UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Pusat Akselerasi dan Bisnis (PASINBIS) berkolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar seminar bertajuk Hilirisasi Penggerak Ekonomi Baru Kolaborasi Kampus, Pemerintah dan Dunia Usaha pada Jumat (17/10/2025).
Seminar berlangsung di Aula Majapahit, Gedung ASEEC Tower lantai 5, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor Bidang Ekosistem Entrepreneurial dan Pengembangan Bisnis, Prof Dr Koko Srimulyo Drs MSi. Selain itu, turut hadir pula Sekertaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika dan Indra Darmawan selaku Tim Ahli Pelaksana SatGas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional (PHKE).

Pentingnya Terobosan Baru untuk Meningkatkan Output
Dalam sesi keynote speaker, Indra menyampaikan Indonesia perlu terobosan baru untuk keluar dari jebakan masyarakat pendapatan menengah. Indra juga mengungkapkan Indonesia menghadapi stagnansi pertumbuhan ekonomi pada tingkat 5%. Sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Indra menyebut pemerintah perlu fokus mengurangi ekspor bahan mentah dan meningkatkan nilai tambah.
“Pada masa orde baru, porsi sektor manufaktur mencapai 32% namun saat ini hanya 19-19%. Hal ini terlihat pada sektor jasa, seperti booking.com yang membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja jika dibandingkan dengan sektor manufaktur. Dalam 6-7 tahun terakhir, pemerintah telah berhasil meningkatkan ekspor baja sebesar 8,9% hingga nikel dan turunannya sebesar 3%,” ucap Indra

Selain itu, Indra menyoroti keberhasilan produk mie instan Indonesia di pasar dunia. Hal ini kontras dengan industri mebel Indonesia yang belum dapat bersaing di pasar internasional. Fenomena ini menjelaskan kepemilikan sumber daya alam yang melimpah tidak menjamin untuk menjadi pemimpin pasar, strategi yang tepat diperlukan untuk meningkatkan kualitas output.
Urgensi Meningkatkan Investasi dalam Hilirisasi
Lebih lanjut, Indra menyebutkan Indonesia memerlukan investasi untuk meningkatkan nilai tambah. Ia menyebutkan, 25% investasi di Indonesia berasal dari hilirisasi. Namun, terdapat tantangan dalam proses perizinan.
“Tantangannya adalah mempercepat proses perizinan dan menarik investasi, terutama untuk smelter. Meskipun mayoritas pemilik izin smelter adalah lokal, teknologi dan dana untuk smelter sebagian besar berasal dari investor asing, yang memerlukan dukungan perbankan. Semua ini menggambarkan langkah-langkah yang harus kita ambil untuk mencapai hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, output, serta penyerapan tenaga kerja dan perlindungan lingkungan,” papar Indra.
Sekjen ESDM Tegaskan Pentingnya Konsensus dan Infrastruktur untuk Pertumbuhan Ekonomi
Turut hadir, Sekertaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika menegaskan Indonesia membutuhkan kesepakatan dalam pengambilan keputusan. “Problem kita itu bukan ada pada gagasan. Yang jadi masalah adalah konsensus untuk mengambil keputusan, dan dari situ kesinambungan itu dijaga terus-menerus dari waktu ke waktu,” tegas Erani.
Erani juga menyebut infrastruktur sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. “Tanpa infrastruktur, ekonomi tidak bisa berkembang dan semuanya terhambat. Konektivitas antarwilayah dan rantai pasokan akan macet. Biaya ekspor dari Indonesia ke Jepang lebih murah dibandingkan mengirim barang dari Surabaya ke Papua. Karena itu, infrastruktur harus menjadi prioritas,” tutup Erani.
Nama: Kania Khansanadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





