Universitas Airlangga Official Website

Tim PKM-RE UNAIR Ciptakan Terapi untuk Penderita Cedera Sumsum Tulang Belakang

UNAIR NEWS – Tim Program Kreativitas Mahasiswa – Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil lolos pada tahap pendanaan dari Kemendikbud Ristek RI. Keempat anggota tim tersebut berasal dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR. Mereka adalah Ni Nyoman Ary Dewanthi, Khairun Nisa, Emmanuella Aurelia Rachel Passa, dan Maria Novi Limantoro. Riset mereka berjudul Injectable Alginate/Polypyrrole Hydrogel sebagai Kandidat Terapi Spinal Cord Injury. Tim meriset sebuah terapi bagi penderita cedera sumsum tulang belakang.

“Secara statistik kasus Spinal Cord Injury (SCI) mencapai 250.000 hingga 500.000 kasus baru setiap tahunnya dengan tingkat mortalitas yang tinggi,” ucap Ni Nyoman Ary selaku ketua tim.

Sebabkan Kelumpuhan

Nyoman menjelaskan bahwa cedera sumsum tulang belakang atau Spinal Cord Injury (SCI) adalah kondisi yang dapat mengancam keberlangsungan hidup penderitanya hingga mengakibatkan berbagai derajat kelumpuhan. Kelumpuhan tersebut akan bergantung pada tingkat kerusakan serta regio yang mengalami kerusakan.

“SCI mempengaruhi konduksi sinyal motorik dan sensorik serta saraf otonom yang menyebabkan gangguan fungsi neurologis penderita,” ujarnya.

Ia pun menambahkan jika SCI masih menjadi clinical challenge atau tantangan tersendiri pada dunia klinis di seluruh dunia. Hal tersebut terjadi karenakan proses patofisiologi kasus SCI yang begitu rumit. Menurutnya, penanganan SCI saat ini masih belum menghasilkan pemulihan fungsional secara penuh sehingga tingkat mortalitas atau kematian dari  kasus masih sangat tinggi.

“Riset kami yakni injectable hydrogel untuk penanganan Spinal Cord Injury merupakan strategi yang memanfaatkan biomaterial alginate dan polypyrrole yang bersifat biokompatibel,” tambahnya.

Hadapi Tantangan

Nyoman pun menyampaikan jika selama proses riset tentu banyak tantangan yang harus tim hadapi. Ia dan tim harus mendapatkan metode sintesis yang tepat untuk menghasilkan injectable hydrogel yang diharapkan. Mereka melakukan studi literatur serta berbagai trial dan error dan berdiskusi dengan dosen pembimbing.

Ke depan, ia berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut pada tahapan in-vivo. Selanjutnya hasil dari riset tersebut dapat diuji secara klinis sebagai terapi Spinal Cord Injury. Dan, berkontribusi dalam pengembangan menyelesaikan clinical challenge pada kasus tersebut. (*)

Penulis : Afrizal Naufal Ghani

Editor  : Binti Q Masruroh