Universitas Airlangga Official Website

Tim Waneikti UNAIR Raih 2nd Winner Ambition I NBCC

Mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam Tim Waneikti, Muhammad Davi A., Nurul Ulul Azmi, dan Dea Vania N., saat mengikuti sesi final pitch Ambition II 2025 National Business Case Competition (NBCC) secara daring. Tim tersebut berhasil meraih predikat Second Winner melalui proposal 3S Solution for LPS. (Foto: Dok. Tim Waneikti)
Mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam Tim Waneikti, Muhammad Davi A., Nurul Ulul Azmi, dan Dea Vania N., saat mengikuti sesi final pitch Ambition II 2025 National Business Case Competition (NBCC) secara daring. Tim tersebut berhasil meraih predikat Second Winner melalui proposal 3S Solution for LPS. (Foto: Dok. Tim Waneikti)

UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam Tim Waneikti berhasil meraih predikat Second Winner dalam kompetisi Ambition II, National Business Case Competition (NBCC). Prestasi tersebut mereka raih melalui proposal bertajuk 3S Solution for LPS yang mengangkat isu fragmentasi informasi dan potensi panic runs dalam sistem penjaminan perbankan.

Angkat Isu Fragmentasi Informasi dan Panic Runs

Tim Waneikti beranggotakan Muhammad Davi, Dea Vania N., dan Nurul Ulul Azmi. Dalam kompetisi bersifat open case tersebut, tim secara mandiri menentukan isu yang mereka analisis dengan mempertimbangkan urgensi dan relevansinya terhadap stabilitas sistem keuangan. Mereka menilai bahwa fragmentasi informasi dan ketidakseragaman narasi publik kerap memicu kebingungan serta kepanikan masyarakat saat terjadi tekanan pada sektor perbankan.

Dea Vania N. menjelaskan bahwa gagasan utama proposal berangkat dari keresahan tim terhadap kondisi tersebut. “Kami melihat bahwa masalah panic runs sering kali bukan hanya soal kondisi bank, tetapi bagaimana informasi yang diterima publik tidak utuh dan tersebar di banyak kanal,” ujarnya.

Berdasarkan analisis tersebut, Tim Waneikti merancang 3S Solution for LPS sebagai pendekatan terpadu yang menekankan satu narasi komunikasi, sistem layanan lintas kanal yang terintegrasi, serta pengalaman publik yang memberikan rasa aman sebelum hingga setelah krisis. Pembagian peran dalam tim berlangsung secara seimbang agar setiap anggota terlibat aktif dalam proses analisis dan perumusan solusi.

Kombinasi Riset, Strategi, dan Pitching

Keberhasilan Tim Waneikti juga tak lepas dari kemampuan mereka mengemas riset dan strategi kebijakan secara jelas dalam sesi final pitch. Validasi masalah berlangsung dengan meninjau kembali mandat utama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Khususnya, dalam menjaga kepercayaan publik dan mencegah terjadinya penarikan dana secara masif.

Muhammad Davi menuturkan bahwa momen penting dalam kompetisi terjadi saat sesi tanya jawab dengan dewan juri. “Kami menyadari bahwa yang paling krusial bukan hanya kebijakannya, tetapi bagaimana pengalaman dan pemahaman publik dapat dikelola secara terintegrasi,” ungkapnya.

Prestasi ini menjadi pencapaian berharga bagi Tim Waneikti dalam mengasah kemampuan analisis kebijakan, kerja tim, serta komunikasi strategis. Ke depan, tim berharap gagasan yang mereka susun dapat menjadi referensi pengembangan kebijakan komunikasi krisis di sektor keuangan. Terlebih, turut berkontribusi dalam menjaga kepercayaan publik terhadap sistem perbankan nasional.

Penulis: Era Fazira

Editor: Ragil Kukuh Imanto