UNAIR NEWS – Sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bergerak aktif dalam budaya literasi, Penalaran berusaha mencetak penulis-penulis yang andal. Baik tulisan ilmiah, maupun non-ilmiah. Salah seorang di antaranya adalah M. Wahyu Syafi’ul Mubarok.
Saat ditemui UNAIR NEWS, Wahyu menjadi pengisi materi dalam kegiatan rutin UKM Penalaran pada Kamis malam (2/3), yaitu Diskusi Penalaran. Wahyu terpilih karena dirinya merupakan Juara I Olimpiade Karya Tulis Ilmiah dan Simposium Internasional PPI Turki di Instanbul pada awal 2018.
Di Istanbul, Wahyu mempresentasikan makalah dengan judul Uji Coba Nuklir Turki di Pulau Terluar Indonesia. Makalah itu berisi tentang kerja sama penggunaan energi nuklir antara Indonesia dan Turki mengenai pemenuhan energi di masa yang akan datang. Penggunaan energi nuklir itu dilihat dari aspek SDM, SDA, kebijakan pemerintah Indonesia dan Turki, serta mega proyek tiongkok one belt one road.
Dalam diskusi tersebut, Awalnya, Wahyu mengakui bahwa ada pengoptimalan sesi diskusi dalam kegiatan tersebut. Itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, dia mampu beradaptasi seiring berjalannya waktu.
“Akhirnya saya mengutarakan apa yang ingin disampaikan. Yakni, mengenai pengalaman dan apa yang perlu diubah di UKM Penalaran,” jelasnya.
Dengan kegiatan yang berbasis kepada kepenulisan, lanjut Wahyu, UKM Penalaran tidak hanya berfokus pada kepanitiaan. Kegiatan-kegiatan diskusi seperti Diskusi Penalaran dan penulisan ilmiah juga mesti diperhatikan dengan baik.
“Walau tengah sibuk-sibuknya kepanitiaan, tapi kita juga perlu menyempatkan diri untuk menulis dan berdiskusi. Sebab, kebanyakan ide-ide terlahir ketika kita berdiskusi dan bertemu dengan orang lain,” ungkapnya.
Bagi Wahyu, kepenulisan ilmiah memiliki arti yang khusus. Ilmiah artinya bertanggung jawab untuk kehidupan bersama.
“Menulis ilmiah itu artinya kita bertanggung jawab terhadap ilmu yang kita dapatkan. Misalnya, orang kesehatan, ya bertanggung jawab terhadap problematika yang ada di Indonesia. Ilmu itu harus bermanfaat, tidak hanya menjadi juara,” jelasnya.
Juara itu, tambah dia, adalah bonus. Lebih baik mahasiswa tidak mengutamakan juara, tapi  kebermanfaatan di masyarakat.
Sementara itu, Wahyu berharap mahasiswa tidak terbawa arus kepenulisan yang negatif terhadap kehidupan. Jangan sampai kegiatan menulis itu justru merugikan mahasiswa lain atau masyarakat umum.
”Seperti beberapa tipe mahasiswa yang intinya ingin tenar dari tulisan yang dibuat. Tanpa ada fakta atau biasa disebut hoax,” katanya.
Menyikapi hal itu, Wahyu menyatakan bahwa UKM Penalaran memiliki peran yang konstruktif untuk Indonesia. Yakni, sebagai salah satu wadah mencipta gagasan serta ide untuk membangun negeri.
“Dengan UKM Penalaran, kita membuat batasan-batasan agar karya-karya kepenulisan itu berdampak positif bagi Penalaran, Airlangga, dan Indonesia,” tegas Wahyu. (*)
Penulis: Moh. Alfarizqy
Editor: Feri Fenoria





