Universitas Airlangga Official Website

UNAIR dan Brunel University Perkuat Kolaborasi Atasi Limbah Plastik di Indonesia

Sesi Pemaparan hasil riset sampah plastik di banyuwangi oleh narasumber. (Foto: istimewa)
Sesi Pemaparan hasil riset sampah plastik di banyuwangi oleh narasumber. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Brunel University London sukses menggelar workshop bertajuk Synergistic Relationship between Plastic and Food-Energy-Water (FEW) Nexus pada (24/5/2025) yang dilaksanakan di Hotel Kokoon Banyuwangi. Kegiatan itu merupakan bagian dari program PISCES (Plastic in Society: A Systems Analysis Approach to Reduce Plastic Waste in Indonesian Societies). 

Kegiatan itu, bertujuan untuk memahami dan mengurangi limbah plastik di Indonesia dengan menggunakan pendekatan sistemik. Yakni, meninjau seluruh aspek yang berkaitan dengan plastik, mulai dari produksi, konsumsi, perilaku masyarakat, hingga kebijakan dan pengelolaan limbah secara terpadu.

Workshop itu menghadirkan berbagai narasumber internasional, termasuk Professor Susan Jobling selaku pimpinan program PISCES, Dr. Loula Gerassimidou dan Dr. Eleni Iacovidou dari Brunel University London, serta Paula García Ramos dari Aalborg University. 

Kegiatan itu secara aktif melibatkan berbagai pihak lintas sektor, termasuk akademisi dari Universitas Airlangga (UNAIR) dan Brunel University London, serta sejumlah pemangku kebijakan lokal. Seperti, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pertanian dan Pangan, dan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Tidak hanya itu, pelaku usaha dan komunitas lingkungan lokal juga turut ambil bagian dalam diskusi tersebut untuk mengatasi permasalahan limbah plastik yang semakin kompleks khususnya di Banyuwangi.

Dalam paparannya, Pemimpin program PISCES, Prof Susan Jobling menegaskan pentingnya pendekatan sistemik untuk menyelesaikan masalah plastik secara menyeluruh. “Kami ingin melihat bukan hanya dari sisi limbahnya, tetapi dari hulu ke hilir apa yang kita konsumsi, bagaimana kita mengelola, dan bagaimana masyarakat merespons solusi yang ditawarkan. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga perilaku dan kebijakan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sinergi antara pengetahuan ilmiah dan praktik lokal merupakan kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Ia juga memaparkan hasil studi terkini terkait kondisi limbah plastik di Banyuwangi. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa limbah plastik sekali pakai. Utamanya kantong plastik, masih menjadi kontributor utama dalam timbunan sampah rumah tangga. Tingginya volume limbah disebabkan oleh tingginya konsumsi plastik dalam aktivitas sehari-hari dan masih terbatasnya sistem pengelolaan sampah yang efisien.

Menanggapi temuan itu, sesi diskusi lintas sektor yang difasilitasi dalam workshop menghasilkan sejumlah solusi potensial. Salah satu rekomendasi utama yang mencuat adalah perlunya penggantian kantong plastik konvensional dengan bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Seperti, biodegradable berbasis biomassa dan pati singkong (cassava starch). 

“Selain mudah terurai dan mengurangi beban lingkungan, bahan ini juga bisa dikembangkan dari potensi lokal yang melimpah, seperti singkong. Ini dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal,” terang Dr. Loula Gerassimidou.

Loula berharap kegiatan itu tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga menandai komitmen antara lembaga dalam menciptakan solusi yang berbasis bukti ilmiah dan kolaboratif. Upaya ini, lanjutnya, mampu mendorong transisi menuju sistem pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada potensi serta kearifan lokal di Indonesia.

Penulis: Dheva Yudistira Maulana

Editor: Khefti Al Mawalia