UNAIR NEWS – Pemerintah Tiongkok telah mengambil tindakan tegas terhadap Amerika Serikat (AS) dengan membatasi jumlah impor film Hollywood. Kebijakan tersebut resmi dinyatakan oleh Badan Perfilman Nasional Tiongkok pada Kamis (10/4/2025). Langkah ini merupakan respons terhadap penambahan tarif timbal balik pada produk impor Tiongkok yang masuk ke AS.
Guru Besar Departemen Komunikasi FISIP UNAIR memberikan tanggapannya. Ia adalah Prof Rachmah Ida Dra M Com PhD. Prof Rachmah menilai langkah Tiongkok sebagai upaya yang tepat untuk menggerakkan industri perfilman lokalnya.
Selain sebagai upaya balasan terhadap tarif impor yang AS kenakan, Prof Rachmah menilai bahwa tindakan Tiongkok memberikan dukungan positif terhadap industri perfilman lokalnya. Berkurangnya film Hollywood yang masuk ke Tiongkok dapat mengurangi persaingan produksi film lokal. Hal ini akan berkontribusi pada berkembangnya industri perfilman dalam negeri.
Hentikan Praktik Imperialisme Budaya
Prof Rachmah turut menambahkan bahwa upaya Tiongkok dapat meningkatkan apresiasi para penonton terhadap filmnya sendiri. Aspek proximity atau kedekatan, baik bahasa, aktor, isu, maupun budaya memberikan peluang untuk memperbesar pasar di dalam negeri. Prof Rachma juga menilai tindakan Tiongkok sebagai upaya menghentikan praktik imperialisme budaya.

“Selama ini kita melihat bahwa film AS mendominasi tayangan di platform-platform, seperti Netflix, Apple TV, dan sebagainya. Menurut saya, upaya ini menghentikan konsep imperialisme budaya dari AS yang selama ini dilakukan melalui film-film Hollywood pada negara-negara lain, termasuk Tiongkok,” jelas Prof Rachmah.
Lebih lanjut, Prof Rachmah mengungkapkan bahwa kebijakan AS merupakan kebijakan yang egois dalam konteks diplomasi budaya. Tindakan ini justru dapat mengancam cultural production AS karena mengurangi jangkauannya di pasar internasional. Saat ini, telah banyak produksi film berkualitas di luar AS, sehingga ketidakhadiran Hollywood tidak membuat industri ini mati.
“Dalam hal ini, AS yang rugi karena tidak bisa memperluas jaringan cultural production-nya dan produksi film di Tiongkok tidak mati. Kerugian ini adalah konsekuensi dari egoisme AS. Ini mengulang romantisme AS sebagai negara satu-satunya negara adidaya pasca Perang Dingin. Padahal, sekarang banyak negara yang muak dengan egoisme dan arogansi AS,” ujar Prof Rachmah.
Penulis: FISIP UNAIR
Editor: Yulia Rohmawati





