UNAIR NEWS – Komunikasi efektif perawat dan pasien ternyata sangat penting dan berpengaruh terhadap pelayanan serta kesembuhan. Tenaga kesehatan harus memiliki kapabilitas dalam melaksanakan tugasnya. Centre of Excellence For Patient Safety and Quality Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan webinar series yang berjudul Visiting Researcher Programme melalui Zoom Meeting pada Selasa (16/01/2024) .
Trainer komunikasi efektif bidang keselamatan pasien dan public speaking pelayanan publik Ns Suhariyanto S Kep M Kep menjadi pembicaranya. Ia juga merupakan mahasiswa Magister Ilmu Keperawatan Peminatan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan, Universitas Indonesia (UI).
Dalam sesinya, Harie -sapaan akrab Suhariyanto- memberikan materi seputar komunikasi efektif dengan pembelajaran klinis. “Pembelajaran ini akan menekankan pada upaya para tenaga kesehatan ketika melihat kejadian yang tidak diinginkan, komunikasi secara efektif, dan bagaimana pembelajaran secara klinis,” ujarnya.

Kenapa Penting?
Harie menjelaskan, pada 2011, terjadi peningkatan pada kasus kejadian yang tidak diinginkan. Salah satu penyebabnya adalah komunikasi efektif, berada pada urutan ketiga. Namun, pada 2013, keberadaan komunikasi efektif meningkat di urutan kedua. Ada kesadaran bahwa komunikasi efektif berdampak pada penurunan kasus kejadian yang tidak diinginkan (medical error) setiap tahunnya.
“Hal ini menjadi warning bagi kita bahwa kejadian tidak diinginkan. Salah satu penyebabnya adalah masalah komunikasi,” tegasnya.
Kejadian itu banyak terindikasi di bagian keperawatan. Seperti yang diketahui, seorang perawat mendominasi bagian pemberian pelayanan kepada pasien. “Hampir 60 persen pemberi pelayanan adalah seorang perawat. Karena, perawat juga yang memberikan pelayanan kepada pasien terus menerus hampir 24 jam. Sehingga perlu sekali peningkatan kemampuan komunikasi efektif bagi perawat,” ujarnya.
Terapkan 3V (Verbal, Vocal, Visual)
Banyak orang yang menganggap bahwa hubungan komunikasi bagi tenaga kesehatan merupakan hal yang biasa saja. Padahal, hal tersebut sifatnya sangat krusial bagi keselamatan pasien.
“Ada yang mengatakan bahwa seorang pasien bisa akan bertemu sampai dengan 15 petugas kesehatan yang akan memberikan layanan. Maka, penting bagi kita untuk melakukan pendekatan dalam komunikasi efektif sesuai dengan standar keselamatan pasien,” ungkap Harie.
Dalam penjelasannya, ia menegaskan bahwa seluruh unsur di sebuah rumah sakit harus menerapkan komunikasi efektif, melalui tiga faktor komunikasi penting. Yaitu, 3V meliputi verbal (kata-kata), vokal (intonasi), visual (bahasa tubuh).

Implementasi
Harie juga membuktikan bahwa hasil pengetahuan perawat di rumah sakit, sebelum dan sesudah pendampingan terkait komunikasi efektif mengalami kenaikan. “Kenaikannya setelah ada pendampingan hampir di rata-rata 80-90 persen, dari yang sebelumnya 40-60 persen”.
Terdapat pula kenaikan yang signifikan pada praktiknya. Yaitu, di angka rata-rata 45-55 persen sebelum ada pendampingan. Dan, angkanya menjadi 85-100 persen saat sudah ada pendampingan untuk para perawat di rumah sakit X.
Penulis: Maryam Fauziah
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:





