubung tapi Kesepian. Turut hadir dalam sesi talkshow Salma Salsabila SPsi dan Usamah selaku narasumber.
Salma menjelaskan bahwa kesepian tidak selalu muncul karena kita tidak punya teman atau tinggal sendirian. Menurutnya, kesepian bisa hadir ketika berada di tengah orang banyak tetapi kita merasa terasing. Kesepian menjadi sinyal bahwa manusia membutuhkan rasa aman dan keterikatan, oleh karena itu penting untuk membangun hubungan nyata dengan teman terdekat.
“Kesepian, apabila dibiarkan terlalu lama, bisa berdampak serius. Orang bisa cenderung menyalahkan diri, kehilangan identitas, hingga berisiko mengalami depresi atau gangguan mental lain. Karena itu, ruang aman sangat penting baik berupa teman dekat, keluarga, maupun komunitas agar dapat bercerita tanpa takut mendapat penghakiman,” jelas Salma.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Salma memperkenalkan formula AMAN. Formula tersebut adalah Akronim yaitu Aktif mendengarkan, Menjaga rahasia, Ajak terhubung, Nyatakan dukungan positif sebagai langkah sederhana untuk mendukung teman. Sesi talkshow juga memandingkan peer suport secara daring dan luring. Tatap muka unggul karena dapat menangkap sinyal non-verbal, sementara platfrom daring memudahkan keterjangkauan pengguna membuka diri.
Dalam platform Curhatorium, fitur SGD dan share talk menjadi wadah bagi pengguna mendapat dukungan sebaya. Melalui kelompok diskusi maupun rangers, pengguna dapat berbagi cerita dengan aman.
Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





