Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Bersama Dinkes Surabaya Adakan Pelatihan Kesehatan Jiwa

Pelatihan Kader dan Tenaga Pengelola Kesehatan Jiwa: Mencegah dan Mengatasi Gangguan Bipolar pada Remaja (Foto: Panitia Acara)
Pelatihan Kader dan Tenaga Pengelola Kesehatan Jiwa: Mencegah dan Mengatasi Gangguan Bipolar pada Remaja (Foto: Panitia Acara)

UNAIR NEWS – Dinas Kesehatan Kota Surabaya bersama Universitas Airlangga (UNAIR) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) cabang Surabaya menggelar pelatihan kesehatan jiwa. Pelatihan ini bertajuk Pentingnya Deteksi Dini dan Tata Laksana Gangguan Bipolar pada Remaja. Kegiatan berlangsung di Gedung Arya Satya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, pada Selasa (18/03/2025), dalam rangka memperingati World Bipolar Day.

Terdapat 125 peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan kesehatan jiwa. Mereka terdiri dari tenaga kesehatan, psikolog, perawat, serta kader kesehatan dari berbagai puskesmas di Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan dalam mendeteksi serta menangani gangguan bipolar, khususnya pada remaja.

Dalam sambutannya, perwakilan Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr Novita Dwi, menyampaikan bahwa kasus gangguan bipolar pada remaja terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. “Berdasarkan hasil evaluasi, jumlah kasus bipolar di Surabaya mengalami kenaikan signifikan, dari 113 kasus pada 2022 menjadi 603 kasus di 2023, dan meningkat lagi menjadi 632 kasus pada 2024. Ini menunjukkan perlunya strategi penanganan yang lebih komprehensif,” ujarnya.

Selain itu, stigma negatif terhadap kesehatan mental masih menjadi tantangan utama dalam upaya deteksi dini. Banyak remaja yang datang ke puskesmas dengan keluhan sulit tidur atau mengalami tekanan emosional. Namun, enggan berkonsultasi dengan dokter jiwa karena masih adanya persepsi negatif di masyarakat.

Pelatihan ini juga menghadirkan narasumber dari UNAIR, yakni Dr dr Yunias Setiawati SpKJ Subsp AR (K) FISCM dan Prof Dr dr Margarita M Maramis SpKJ Subsp BP (K) FISCM. Prof Dr dr Margarita memperkenalkan Mood Disorder Questionnaire (MDQ), sebuah alat skrining berbasis kuesioner yang terbukti efektif dalam mendeteksi gangguan mood pada remaja.

Sementara itu, Dr Yunias membawakan materi utama terkait gangguan bipolar pada remaja. “Gangguan bipolar sering muncul pada remaja yang ingin mandiri dari orang tua, tetapi tidak mendapatkan dukungan yang cukup. Akibatnya, mereka mengalami depresi atau gangguan emosi yang berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang serius,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi, para peserta juga mendapat wawasan mengenai pentingnya peran keluarga dalam pencegahan dan penanganan gangguan bipolar. “Keluarga adalah faktor utama dalam mencegah gangguan bipolar. Ketidaktahuan orang tua justru dapat memperburuk kondisi anak dan menghambat proses penyembuhan,” kata Dr. Yunias.

Selain penyuluhan, pelatihan ini juga mencakup sesi simulasi praktik deteksi dini serta diskusi kelompok (focus group discussion). Para peserta dapat memahami bagaimana mengidentifikasi gejala awal gangguan bipolar dan menyalurkan pasien ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Penulis : Samudra Luhur
Editor : Edwin Fatahuddin