UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) torehkan Juara Harapan II Karya Tulis Ilmiah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Scientific Fair #14. Mereka adalah Aleind Aloysius Gonzaga, Afnan Nadhif, dan Raka Argha Ahsantya Maharika dari FTMM UNAIR Ketiganya berhasil bersaing dengan 32 tim dari berbagai universitas di Indonesia. Lomba ini berlangsung pada Minggu (18/5/2025).
Tim FTMM berhasil melaju ke babak final setelah ide mereka, yang lahir dari sesi brainstorming mendalam berhasil menarik perhatian dewan juri. Ide tersebut sebelumnya telah melewati uji inovasi melalui pemodelan dan simulasi digital yang cermat. “Kami sangat bangga dengan kerja keras tim. Kami yakin ide ini memiliki potensi besar untuk membawa dampak positif,” ujar Aleind mewakili tim.
Gagasan
Dalam penelitian ini, kami secara langsung mengatasi masalah karbon dioksida (CO2) di gedung perkantoran. Ia dan tim menggagas inovasi berbasis teknologi bertujuan untuk mereduksi emisi yang ada di lingkungan. “Kami menggagas inovasi berbasis teknologi sektor lingkungan dan reduksi emisi menggunakan instrumen remote sensing dan energi terbarukan. Yaitu tunable diode laser absorption spectroscopy. Inovasi ini diperuntukkan untuk sektor properti yang memproduksi banyak emisi seperti gedung perkantoran,” papar Aleind.
Lebih lanjut, Aleind menuturkan sektor properti terutama gedung-gedung perkantoran modern, dikenal sebagai kontributor emisi karbon yang tidak sedikit. Tingginya aktivitas manusia dan penggunaan energi di dalamnya seringkali berujung pada peningkatan konsentrasi CO2. Tidak hanya berdampak pada lingkungan global tetapi juga kualitas udara di dalam ruangan.
Tantangan Tim
Meski mendapatkan penghargaan, tetapi perjalanan tim tidak lantas bebas dari tantangan. Masing-masing anggota tim harus membagi waktu dengan kesibukan paralel yang padat, menjadikan koordinasi tatap muka sebagai tantangan.
“Tim ini merupakan kombinasi dari orang-orang penting pada masing-masing posisinya. Karena kesibukan masing-masing pribadi dalam hal menyusun, mereka mengerjakan secara jarak jauh,” ujar Aleind.
Fleksibilitas ini, meskipun lahir dari keterbatasan waktu dan jarak, justru menjadi keunggulan dalam menjaga produktivitas tim. Inovasi yang sedang digarap ini harapannya akan memberikan dampak signifikan, mengingat rekam jejak dan kapabilitas para anggotanya. Model kerja jarak jauh ini juga mencerminkan adaptasi terhadap dinamika profesional modern yang semakin mengedepankan efisiensi dan konektivitas digital.
Penulis: Arifatun Nazilah
Editor: Yulia Rohmawati





