UNAIR NEWS – Tinjau nilai manfaat kawasan geografis tunggal yang mendapatkan pengakuan UNESCO, bawa Tim PKM Universitas Airlangga (UNAIR) raih pendanaan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2025. Tim ini beranggotakan Bey Fitria Salsabila (FEB), Muhammad Taufiq Hidayat (FEB), Diza Ulya Nurfaizah (FKM), Mohamad Devan Tri Oktavadhan (FKM) dan Bagas Putut Pratama (FKM) .
Tujuan UGGp
Melalui skema PKM Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), tim ini mengangkat penelitian Studi Evaluasi Komparatif: Dampak Penobatan Status Berbeda UNESCO Global Geopark Ijen dengan Geopark Nasional Bojonegoro terhadap Masyarakat Lokal.
Geopark merupakan kawasan yang memiliki warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya yang dikelola secara terpadu. UNESCO Global Geopark (UGGp) merupakan kawasan geografis tunggal yang mendapatkan UNESCO karena memiliki warisan geologi yang luar biasa. Pengelolaan UGGp dengan prinsip perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Taufiq mewakili timnya mengatakan bahwa UGGp merupakan upaya yang pengelola geopark lakukan di dunia agar kawasan ini mendapatkan endorsement yang lebih. Di sisi lain, pengelolaan UGGp juga harus mempertimbangkan aspek pemberdayaan masyarakat.
Temuan Lapangan
Riset ini sudah pada tahap survei lapangan, Taufiq mengatakan bahwa mereka menemukan banyak hal baru saat melakukan survei. “Literasi mengenai geopark dan dampak penobatan UGGp masih banyak belum masyarakat ketahui,” ujarnya.
UGGp menjadi status yang berfokus pada konservasi wilayah khas dengan memaksimalkan potensi lokal. Saat ini tim Geopark UNAIR tengah melakukan sampling, mereka mendapati bahwa masyarakat lokal, pelaku wisata, dan pelaku usaha UMKM masih belum merasakan dampaknya. Bahkan papan nama geopark pun sudah menghilang dan alasan wisatawan berkunjung juga bukan dari UGGp, tetapi dari wisatanya.

Dalam prosesnya terdapat beberapa kendala perizinan yang membuat riset ini dilakukan bertahap dan memerlukan waktu tambahan. Respons dari masyarakat terkait UGGp secara garis besar berharap bahwa status ini mampu menarik pendatang baru.
“Masyarakat ingin jika pemerintah melakukan sosialisasi tentang UGGp, agar tidak hanya menumbuhkan UMKM saja akan tanpa adanya pendampingan maupun pelatihan. Masyarakat berharap terdapat pendampingan dan pelatihan bagi para pelaku UMKM di sekitar UGGp,” ucapnya.
Stakeholder setempat sudah mengetahui tentang dampak UGGp. Namun, masyarakat lokal masih banyak yang belum memahami tujuan dari pengakuan UNESCO ini. Target dari pemerintah daerah terhadap UGGp harusnya dapat mengembangkan pariwisata berkelanjutan dan kegiatan ekonomi lain yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal tanpa merusak lingkungan.
Fenomena ini menjadi hal menarik yang perlu tim Geopark gali karena adanya perbedaan implementasi benefit gap yang masyarakat rasakan dengan ekspektasi dan upaya yang dilakukan oleh pemangku yang terlibat.
Upaya rekomendasi kebijakan akan menjadi salah satu output dari penelitian ini agar status UGGp dapat benar dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Baik di Ijen maupun Bojonegoro yang masih dalam proses pengajuan.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





