UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan kolaborasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dengan mengusung tema “Menuju Penghapusan Kemiskinan Ekstrem 2024”.
Kegiatan forum akademik tersebut berlangsung pada Rabu (6/9/2023) di Aula Fadjar Notonegoro FEB UNAIR. Dengan dihadiri oleh beberapa speaker penting yang akan membahas mengenai kondisi kemiskinan di Indonesia dan penanggulangannya di tahun 2024.
Dukungan FEB dalam Mewujudkan Point SDG’s
Dekan FEB UNAIR Prof Dr Dian Agustia M Si menyampaikan sambutannya dalam forum tersebut. Prof Dian mengatakan kemiskinan ekstrim adalah suatu permasalahan global yang mendorong penurunan pada suatu negara. Sehingga penting penghapusan kemiskinan ekstrem untuk mendorong percepatan pembangunan.
“UNAIR telah berupaya mendukung program ini, banyak aktivitas yang dilakukan UNAIR salah satunya untuk mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Seluruh aktivitas yang telah terlaksana harapannya jadi diacukan pada point SDG nomor ke-berapa dan harus di statement yang jelas agar melihat bagaimana kontribusi Universitas-nya di tahun 2024,” jelasnya.
Prof Dian juga menyampaikan tidak hanya di bidang ekonomi tapi juga di bidang kesehatan harus memberikan dukungan dan upaya dalam menghapus kemiskinan.Hal ini bisa diterapkan melalui program kegiatan yang dirancang setiap Universitas dalam berkontribusi bagi Indonesia.
“UNAIR telah memberikan kontribusinya bagi Indonesia, salah satunya rumah sakit terapung dari UNAIR di pulau terpencil dengan membantu 88 kelahiran yg membutuhkan operasi di pulau-pulau terpencil. Program ini sangat efektif untuk membantu program pemberantasan kemiskinan ekstrim. 1400 operasi kelahiran bedah di pulau terpencil telah kami wujudkan,” jelasnya.
Hal ini tentunya bukan hanya berkaitan dengan bidang ekonomi, namun juga berkecimpung di bidang kesehatan. FEB telah bekerja sama dengan bappeda Jatim dengan membantu kebijakan penurunan kemiskinan ekstrim di Jatim. Tidak hanya itu, dekan FEB tersebut juga menjelaskan bahwa FEB UNAIR telah memiliki 20 desa binaan sebagai tujuan pengabdian masyarakat. FEB juga memberikan kontribusi melalui penelitian mengenai kemiskinan ekstrem yang telah terpublikasi.
“Pak Jokowi menegaskan bahwa kemiskinan harus dihapuskan di tahun 2024. Namun tantangan untuk menghapuskan kemiskinan ekstrim sangat sulit dilakukan hingga 0%. Namun harapannya dengan kolaborasi yang kita lakukan dapat mencapai penghapusan kemiskinan di tahun 2024,” tutupnya.

Dukungan FEB dalam Mewujudkan Point SDG’s
Selain itu, Andie Megantara Ph D selaku Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia juga memberikan sambutannya dalam pembukaan acara forum tersebut. Andie mengatakan bahwa isu kemiskinan ini sangat jarang dibahas di kampus. Namun agenda hari ini menjadi sangat penting karena membangun pemahaman kampus akan tanggung jawab bersama memberantas kemiskinan.
“Harapannya melalui forum ini dapat menarik juga perhatian mahasiswa untuk mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia. Masalah yang sebenarnya itu- itu aja terus. Maka dari itu forum ini menjadi topik menarik untuk dibahas sehingga dapat meningkatkan ekosistem di Indonesia agar bagaimana caranya kemiskinan di Indonesia tahun 2023 tercapai,” katanya.
Sebenarnya masalah yang sangat penting adalah mengubah mindset warga Indonesia mengenai mental miskin. Faktor mindset dan culture yang diterapkan oleh warga Indonesia jugalah yang menjadi pemicu meningkatnya jumlah kemiskinan.
“Memang PR kita adalah bagaimana mengubah mindset. Dan itulah mengapa kita membutuhkan partisipasi dari semua kalangan. Contohnya di kampus ada KKN yang masuk ke masing-masing desa agar mereka dapat mengubah mental miskin dan mindset-nya,” jelasnya.
Andie juga menjelaskan kurangnya kemampuan pemerintah dalam mengubah mindset dan pola pikir mental miskin. Sehingga Andie juga mengatakan pentingnya peran kampus sebagai wadah yang meneliti dan turun langsung ke setiap warga. Sehingga harapannya juga bisa menghapuskan separuh dari jumlah kemiskinan di Indonesia.
Penulis: Monika Astria Br Gultom
Editor: Feri Fenoria





