Universitas Airlangga Official Website

Tim UNAIR Raih Juara 3 dan Best Presenter di Biolexion Berkat Inovasi Biosensor LumiKit

Tim Lumilit UNAIR berpose setelah mempresentasikan karya LumiKit dan memperoleh penghargaan pada Biolexion 2.0 2026 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi gemilang. Tim Lumilit, tim kolaborasi lintas angkatan 2022 dan 2023, berhasil meraih Juara 3 dan Best Presenter Lomba Karya Tulis Biolexion 2.0 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tim Lumilit beranggotakan Yusag Abdillah sebagai Ketua Tim, serta Alifa Jeanny Camila, Ainun Azka Rohmatillah, dan Venesa Filda Agnesia sebagai anggota. Kolaborasi lintas angkatan ini merupakan pengalaman pertama bagi mereka, sekaligus menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan karya ilmiah kompetitif.

“Kami ingin menawarkan solusi berbasis biologi molekuler yang dapat diaplikasikan untuk konservasi laut. LumiKit kami rancang agar mampu memberikan sinyal dini ketika perairan mulai tercemar,” ujar Yusag, selaku ketua tim.

Inovasi Menarik LumiKit

Dalam kompetisi tersebut, tim mempresentasikan karya inovatif berjudul LumiKit: Biosensor Molekuler Vibrio fischeri Berbasis Quorum Sensing sebagai Sistem Early Detection Pencemaran Laut oleh Nikel di Kawasan Konservasi. Inovasi tersebut memodifikasi Vibrio fischeri secara in silico dengan pendekatan CRISPR-Cas9, memungkinkan intensitas bioluminesensi bakteri meredup ketika terpapar nikel.

Yusag dan tim merancang teknologi tersebut sebagai sistem peringatan dini untuk kawasan laut. Terutama wilayah Sulawesi dan Maluku yang terdampak aktivitas pertambangan nikel. “Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan isu lingkungan yang sedang terjadi di Indonesia. LumiKit kami harapkan dapat membantu deteksi cepat pencemaran nikel di kawasan konservasi laut,” ujar Ainun, perwakilan tim.

Tim mengaku proses riset menghadirkan berbagai tantangan, terutama keterbatasan literatur dan kompleksitas metode CRISPR yang belum pernah mereka praktikkan secara langsung. “Banyak konsep teknis yang sebelumnya belum pernah kami temui di perkuliahan. Kami harus belajar dari nol melalui jurnal internasional dan diskusi intensif agar rancangan molekuler kami benar-benar matang,” tambahnya.

Perjalanan menuju kompetisi menjadi pengalaman tak terlupakan bagi Tim Lumilit. Selama perjalanan ke Bandung, para anggota berlatih tanpa henti. Ainun dan Venesa fokus mempersiapkan presentasi, sementara Yusag dan Alifa memperdalam ulang teori dan desain molekuler.

“Kami bahkan latihan di gerbong makan tengah malam supaya suasananya lebih kondusif. Semua anggota berkomitmen, sesibuk apa pun tetap meluangkan waktu untuk tim,” ungkap Venesa, salah satu presenter yang turut meraih gelar Best Presenter Biolexion 2.0 2026.

Keberhasilan ini juga tidak lepas dari bimbingan intensif Almando Geraldi SSi PhD yang mengarahkan tim dalam memahami konsep Biologi Sintetik (SynBio). Prestasi juara 3 ini menjadi bukti bahwa kerja sama, pembagian tugas yang jelas, serta komitmen tinggi dapat membawa tim mencapai hasil terbaik. “Kami belajar bahwa kompetisi bukan hanya soal menang, tetapi tentang proses, menerima kritik, dan membangun koneksi dengan peserta dari berbagai universitas,” pungkas Venesa.

Penulis: Dheva Yudistira Maulana

Editor: Yulia Rohmawati